USTADZ JAMALUDDIN, PENERIMA AMANAH LANGSUNG UNTUK SEBAR MAKLUMAT KHILAFAH PERTAMA DI NTB

by -0 views

Ustadz kelahiran Purwakarta sekitar 47 tahun silam, pernah menjadi ketua team keamanan Ust. Abu Bakar Ba’asyir pada saat Kongres Majelis Mujahidin ini memiliki kisah unik ketika Allah membimbingnya dalam mencari kebenaran.

            Tahun 1999 M bergaul dengan ikhwan militan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai kemudian bertemu dengan Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ di penjara Kalisosok. Mendapat amanah pertama bersama Ustadz Zulkifli Rahman untuk menebar maklumat Kekhalifahan di daerah NTB, yang selanjutnya menjadi cikal bakal perkembangan Kekhalifahan di Indonesia. Berikut kita simak kisah selengkapnya dalam wawancara redaksi.

Assalamualaikum ustadz apa khabar, kami dari redaksi majalah al khilafah meminta ustadz untuk memperkenalkan diri, dari latar belakang keluarga dan pendidikan ustadz!

            Khabar ana alhamdulillah sehat, langsung saja nama ana Ahmad Jamaluddin pemberian orang tua. Kelahiran Purwakarta, 20 Oktober 1970. Anak ana 7. Istri ana dua, yang kedua mantan istri Ustadz Abdul Fatah Wiranagapati (petinggi NII di Jawa Barat). Ana termasuk yang mengagumi Ustadz Wiranagapati.

            Untuk pendidikan sampai SLTA, sementara untuk keilmuan Dien ana dulunya kental dengan pendidikan Islam Nahdiyin. Kemudian ana tertarik dengan harakah, kebetulan ketika itu ana ketemu dengan harakah NII KW9, dan ana memperdalam Islam di sana dan berorganisasi. Sempat diangkat sebagai Mudabbir untuk kawasan Bekasi.

            Bagaimana kisahnya antum bisa sampai ke dalam perjuangan Iqomatuddien dengan sistem Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ustadz?

            Qodarullah, ana seperti dijauhkan dari jama’ah ini (NII KW9-red), karena rumiyyah infaq (target infaq) tidak tercapai sehingga banyak hutang. Untuk membayar Hutang menyebabkan ana harus mencari penghasilan lebih. Kemudian ana hijrah sementara ke Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerja di salah satu perusahaan tambang di sana. Karena yang bekerja di sana mayoritas muslim terkadang perusahaan suka mengundang ustadz untuk siraman rohani. Suatu ketika, ada seorang ustadz namanya Ustadz Yusuf dari Taliwang menyampaikan materi mengangkat QS. Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 (kewajiban melaksanakan hukum Allah). Ana sangat tertarik, karena di jama’ah yang dulu juga misinya adalah iqomatuddien, maka ana mencari Ustadz Yusuf tersebut.

            Setelah ana ceritakan kisah ana maka Ustadz Yusuf mengarahkan ana ke Ust. Zulkifli Rahman (Amir Daulah sekarang, red), sekitar tahun 1999 M, saat itu beliau masih NII yang sudah tidak solid. Setelah ketemu dan ana menceritakan hal ihwal ana, maka beliau menerima ana dan mengatakan sudah kita sama-sama bergabung di sini saja sama-sama belajar dalam iqomatuddien.

            Ketika masih di NII itu ana diajak mengikuti acara I’dad (latihan Perang) di daerah Kalong, NTB. Suasananya di pinggir laut dengan bukit-bukit. Disana ana bertemu dengan Ustadz Ahmad Husen,
Ustadz Zaenal Arifin, Ustadz Ikhwanuddin, Ustadz Rusli, dan Ustadz Bashir Sinene. Sebagai pembimbingnya Ustadz Zulkifli ketika itu. Disanalah ana dikisahkan tentang Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’. Dan ana terpanggil untuk bisa ketemu dengan beliau, kebetulan masih “di dalam”, Kalisosok.

            Sementara ana masih bekerja di salahsatu perusahaan tambang tetapi ana sudah terpanggil untuk “Jihad” ini. Sehingga ana sudah tidak perduli dengan pekerjaan. Ana bersama Ustadz Zulkifli datang ke Kalisosok, Surabaya untuk menemui Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’. Sampai di lokasi ana disuruh sendiri sama Ustadz Zulkifli dalam kondisi ana belum pernah bertatap muka dengan beliau. Hingga beberapa lama ana menunggu datang seseorang dengan baju putih, peci hitam wajahnya bersih dan bersinar, ana langsung seperti kontak batin dengan beliau. Ana nunjuk beliau dan beliau pun nunjuk ana dan itu ternyata Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’, alhamdulillah akhirnya ketemu.

            Setelah kita sudah kumpul bertiga dengan Ustadz Zul beliau berpesan, “Ini tolong maklumat agar sampaikan dan umumkan di luar kepada ummat Islam”. Jadi yang pertama kali menerima Maklumat yang ditulis tangan secara langsung oleh Khalifah adalah Ana bersama Ustadz Zulkifli ketika itu untuk disebarkan dan diumumkan kepada kaum muslimin di NTB. Sementara Ustadz Zulkifli sendiri sudah dikenal sebagai da’i di NTB karena dakwahnya mengajak kepada Tauhid.

