USTADZ SUPRIONO HADI, “MENDAPAT AMANAH SEBAGAI AMIR DAULAH ADALAH HAL TERBERAT DALAM HIDUPNYA”

by

Ustadz asli Surabaya yang familiar berbasa Arab ini di usia belia di amanahkan oleh Kholifah menjadi Amir Daulah Sumatra. Yakin bergabung dengan Khilafatul Muslimin setelah melihat secara langsung diskusi Kekhalifahan antara Kholifah, Abu Jibriel dan Ismail Yusanto dalam sebuah acara. Mabit di rumah Kholifah selama tiga malam dan merasa mendapat banyak manfaat membuat pulangnya beliau ke Surabaya segera mencari perwakilan kekhalifahan Islam untuk segera berbai’at.

Merasa sadar akan kelemahan diri membuatnya merasa bahwa amanah menjadi seorang Amir Daulah Sumatra merupakan hal yang terberat di dalam hidupnya. Untuk lebih mengenal sosok Amir Daulah Sumatra ini mari kita simak wawancara singkat redaksi majalah al khilafah sebagai berikut ;

Assalamualaikum ustadz apa khabar, kami dari redaksi majalah al khilafah meminta ustad untuk ta’aruf terlebih dahulu kepada redaksi dari latar belakang keluarga, pendidikan dan juga pengalaman di harakah ustadz !

Waalaikumussalam Wr Wb. Nama ana Supriono Hadi, lahir di Surabaya, 23 Juni 1984, dari satu istri alhamdulillah di karunia anak 6 dan qodarullah semua nya perempuan. Saat ini tinggal di Kampung Khilafah, Lampung Selatan.

Ana sekolah SMPnya di SMP Muhamadiyah Cibabat kemudian melanjutkan ke SMA Pasundan. Untuk pendidikan Perguruan Tingginya, pernah belajar di Universitas Islam Nusantara (Uninus) di Bandung, tapi hanya sebentar karena beda persepsi dengan salah satu dosennya yang ana pelajari lebih kepada Islam Liberal, salah satunya dia mengatakan perintah jilbab itu adalah adat istiadat nya orang Arab dan tidak wajib, sehingga ana putuskan keluar.

Ana pindah ke Perguruan Tinggi D2, Ma’had Al-Imarot Bandung. Di sini ana memperdalam bahasa Arab. Ada juga program Tahfidz Qur’an, tetapi yang lebih di tekankan ke bahasanya. Dosennya dari Madinah, Yaman dan dosen tetapnya Sudan.

Pernah aktif dimana saja ustadz sebelum di Khilafatul Muslimin dalam berorganisasi ?

Ketika masih di SMA ana bergabung dengan NII wilayah Bandung, sebagai anggota aktif, pimpinanya dulu kang Dede Rosyadi atau Harun Ar Rosyid. Aktif di keorganisasian Mahasiswa di Uninus dan juga di Ma’had Al Imarot. Untuk pengalaman berorganisasi sebelum mengenal Khilafatul Muslimin hanya itu, karena setelah lulus kuliah ana sudah kenal Khilafatul Muslimin dari Ustadz Abu Mahmud.

Bagaimana kisahnya antum bisa sampai ke dalam perjuangan Iqomatuddien dengan sistem Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ustadz?

Pertama yang di dakwahi oleh da’i dari Khilafatul Muslimin, Ustadz Abu Mahmud itu orang tua ana. Namun kami belum juga bisa menerima Khilafah sehingga di arahkan oleh Ustadz Abu Mahmud ke kantor pusat Khilafatul Muslimin di Bandar Lampung tahun 2004.

Ana berangkat dengan pak Abdul Ghofar, pas di lampung itu sedang berlangsung acara Sosialisasi Kekhalifahan Islam di mesjid At Taqwa, Tanjung Karang, Lampung dan ana secara langsung bisa mengikuti. Terjadi dialog terbuka, pembicara dari Khilafatul Muslimin itu Ustadz Mustofa Jaelani masih sebagai mas’ul Ummah Gudang Agen, Abu Muhammad Jibriel dari MMI dan Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir.

Dan yang masih ana ingat sampai hari ini di acara itu, Ust. Abu Jibriel berbicara di depan umum sambil menunjuk Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ (Kholifah, red) bahwa Ustadz ini yang mengangkat dirinya sebagai Kholifah, dan Kholifah hanya diam saja. Selesai acara ana naik mobil bersama Kholifah menuju rumahnya dan yang lain di undang untuk silaturahim juga ke rumah Kholifah. Ana sempat tanya ke beliau, “Kenapa sewaktu Ust. Abu Jibriel mengatakan seperti itu, Ustadz diam saja tidak di jawab yang sebenarnya?”, kata beliau, “Ooo tidak, kita tidak akan menjawab di depan umum yang menimbulkan perdebatan”.

Abu Jibriel hadir silaturahim di rumah Kholifah, ada Ust. Mukhlinsyah juga ketika itu, tetapi Ismail Yusanto tidak hadir karena ada halangan. Ana melihat dari sisi Kholifah yang luar biasa, beliau tidak langsung menjawab di depan umum yang akan menjatuhkan orang lain. Bahkan ketika sedang silaturahim di rumahnya juga belum di jawab, ketika Abu Jibril pamitan pulang umi (istri Kholifah) memanggil Abu Jibriel, kata Kholifah ada sup Kurma yang di tawarkan, sehingga Abu Jibriel di minta balik lagi. Nah di momen inilah Kholifah bicara, “Sebenarnya yang menunjuk saya untuk menjadi Kholifah ya ini orangnya (sambil menunjuk ke Ust. Abu jibriel)”. Ustadz Abu Jibriel terdiam dan Sorban yang di pakai Abu Jibriel itu di turunkan di simpan di samping lututnya.

