SUCIKAN PERJUANGAN DARI SEGALA PENYIMPANGAN

by -769 views

Alhamdulillah, bahwa atas petunjuk-Nya kita memahami makna dan tujuan hidup yang sebenarnya melalui contoh utusan-Nya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Dengan mematuhi ajaran Allah dan Rasul-Nya itulah segala kegiatan hidup kita bernilai ibadah sebagai satu-satunya tujuan hidup manusia dan bahkan jin sekalipun.

 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”, (QS. Adz Dzariyat (51) : 56.

Maka pedoman hidup kita sebagai orang-orang yang beriman adalah Islam demi kebahagiaan hidup dan kesejahteraan manusia dari dunia sampai akhirat.

Tanpa berpedomankan ajaran Allah dan Rasul-Nya (Islam) maka segala kegiatan hidup tidak bernilai ibadah walaupun kegiatan dimaksud baik dan bermanfaat bagi kehidupan, karena setiap amal hanyalah berdasarkan niat “Innamal a’malu bin niyat”, sesungguhnya semua amal itu hanya berdasarkan niatnya.

Jika seorang berbuat sesuatu (beramal) berharap ridho (balasan) Allah saja; maka kegiatan yang dimaksud itu bernilai ibadah, dan bila perbuatan dimaksud bertujuan (berniat) demi keberhasilan dunia semata maka batallah nilai ibadahnya walau sholat sekalipun jika niat (tujuannya) demi keberhasilan/keberuntungan dunia, maka ancaman Neraka Wail (Fawailul lil Mushollin).

Oleh karenanya segala perjuangan hidup orang-orang beriman dalam bentuk apapun wajib ditekadkan untuk mendapatkan (balasan) Allah semata sebagai niat (tujuannya) agar bernilai ibadah yang benar dan di dalam beribadah kita bebas berdo’a (berharap) kesuksesan duniawi sebagai harapan yang kita inginkan berupa do’a untuk mendapatkan dunia sepanjang rasional. Do’a dalam segala kegiatan bukan merupakan tujuan (niat) dalam beribadah; dengan harapan semoga dikabulkan Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Do’a dalam segala kegiatan adalah harapan yang diharapkan kabulnya sepanjang do’a dimaksud rasional.

Sekiranya ada seseorang yang berbuat sesuatu kebaikan sesuai dengan ajaran Islam / tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya bila niatnya kepada kesuksesan duniawi semata maka tidak mendapatkan pahala apalagi perbuatan itu melanggar ajaran Allah dan Rasul-Nya maka diancam Neraka Jahannam. Karena itulah manusia yang beriman dimanapun berada bebas membuat aturan-aturan dan langkah-langkah berdasarkan akal sehatnya sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber Hukum / Undang-Undang yang tak terbantahkan.

Maka hanya dengan menjadikan ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) sebagai sumber segala peraturan, baru mungkin kehidupan ummat mendapatkan kesejahteraan / kenikmatan lahir batin dari dunia sampai akhirat. Maka Sistem Demokrasi dan Hak Asasi Manusia karena bersumberkan akal pikiran para Cendikiawan, maka mustahil tercapai kesejahteraan lahir batin kecuali hanya akan berakibatkan kerusakan di muka bumi ini.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Telah nampak kerusakan (al fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, (QS. Ar Rum (30) : 41).

Sesungguhnya pembuktian taat dan patuh / tunduk kepada sesuatu apapun bila bertentangan / tidak bersumberkan Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti menuhankan sesuatu itu selain Allah. Oleh karena itu wahai orang-orang yang beriman berjuanglah dan berkreatiflah dalam segala hal bersumberkan ajaran Allah dan Rasul-Nya dan jangan sampai dikotori oleh pendapat-pendapat yang tidak bersumberkan ajaran Islam / hanya bersumberkan akal pikiran manusia semata yang didominasi oleh keinginan nafsu sehingga bernilai suatu bentuk kemusyrikan.

MAKA SUCIKANLAH PERJUANGAN ANDA DARI SEGALA PENYIMPANGAN DENGAN NIAT YANG BENAR DEMI MENDAPATKAN KEBERKAHAN DARI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALAA; MAKA HIDUPLAH SEBAGAI HAMBA-HAMBANYA YANG DIRIDHOI DUNIA AKHIRAT.

No More Posts Available.

No more pages to load.