            Maka ketika ada jadwal pengajiannya Ustadz Zulkifli di Kampung Arab langsung beliau bacakan maklumat yang dibuat Ustadz Qadir Hasan Baraja’ kepada ikhwan-ikhwan yang hadir pada taklim malam itu. Maka banyak ikhwan yang mendaftar diantaranya Ustadz Zulkifli sendiri, ana, Ami Bashir dan lain-lain untuk dibentuk sebuah struktural. Intinya menyebarkan sistem Khilafah dan agar ummat Islam segera mendaftar.

            Maka struktur yang terbentuk ini bertanggung jawab menyebarkan maklumat yang diamanahkan. Maka ana bersama Ustadz Zul dan struktural yang terbentuk menyebarkannya sampai ke daerah Bima. Sehingga banyak juga yang bergabung dan merupakan cikal bakal terbentuknya Kekhalifahan Islam di NTB. Maka terbentuknya struktural sudah disebut Kemas’ulan-kemas’ulan. Ini masih tahun 1999 M. Ana kemudian pamit pulang ke Purwakarta, walaupun dilarang sama Ustadz Zul karena khawatir di Jawa belum ada jama’ah.

            Sampai di Jawa ana masih mencari ikhwan di KW9 untuk menepati janji ana, namun tidak ada satupun yang berhasil ana temui. Kala itu ana bermimpi malamnya, ada jembatan yang sangat lurus, namun patah dan roboh, ana melihat sahabat-sahabat ana ikut jatuh. “Jembatan ini sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki, kecuali untuk sampai ke tujuan, kamu harus muter dulu”. Maka ana tamsilkan ke NTB adalah wasilah ana muter untuk menemukan kebenaran, insya Allah.

            Singkat cerita sampailah kepada Kongres Mujahidin tahun 2000 di Jogjakarta. Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ sudah bebas dan ana baru tahu ternyata beliaulah yang mengagas terjadinya Kongres dengan meminta Ustadz Irfan S. Awwas sebagai pelaksana. Di situ ada Ustadz Zulkifli Rahman juga, ada ikhwan-ikhwan yang ana kenal di NTB, juga ada Ustadz Mukhliansyah. Khalifah membacakan maklumat, dari sini terbagi menjadi tiga kubu, yang pertama yang mengklaim bahwa sudah ada, itu dari Jama’atul Muslimin. Kubu yang kedua yang membentuk MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) dan kubu nya Ustadz Abdul Qadir Baraja’. 

            Setelah Kongres itu ana belum faham tentang Khilafatul Muslimin. Yang ana tahu adalah semua perjuangan menuju tegaknya Syari’at. Bahkan ketika itu ana secara langsung dititipkan oleh Ustadz Abdul Qadir ke pak Oni di Tasikmalaya karena di Jawa Barat belum ada struktur. Ternyata pak Oni aktifnya di MMI, maka ana aktif sekitar tiga tahun lamanya di MMI, dan ana jadi team pengamanan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bersama ikhwan-ikwan lainnya di Purwakarta, bahkan ana sebagai ketua pengamanan Ustadz Abu.

            Singkat cerita Khalifah bersama Buya Majelis silaturahim ke rumah ana, dan ana baru tahu ternyata Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ adalah di Khilafatul Muslimin. Maka ana bersama ikhwan di Purwakarta, diantaranya Irwan Hidayat, Yusuf Spd., Daarul Falah, pak Ahmad sengaja datang ke Lampung untuk klarifikasi. Akhirnya alhamdulillah kami berbai’at kembali (tajdid bai’ah) dan langsung dibentuk struktur Kekhalifahan Kemas’ulan Purwakarta dengan mas’ul pertama Ustadz Irwan Hidayat.

            Setelah di Khilafatul Muslimin bagaimana kiprah antum dan pernah menjabat sebagai apa saja ustadz?

            Kemas’ulan Purwakarta terus berkembang sampai digabungkan dengan wilayah koordinator Jakarta, kemudian mekar menjadi beberapa wilayah. Ini Cikal bakal perkembangan Khilafatul Muslimin di pulau Jawa. Selama di Khilafatul Muslimin pernah menjabat sebagai mas’ul Ummah, Amir Ummil Quro dan Amir Wilayah, tetapi saat ini ana sebagai Qismut Tarbiyah wa Taklim wilayah Karawang, alhamdulillah.

            Terakhir ustadz apa harapan ustadz kedepan khususnya kepada warga yang sudah bergabung dengan Kekhalifahan ini dan kepada masyarakat muslim pada umumnya?

            Ana merasa bahwa acara Syi’ar Kekhalifahan Islam Dunia di Jakarta tahun 1440 H adalah momen akbar, akan terjadi sejarah besar. Maka kita sebagai warga Khilafah kalau tidak sungguh-sungguh dalam menghadapi moment besar ini sungguh sangat rugi sekali dan moment ini tidak akan bisa berulang hingga futuh, insya Allah.

            Kepada seluruh ummat Islam, kalau saja orang Yahudi saja tahu bahwa Khilafah adalah sistem kepemimpinan Islam dan mereka punya prediksi tahun 2024 ini akan bangkit, maka kalau kita ummat Islam tidak mengetahuinya maka kita termasuk orang yang ketinggalan atau bisa dibilang lalai. Dan ana berharap moment “212” adalah irama sampai terbentuknya kepemimpinan yang satu yang diakui oleh seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam.

            Baik ustadz, Jazakumullah Khairan Katsira atas waktu dan kesempatan nya semoga apa yang disampaikan dapat sama-sama kita ambil ibrohnya untuk kemajuan dan kejayaan Islam ke depan, aamiin.