PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS KHILAFAH DAN SISTEM PENDIDIKAN SEKULER

by -0 views

Oleh : Ahmad Muhammad Shaleh

              Pendidikan adalah sarana untuk mencerdaskan kehidupan ummat, membuka cakrawala bagi manusia untuk memandang realitas sebagai sesuatu yang harus direspon dan dikendalikan secara benar, agar  bisa diambil manfaatnya dan bisa menghasilkan berbagai kemajuan bagi manusia. Baik atau buruknya atau benar salahnya cara seseorang dalam merespon realitas kehidupan tergantung sungguh dari setidaknya tiga hal, yakni; pandangan hidup yang dianutnya; pengetahuan tentang realitas disekitarnya; dan ilmu yang mendasari sikapnya atas realitas tersebut. Pandangan hidup yang dianut adalah pilihan paling sakral yang diambil oleh manusia berdasarkan keyakinan yang dia miliki, pengetahuan atas realitas adalah kemampuan manusia untuk menyelami berbagai hal seputar realitas terkait dengan sebab dan akibat dari suatu kejadian dan lain sebagainya; sedangkan ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu dari sumber-sumber ajaran yang dia yakini, seperti kitab suci dan sumber-sumber primer serta turunannya dari hasil kajian yang sudah lebih dulu ada.

            Dari berbagai macam sistem pendidikan yang dirancang oleh manusia, semuanya hanya dapat dikategorikan (dikelompokkan) menjadi 2 saja, pertama; pendidikan yang berdasarkan petunjuk ilahiyah yang senantiasa terkait dengan unsur ketuhanan dan ibadah, dan yang kedua; pendidikan yang bersandarkan pemikiran manusia yang cenderung memisahkannya dari faktor ketuhanan dan agama (sekuler). Maka, saat ini peradaban barat memiliki pandangan berbeda mengenai pendidikan dengan Islam. Paham rasionalisme, humanisme, kapitalisme bahkan atheisme dijadikan dasar pijakan bagi konsep-konsep pendidikan mereka. Hal tersebut bertolak belakang dengan Islam yang memiliki Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai dasar konsep pendidikan nya, sehingga menentukan corak dan warna sistem pendidikan serta output yang dihasilkan.

            Pendidikan Islam secara umum bermakna pewarisan ilmu dan nilai-nilai kebudayaan Islam dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan kehidupan sesuai nilai yang diyakini benarnya (QS. At Tahrim : 6). Sedangkan secara individu, pendidikan berarti penguatan dasar pijakan atas keyakinan yang mengantarkan pada pelaksanaan kewajiban ibadah (QS. Adz-Dzariyat : 56)  yang berlanjut pada pengembangan potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang demi kemajuannya dan masyarakatnya. Untuk itulah aspek yang paling ditekankan dalam sistem pendidikan Islam adalah penguatan nilai, dimana “kaki”’ generasi ditanam sedalam-dalamnya ke dasar aqidah yang bersih, disadarkan pada kewajiban ibadah sebagai hamba Allah secara khusus dan sebagai ‘Khalifatullah fil ardh‘ secara umum, sehingga mereka lahir sebagai generasi yang tidak mudah goyah prinsipnya, meski diterpa berbagai macam ujian dan cobaan, sedangkan dalam berkreatifitas mereka dilepaskan seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya dengan tetap berpatokan pada nilai dasar yang hakiki, semuanya dalam rangka ibadah kepada Allah. Oleh karenanya, pendidikan dalam Islam tidak hanya merupakan sebuah proses penguatan aspek intelektual semata semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya.

            Karena Islam adalah ajaran praktis yang sangat menekankan pada amal shaleh, maka pembekalan skill (keterampilan) juga sangat ditekankan sebagai bekal kemandirian dalam partisipasinya di tengah ummat dengan tulus dan ikhlas. Sehingga tidak ada generasi yang katanya paham Al Quran dan sunnah, namun hidupnya justeru tidak terampil, pengangguran bahkan menjadi beban bagi masyarakatnya. Karena motivasinya yang demikian, maka pilihan atas lembaga pendidikan bagi anak dalam Islam seharusnya pada pertimbangan aspek kwalitas penegakkan ajaran, konten pelajaran yang menekankan pada kebersihan aqidah, keshalehan amal dan kemuliaan akhlak serta edukasi mengenai kewajiban penegakkan sistem hukum dan sistem kepemimpinan Islam, sehingga output (tamatan)nya menjadi manusia yang merasa berkewajiban atas usaha penegakkan syariah dibawah naungan sistem khilafah. Dengan demikian, sekolah dalam pendidikan Islam bukan hanya untuk memenuhi syarat dari sebuah proses belajar untuk bisa lulus dan mendapat ijazah, melainkan proses ibadah yang sungguh-sungguh untuk memiliki ilmu yang benar guna penyempurnaan amal shaleh.