Selama hampir dua hari tiga malam ana menginap di rumah Kholifah dan berdiskusi langsung dengan beliau tanpa sekat, sampai ana berfikir kok bisa ana langsung bertatap muka dengan seorang pemimpin dan materi yang di diskusikan tidak ana dapatkan di harakah sebelumnya. Dan beliau tidurnya bersama kita-kita di ruang tamu, ana masih nyenyak tidur beliau sudah bangun sholat malam. Spulang dari Lampung ana langsung menemui Ustadz Aminuddin dan mantab menyatakan diri bergabung dengan shaf Kekhalifahan dengan mngikrarkan bai’at.

Point apa yang membuat ustadz yakin bahwa Khilafatul Muslimin yang telah dimaklumatkan ini adalah sesuatu yang benar dan antum bergabung dengannya ?

Salah satu yang paling mencolok dari harokah sebelumnya bahwa kita tidak bisa bertemu dengan pimpinan, beda ketika di Khilafatul Muslimin bisa bertemu secara langsung dengan Kholifah, bahkan beliau bilang, “Dulu waktu di zaman Rasulullah apa ada skat antara ummat dengan pemimpinnya?”. Kemudian yang paling ana ingat lagi perkataan Kholifah, bahwa, “Apabila ajaran Islam ini tidak di laksanakan secara berjama’ah yang di contohkan oleh Nabi dan para sahabat (Khilafah), maka ajaran ini akan rusak”, hal ini yang menjadi dasar pemikiran ana dan secara logis dan akal sehat membenarkannya.

Saya punya banyak teman yang hafidz Qur’an, belajar di Timur Tengah dengan segudang gelar tetapi ketika pulang mereka kok tidak kepikiran menegakkan Khilafah, ana semakin yakin dengan perjuangan Khilafatul Muslimin ini dan alhamdulillah ana sekarang sudah menjadi bagiannya. Dan ayat Qur’an Surat Asy Syuro (42) ayat 13 jangan sampai kita termasuk orang musyrik yang tidak mau bersatu dan menegakkan Dienullah.

Sejak bergabung dengan Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini bisa kisahkan kiprah ustadz hingga saat ini ?

Awalan ana menjadi Qismul Baitul Maal di Surabaya. Kemudian sebelum menikah ana mengajar di SMA Trikarya Surabaya, kemudian ana ke Sumbawa dan menikah, kemudian ana putuskan untuk hijrah ke Sumbawa, di sana setelah sounding dengan Ust. Zulkifli Rahman (Amir Daulah Khilafatul Muslimin, red) katanya mau mendirikan pondok, maka di Taliwang kita merintis PPUI, dua tahun merintis ana di angkat menjadi Wazir Daulah Indonesia sebagai Wazir Tarbiyah wa Taklim (TWT). Ketika menjadi TWT ana sempat menerbitkan buletin Jum’at hingga 60 edisi.

Ketika di Mapin di bangun PPUI dan Al Jami’ah ana di tunjuk menjadi Murobbi, selang beberapa tahun ana di tugaskan di PPUI Margodadi, Lampung, juga sebagai murobbi. Setelah itu ana ingin aktif di strukttural (di luar pendidikan) sebagai kaatib wilayah Bandar Lampung, ketika terbentuk Daulah Sumatra ana di tunjuk sebagai Kaatib oleh Amir Daulah, Ustadz Zainul Arifin.

Dan terakhir dengan berat hati, sadar akan kelemahan diri, Kholifah melimpahkan jabatan Amir Daulah Sumatra ke ana karena di anggap memenuhi kriteria bisa berbahasa Arab aktif sebagai syarat dan ketentuan dari pusat Kekhalifahan Islam menggantikan Ustadz Zainul Arifin. Setelah sebelumnya Amir Daulah, Ust. Zainul Arifin di tes di ajak berdialog berbahasa Arab oleh Kholifah. Inilah momen yang terberat dalam hidup ana, ana gemetar hingga acara selsai membayangkan betapa beratnya amanah ini. Mohon do’anya semoga Allah pandaikan dan Allah mampukan.

Terakhir ustadz apa harapan ustadz ke depan khususnya kepada warga yang sudah bergabung dengan Kekhalifahan ini dan kepada masyarakat muslim pada umumnya ?

Untuk sahabat warga Khilafatul Muslimin ana berpesan agar memperkuat ukhuwah diantara kita dan meningkatkan ketaatan keepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri dalam hal ini Kholifah / Amirul Mukminin, karena tantangan kita ke depan semakin berat. Telah tampak musuh-musuh Allah secara terang-terangan tidak suka dengan Khilafah dan Syari’at.

Kepada seluruh kaum muslimin ana berharap bahwa kita harus sadar bahwa Kekhalifahan Islam ini adalah satu-satunya sistem Islam yang kita wajib berada di dalamnya, sama-sama berjuang agar syari’at Allah ini bisa tegak secara kaffah (paripurna) sehingga Izzatul Islam wal muslimin segera kita rasakan, menunda bersatu dan iqomatuddien berarti menunda turunnya rahmat Allah dan membiarkan kaum muslimin yang terdzalimi menderita. Wallahu a’lam.

Baik ustadz, Jazakumullah Khairan Katsira atas waktu dan kesempatan nya semoga apa yang disampaikan dapat sama-sama kita ambil ibrohnya untuk kemajuan dan kejayaan Islam ke depan, aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *