SATUKAN JALAN PERJUANGAN MENUJU KEMENANGAN

by -364 views

Tubagus Herzamli

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir), agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim”. (QS. Ali Imran (3) : 140).

Sesungguhnya kemenangan itu hak Allah dan tidak ada campur tangan manusia sdikitpun. Yang Allah pertanyakan adalah sejauh mana usaha (ikhtiar) kita dalam menegakkan dien (Iqomatuddien) ini sesuai dengan jalan Allah atau tidak. Seberapa besar pengorbanan yang sudah kita berikan untuk Dien ini, inilah yang Allah nilai dan akan di mintai pertanggung jawaban, bukan menang atau kalah. Walaupun kalah sekalipun tetapi kita berjuang menegakan dien (Iqomatuddien) dengan cara yag benar secara maksimal dengan harta dan nyawa, maka inilah yang akan bernilai di sisi Allah.

Allah subahanahu wata’ala tegaskan dalam firman-Nya, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah (9) : 105).

Benarlah Khalifah syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ mengatakan, “Bersatu dalam menegakkan dien (Iqomatuddien) adalah kewajiban yang harus di realisasikan (di wujudkan) tidak boleh hanya sekedar di cita-citakan”. Dalam perkataan yang lain beliau menyampaikan, “Bicara mengenai syarat bagi Khilafah, syarat apapun tidak dapat di bandingkan dengan nilai kewajiban, maka tidak boleh alasan kekurangan syarat menghalangi pelaksanaan kewajiban”.

Maka Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) sudah memulai kerja nyata sejak di maklumatkan terbentuknya Kekhalifahan belasan tahun silam, syarat apapun tidak boleh menghalangi kewajiban bersatu dalam Kekhalifahan. Ini adalah prinsip yang harus di pegang bagi para pejuang.

 BERJUANG CUKUP ITIBA’ TIDAK PERLU IMPROVISASI

Sebagaimana Allah tegaskan, “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (itiba’) aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran (3) : 31). Di kuatkan oleh hadits Rasulullah, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnyaa dari kami (Rasulullah), maka ia tertolak”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Maka perintah bersatu dan berkepemimpinan dalam menegakkan dienul Islam  (Iqomatuddien) dalam banyak ayat Nya pasti sudah Allah kasih tau caranya melalui kekasihNya yaitu Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam. Rasulullah bersabda, “Dulu Bani Israel di pimpin oleh para nabi, setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku, yang akan ada adalah para khalifah …”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah). Periksa juga QS. Al Baqarah ayat 30, QS. Shad ayat 26.

Tetapi kenapa dewasa ini sejak runtuhnya Kekhalifahan Islam tahun 1924 banyak ulama justru membuat – buat cara baru sesuai dengan jalan pemikirannya sehingga terjadilah jama’ah-jama’ah yang di buat oleh orang Islam atau di kenal Jama’ah minal muslimin yang justru menghancurkan Islam dalam perpecahan yang hebat hingga berkeping-keping. Padahal Allah tegaskan, “… Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah dien (agama) mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum : 31-32).

Maka tepatlah prediksi Rasulullah dalam haditsnya, “Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533). Dalam penjelasannya generasi yang di maksud adalah generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan berikutnya di katakan tidak ada kebaikan sama sekali manakala orang tidak berpegang teguh kepada tiga generasi ini setelah mereka berpegang pada Al Qur’an dan hadits walau titel mereka adalah ulama. Dan fakta sejarah tiga generasi ini mereka semua berada di dalam sistem Kekhalifahan Islam.

Maka ketika dalil Qur’an dan hadits, serta perbuatan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in ini menunjukan wadah bersatu ummat Islam setelah kenabian adalah Kekhalifahan namun ada yang bertitel ulama mengingkarinya, maka apakah pantas ulama ini di ikuti ?

BERJUANG DENGAN MENCAMPURADUKAN HAQ DAN BATHIL ADALAH KESALAHAN FATAL

Allah tegaskan di dalam ayat Nya, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah (2) :42). Dalam ayat lain, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut …”. (QS. An Nisa (4) : 76). Setelah tau ayat ini maka sebagai mukmin dalam merealisasikan perintah Allah seyogyanya menjauhi yang batil dan thagut sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada Allah, sehingga Allah akan memberikan kita furqon (pembeda antara yang Haq dan yang batil), Allah tegaskan, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqon …”. (QS. Al Anfal (8) : 29).

Apakah semua orang walaupun bertitel ulama sekalipun Allah berikan karunia berupa furqon ? Ternyata tidak. Masih banyak jalan perjuangan yang di gagas oleh orang-orang yang di daulat sebagai ulama mencampur adukan yang haq dan yang batil. Sebagai contoh gagasan negara bersyari’ah, sistem negaranya saja sudah salah termasuk perpecahan, apalagi memakai sistem demokrasi warisan sistem kuffar akan di bungkus dengan syari’ah, apa mungkin Allah ridha ? Ini yang di katakan berimprovisasi dalam berjuang yang justru jatuh dalam kesalahan fatal.