            Dalam pendidikan sekuler, Ilmu yang dikembangkan dibentuk dari acuan pemikiran falsafah barat yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Sejak lama sistem pendidikan barat “menceraikan” agama dari kehidupan dan bahkan menjadikan ‘rasio’ sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran. Menurut Syed Naquib Al-Attas, ilmu dalam peradaban barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah. Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-ilmu sekular.

            Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat, pertama, menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia; kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran; ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; empat, menggunakan doktrin humanisme; dan kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Kelima faktor ini amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di barat.

            Secara umum, kedudukan sistem pendidikan dalam sebuah kepemimpinan adalah sarana transformasi ilmu tentang kebenaran ajaran dan sistem kepemimpinan serta sistem hukum dari kepemimpinan yang menaunginya. Maka sejak awal status sistem pendidikan sehingga disebut sebagai sistem pendidikan Islam atau bukan adalah dibawah payung kepemimpinan apa sistem pendidikan itu berjalan dan untuk apa-apa anak-anak generasi dididik didalamnya. Maka, sistem pendidikan komunis adalah sistem pendidikan yang bernaung dibawah kepemimpinan komunis, yang mengajarkan kebenaran sistem komunis dan mengantarkan generasi untuk membenarkan serta mempraktekan sistem komunis setelah mereka selesai menempuh pendidikannya. Sistem pendidikan Yahudi atau Nashrani adalah sistem pendidikan yang bernaung dibawah kepemimpinan ajaran masing-masing  yang mengajarkan pembenaran atas ajaran Yahudi dan Nashrani serta mengarahkan peserta didiknya untuk menjadi pelaksana ajaran keduanya. Maka sistem pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang bernaung dibawah sistem kepemimpinan Islam (Khilafah), yang mengajarkan kebenaran ajaran Islam, kebenaran sistem Khilafah dan mengarahkan peserta didik untuk menjadi pelaksana ajaran Islam dan sistem Khilafah dalam kehidupan mereka.

            Dalam perjalanannya sistem pendidikan selain sebagai sarana bagi bagi terlaksananya proses transformasi nilai-nilai positif juga dijadikan sebagai alat propaganda untuk terus menancapkan kuku penjajahan dan kolonialisme atas rakyat jajahan. Ciri utamanya adalah mengarahkan peserta didik untuk menjadi pendukung setia dari kolonial dan mengarahkan mereka untuk menjadi pelaksana sistem kolonial dan menempatkan penghargaan atas diri seseorang atas prestasinya dalam mendukung dan menjadi kaki tangan kolonial. Hal itulah yang pernah dilakukan oleh Belanda atas negeri ini bahkan berpengaruh hingga kini, dimana hal paling berharga bagi seorang alumni adalah manakala berhasil menjadi pegawai dibawah sistem pemerintahan yang ada tanpa bisa melihat kemuliaan dan kejayaan pada bidang-bidang lain yang sama-sama ada nilai ibadahnya dan sama berkemungkinan menjadi sarana amal shaleh yang bisa mengantarkan ke Surga.

            Selain itu pendidikan dan sekolah juga seringkali menjadi seperti “pasar” tempat menjajakan ilmu dimana seluruh peserta didik dan orang tuanya dibebani dengan kewajiban membayar iuran sekolah demi kelanjutan operasional sekolah. Maka kebalikan dari sekolah dalam sistem pendidikan berbasis Khilafah adalah menempatkan aktifitas belajar mengajar sebagai usaha yang wajib diwujudkan oleh seorang Khalifah dan perangkatnya dengan memberikan kemudahan akses dan tanpa bayaran yang harus disetorkan.

            Semoga Allah SWT membuka mata dan hati kita semua untuk menjadikan pilihan atas sistem pendidikan dan tempat menitipkan anak-anak untuk dididik pada sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan Islam, terlebih pada “sistem pendidikan berbasis Khilafah”, Aamiin! Wallahu a’lam