MUTIARA NASEHAT LUQMAN

by -0 views

oleh : Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb

Mutiara Nasehat Lukman - ayat

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasihat kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Allah berfirman) dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.  (QS. Luqman (31) : 12-19).

            Pada dasarnya untaian mutiara Lukman sang Bijak ini terdiri atas sepuluh poin pokok dalam pembinaan aqidah sejak dini. Yaitu terdiri dari tiga larangan, enam perintah dan satu poin lagi yang bukan perintah dan bukan larangan, melainkan pernyataan atau statement.

            Allah SWT telah mendatangkan hikmah kepadanya, yaitu kondisi yang bijak untuk dapat menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya, berbicara seperlunya, berbuat sesuai kepentingannya, dan bersikap seadanya, sama saja apa yang zahir dan apa yang tidak nampak darinya. Selaras antara perkataan dan perbuatan. Dan puncak dari kondisi bijak itu adalah memahami bahwa itu semua adalah karunia Allah SWT yang perlu disyukuri. Bahwa Allah yang Maha Adil dan Bijaksana, ketika memberi kekurangan pada fisiknya, Allah SWT memberi kelebihan pada sisi lain. Bahwa semakin besar kekurangannya, semakin besar pula kelebihannya.

            Nasihat pertama Luqman, dimulai dari kata “jangan”. Nasihat seorang hamba yang bukan nabi ini telah dinukil Allah SWT dalam al Qur’an, artinya telah mendapat pengakuan Allah atas keabsahannya.        Dimulai dengan kalimat “Jangan musyrik”. Ini selaras dengan tabiat dasar manusia yang selalu ingin melakukan sesuatu, selalu aktif dan agresif, selalu penasaran. Maka jika ingin membentuk karakter pribadi generasi yang tetap berada diatas fitrah, agar tidak melenceng darinya, bukan berarti menghindari kata “jangan”, melainkan harus dimulai dengan kata ini. Namun sebagai catatan, kata “jangan” ini hanya digunakan untuk hal yang penting dan prinsip, bukan sembarangan. Jika kita cermati sebenarnya Luqman bisa saja menghindari kata “jangan musyrik”, dengan menggantinya dengan kata “bertauhidlah”, akan tetapi Luqman sang Bijak sungguh telah memilih kata kata yang tepat dari hasil renungan yang panjang dan dalam, hingga kita dapat melihat, dalam keseluruhan untaian nasihatnya, Luqman hanya menggunakan tiga kata “jangan” dan enam kalimat perintah. Dua kali lipat antara perintah dan larangan.

            Pokok bahasan pertamanya adalah aqidah yang merupakan pondasi pada pembentukan generasi penerus yang solid dan bertauhid, seakan Luqman ingin menyampaikan bahwa sehebat apapun bentuk pendidikan itu, jika tidak bersih dari syirik, maka berarti sudah salah dalam membangun pondasi. Bahwa sesungguhnya ia telah dzhalim dalam menanamkan pondasi pendidikan, karena sesunggunya kemusyrikan itu adalah suatu kedzhaliman yang besar (Luqman 13 ).

            Selanjutnya Allah SWT menambahkan poin penting diantara untaian nasihat ini, “dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya…..” (Luqman 14-15). Dua ayat ini bukanlah termasuk nasihat Luqman, akan tetapi perintah Allah SWT tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan pernyataan Allah SWT akan besarnya pengorbanan orang tua yang patut disyukuri, namun tidak mentolelir kemusyrikan. Artinya, betapapun besar jasa mereka, jika mereka memaksa kepada kemusyrikan, tidak perlu ditaati, namun mereka tetap mempunyai hak untuk kita tetap berbakti dalam urusan yang wajar.

            Nasihat selanjutnya adalah, bukan berupa perintah dan bukan pula larangan, melainkan pernyataan yang mengingatkan akan sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya. Inilah yang disebut “maw’izhoh” (nasihat). Berbeda dengan  “ta’lim” (mengajar), yaitu memberitahu akan sesuatu yang baru, yang sebelumnya belum diketahui. Pada pokok bahasan ini kita diingatkan bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah, apapun itu, Allah SWT pasti tahu. “….Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”.  Sebenarnya kita semua sudah tahu akan hal itu, tapi sering lalai darinya.

            Selanjutnya adalah rentetan perintah yang terdiri dari hablum minallah dan hablum minannas. Perintah shalat dan amar makruf-nahi mungkar, serta perintah sabar yang semuanya merupakan perintah Allah SWT juga yang sudah diketahui, hanya saja diingatkan karena adakalanya kita sering lalai akan hal itu. (Luqman 17).

            Pokok bahasan selanjutnya adalah tentang adab (Luqman 18-19). Poin ini memang bukan perintah langsung dari Allah SWT, akan tetapi ia adalah intisari yang telah dirangkum oleh Luqman. Tiga poin ini, yang pertama berhubungan dengan hati dan jiwa, agar kita menata hati untuk tidak angkuh dan sombong, yang kedua berhubungan dengan gerak gerik, yaitu ” dan sederhanalah kamu dalam berjalan”… dan yang ketiga berhubungan dengan lisan, lebih spesifik lagi yaitu suara yang keluar dari lisan, agar semuanya tertata rapi, menjadi pribadi yang punya jatidiri yang baik.

            Semoga kita termasuk orang yang dapat mengambil hikmah dari untaian mutiara nasihat Luqman ini, menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan tahu berterima kasih, tidak musyrik dan tidak dzalim, senantiasa dekat dengan Allah SWT, tetap menegakkan shalat, amar makruf-nahi mungkar, sabar dan berakhlaq mulia. Semoga dengannya kita dapat meraih keridhaan Allah SWT dan Surga. Aamiin…!