SISTEM PENDIDIKAN SESUAI SYARI’AH

by -0 views

Oleh : Ust. Hadi Salam

          Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam upaya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, pendidikan berusaha keras demi mencapai tujuan yang diharapkan tidak lain adalah mengharapkan munculnya manusia atau tumbuhnya manusia yang mapan dari segi mental dan spiritual dan berkembangnya segi rohani serta jasmani sehingga menjadi manusia paripurna.

            Pendidikan Islam adalah pendidikan yang Islami, artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan faktor, upaya dan kegiatan pendidikan bersifat Islam, merujuk kepada konsep-konsep yang terkandung dalam ayat-ayat Allah SWT yang tertulis maupun yang tidak tertulis pada setiap tingkatannya, baik filosofis, konsep, teoritis maupun praktis.

            Dalam aktivitas Pendidikan Islam yang baik, penyusunan konsep teoritis maupun dalam pelaksanaan operasionalnya harus memiliki dasar kokoh berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Hal ini dimaksudkan agar yang terlingkupi dalam pendidikan Islam mempunyai keteguhan dan keyakinan yang tegas sehingga prakteknya tidak kehilangan arah dan mudah dalam menanamkan visi dan misinya. Pendidikan Islam merupakan media  untuk mempengaruhi orang lain ke arah kebaikan agar dapat hidup lebih baik sesuai ajaran Islam dan mentaati semua yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT, dengan kesadaran insani yang tertanam kuat dengan aspek keilmuan, sehingga hasilnya bukan sekedar taat buta, tapi penghambaan yang berdasarkan keilmuan, semua yang dilakukan  dalam ruang lingkup peraturan Allah SWT, sehingga dasar dari pendidikan Islam itu sendiri  tiada lain ialah sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan As Sunnah. Ada 3 unsur yang sangat berperan dalam pendidikan, yaitu: orang tua, ulil amri (struktural jama’ah) dan individu anak didik sendiri.

PERANAN ORANG TUA

            Allah SWT berfirman,

ayat 1

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).

            Rasulullah SAW bersabda,

Hadits

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir).

            Dari keterangan diatas, sangat jelas bahwa orang tua mempunyai peranan penting dalam mendidik seorang anak. Dasar Tauhid sudah harus ditanamkan sejak dini dalam diri seorang anak. Orang tua wajib memberi pemahaman tentang syirik, sehingga sang anak dapat menghindari perbuatan syirik. Mulai dari syirik rububiyah (konstitusi), syirik mulkiyah (institusi) dan syirik uluhiyah (substansi).

            Orang tua harus mengajarkan kepada anaknya, bahwa konstitusi yang haq adalah Al Quran dan As Sunnah. Institusi yang haq adalah sistem Nubuwah /Kekhalifahan dan substansi /inti dari tauhid adalah pengabdian /ibadah, yaitu mewujudkan ketaatan sepenuhnya kepada Allah, Rasul dan Ulil amri. Inilah peran dari orang tua.

PERAN ULIL AMRI

            Allah SWT berfirman

ayat 2“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa’ : 9).

ayat 3

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)”. (QS. An-Nisa : 83).

            Dari ayat diatas, Ulil amri bertanggung jawab menyiapkan konsep dan lembaga yang menjadi rujukan kebenaran, sehingga kesinambungan pelanjut al-haq tetap terjamin. Lembaga pendidikan tersebut haruslah bisa dirasakan oleh seluruh ummat Islam. Sehingga Ulil Amri wajib menyediakan lembaga pendidikan yang gratis, tempat mendidik generasi pelanjut dalam rangka Iqomatuddin.

PERAN INDIVIDU

            Peran yang paling menentukan adalah dari pribadi anak didik sendiri. Orang tua dan Ulil Amri harus memberi motivasi kepada anak didik untuk mempelajari ilmu, khususnya Al Quran dan As Sunnah. Bagaimana anak merasa senang dan nyaman belajar di lembaga yang disediakan. Juga terpacu untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.

            Allah SWT berfirman,

ayat 4

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al-Isra’ : 36). Wallahu a’lam