PARLEMEN DARUN NADWAH

by -0 views

Orang-orang kafir Quraisy dahulu memiliki Parlemen untuk menyusun rencana-rencana mereka, “Darun Nadwah” namanya. Dalam parlemen inilah masalah-masalah pelik biasanya mereka putuskan. Tujuan utama dari dewan permusyawaratan kaum kafir Quraisy “Darun Nadwah”, tidak lain adalah untuk menghalangi berlangsungnya dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan Islam sampai rencana membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala cara dilakukan oleh kaum kafir Quraisy agar bisa memenuhi keinginannya, sehingga pada suatu hari dilakukan rapat tertutup yang dihadiri oleh ketua-ketua mewakili kabilah kafir Quraisy dari kota Mekah.

Berbagai cara dan upaya menggagalkan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat nya dilakukan oleh pemuka kafir Quraisy baik secara damai dengan membujuk dan berkopromi dengan Rasulullah SAW hingga rencana pembunuhan terhadap pembawa misi risalah Islam yang dianggap bertentangan dengan keyakinan orang-orang kafir Quraisy.

MENGAJAK RASULULLAH BERKOMPROMI

Melalui Parlemen Darun Nadwah ini pula pemuka kafir Quraisy hendak mempengaruhi dan mengajak kompromi Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy berusaha mempengaruhi dan mengajak kompromi Rasulullah dengan menawarkan harta kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan menawarkan akan dikawinkan dengan wanita mana saja yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata, “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan menyembah tuhanmu selama setahun.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pemuka kafir Quraisy yang berada di dalam Parlemen Darun Nadwah diantaranya : Al-Walid bin al-Mughirah, Al-‘Ashi bin Wa-il, Al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata, “Hai Muhammad ! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina).

Maka Allah SWT menurunkan Qur’an Surat Al Kaafirun ayat 1-6, “Katakanlah, Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah Ad Dien ku”.

Keesokan harinya, beliau pergi ke Masjidil Haram. Di sana para pemuka kafir Quraisy sedang berkumpul. Lalu Rasulullah menghampiri dan berdiri di tengah-tengah mereka, lalu membacakan wahyu yang baru diterimanya. Akhirnya kaum Quraisy pun berputus asa. Peristiwa ini disebut dalam banyak kitab tafsir, seperti Tafsir imam Tabari (w. 310H) dan Ibnu Katsir (w. 774H).

UPAYA PEMBUNUHAN TERHADAP RASULULLAH

Siang itu hari kamis 25 shafar tahun 14 dari kenabian Muhammad SAW, mereka kembali mengadakan pertemuan di Parlemen Darun Nadwah. Mereka sangat cemas melihat bahaya besar yang bisa mengancam eksistensi paganisme yang begitu mereka jaga dan lestarikan. Mereka tahu betul bahwa risalah yang Rasulullah Muhamad SAW bawa sangat berpengaruh bagi para kader-kader Beliau SAW untuk terus bertekad memperjuangkan komitmen Dienut tauhid.

Seluruh petinggi dari kabilah-kabilah Quraisy hadir kembali berembuk membahas langkah-langkah strategis untuk mematahkan tonggak dakwah Rasulullah seluruhnya, setelah beberapa upaya sebelumnya dilakukan. Nampak dari kabilah Bani Makhzum, Abu Jahal, Bani Naufal diwakili oleh Jubair bin Muth’am, Thuaimah bin Adiy, dan al-Harits bin Amir, tampak juga Jubair bin Rabiah, Abu sufyan bin Harb (yang kala itu belum memeluk Islam) menjadi wakil dari Bani Abdusyams, sementara An-Nadhar bin al-Harits tokoh yang pernah meletakkan isi perut kambing di punggung Rasulullah, mewakili Bani Abdul Dar. Selain dari mereka, hadir juga Abul Bukhturi bin Hisyam, Zam’ah bin Al-Aswad, dan Hakim bin Hisyam dari Bani Asad. Dan dari Bani Sahm hadir Nabih bin al-Hajjaj, sedang dari Bani Jamh datang Umayyah bin Khalaf.

Masing-masing dari mereka memberi usulan. Diantaranya usulan dari gembong penjahat Makkah Abu Jahal yang mengusulkan agar tiap-tiap kabilah Quraisy mengutus seorang pemuda yang kuat perkasa, lalu secara bersama-sama pemuda-pemuda tersebut mendatangi Rasulullah dan membunuhnya serentak. Ketika Rasulullah telah terbunuh maka tanggung jawab atas kematiannya terbagi secara merata pada semua kabilah Quraisy, hingga Bani Abdul Manaf tidak akan membuat balasan, kemungkinannya hanya akan menuntut diyat (denda). Parlemen Darun Nadwah akhirnya sepakat dengan ide Abu Jahal tersebut. Mereka mempersiapkan konspirasi untuk membunuh Rasulullah SAW sebagai hasil rapat mereka.

Setelah diputuskannya rencana tersebut, Jibril A.S turun menyampaikan wahyu kepada Rasulullah agar Beliau hijrah menyusul para sahabatnya yang telah lebih dulu berangkat. Hingga pada akhinya Rasulullah pun meninggalkan tanah kelahirannya, Mekah.

Parlemen model “Darun Nadwah” bisa jadi akan ada di setiap zaman untuk menindas dan mengagalkan dakwah Islam dalam iqomatuddien dan upaya melaksanakan Islam secara sempurna (kaaffah), baik oleh orang Yahudi dan Nasrani (QS. Al Baqarah : 120) maupun  melalui tangan-tangan kaum orientalis dan ini sudah menjadi sunatullah. Wallahu a’lam. (red, berbagai sumber)