Bersatu dan berjuang menegakkan dien (Iqomatuddien) cukup dengan itiba’, mengikuti contoh. Apa mungkin Islam yang sempurna ini hal kecil seperti bersin saja di atur, sementara hal yang sangat mendasar dan fundamental yakni perintah bersatu dan berkepemimpinan tidak ada caranya, semoga ini menjadi dasar pemikiran kita bersama.

BERIMAN DAN BERAMAL SOLEH YANG ALLAH MENANGKAN

Allah tegaskan di dalam ayat Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An Nur (24) : 55).

Syarat Allah menangkan adalah beriman dan beramal soleh. Dari tadzkirah ayat ini coba kita renungkan kenapa kita lama sekali berjuang namun belum Allah menangkan.

Saat ini perintah wajibnya bersatu dan larangan berpecah belah di abaikan oleh mayoritas ummat Islam, mereka malah senang membuat golongn-golongan, jama’ah minal muslimin, ormas, harakah dengan dalih ijtihad memperjuangkan tegaknya Islam. Padahal dari segi dalil Qur’an dan hadits justru hal ini sangat di larang bahkan sangat di haramkan, karena dengan bergolong – golongan ummat Islam nyata di dalam perpecahan yang mernyebabkan Islam tidak dapat terlaksana secara sempurna. Apakah orang yang abai terhadap perintah bersatu dalam banyak ayatNya  di katakan beriman, kita masing-masing yang bisa jujur menjawabnya.

Ibarat rumah, ada rumah kita dan ada rumah orang. Banyak orang yang bertanya dan mengatakan bahwa kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) tidak terlihat beramal (ammar ma’ruf nahyi mungkar) nya. Tidak pernah melakukan aksi untuk berbuat amar ma’ruf dan nahyi mungkar seperti layaknya ormas-ormas Islam lainnya. Sehingga ada yang mengatakan “ngapain saya bergabung dengan jama’ah nya”.

Maka perlu diluruskan pemahaman ini, bahwa sesungguhnya secara tidak sadar kita beramal (amar ma’ruf nahyi mungkar) saat ini dirumah orang, sementara rumah kita sendiri dibiarkan. Inilah yang terjadi kepada mayoritas ummat Islam saat ini. Apakah tidak faham rumahnya sendiri atau karena ada kepentingan di rumah orang, masih menjadi misteri, wallahu a’lam. Mudah-mudahan karena mereka belum faham, sehingga menjadi PR bagi kita untuk mendakwahkan dan memahamkan mereka agar mau kembali “pulang”.

Saat ini yang sedang kita lakukan adalah agar ummat Islam ini sadar dan mau “pulang” ke rumah sendiri dan dirumah inilah nantinya kita akan bina dan di tarbiyyah sehingga mereka faham betul tentang Islam. Setelah mereka faham, maka beramal (amar ma’ruf dan nahyi mugkar) nya di rumahnya sendiri sehingga rumah nya dan anggota keluarganya menjadi baik dan Islami dan kita harapkan dari rumah kita inilah lahir generasi Rabbani, insya Allah. Generasi yang tidak perlu dipaksa untuk melaksanakan syari’at tetapi generasi yang secara sadar melaksanakan syari’at Islam secara kaaffah didalam setiap sendi-sendi kehidupannya.

Maksud rumah sendiri itu adalah sistem Islam itu sendiri, yaitu satu satunya sistem Islam setelah sistem An Nubuwah (kenabian) yaitu sistem Kekhalifahan Islam. Sementara kalau kita beramal (amar ma’ruf nahyi mungkar) di rumah orang (sistem kuffar) seperti, demokrasi, kapitalis, liberal, kerajaan, dan lain-lain, maka secara sengaja atau tidak sengaja kita punya andil dalam kelanggengan dan keberlangsungan rumah orang itu alias sistem selain sistem Islam dan secara tidak sengaja kita menunda terlaksana nya aturan dirumah kita sendiri secara paripurna.

Padahal Allah berfirman, “Dan katakanlah, yang haq telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al-Isra’: 81). Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al fath : 28). Jadi sistem selain sistem Islam (rumah orang) harus nya lenyap bukan dibela habis-habisan dan menjadi langgeng. Al Haq itulah rumah kita yang harus dibela, rumah kaum muslimin yaitu Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin).

Inilah beriman dan beramal soleh yang benar, insya Allah atas Allah ridha maka segera Allah menangkan dan akan teguhkan kekuasaan kaum muslimin di muka bumi hingga hilanglah kedzaliman dan yang ada rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.