MEMANTASKAN DIRI AGAR DI TOLONG ALLAH

by -362 views

Zulkifli Rahman Al Khateeb

Ada sebagain ummat Islam merancang dalam berjuang, berimprovisasi dalam berjuang dengan tujuan agar Islam menang. Bahkan dengan cara yang di buat-buat, atau mencampuradukan nya dengan jalan perjuangan kafir, naudzubillah !

Padahal sesungguhnya kekalahan dan kemenangan itu hak nya Allah, yang di tanya benarkah cara kita berjuang, apakah Allah ridha terhadap jalan perjuangan yang kita lakukan.

Seharusnya kita introspeksi dalam berjuang, apakah sudah di Jalan Allah atau sebaliknya. Sudah seharusnya kita “memantaskan diri” dalam berjuang agar pantas di tolong oleh Allah setelah kita menetapi “Jalan Allah”, sehingga mengundang rahmat dan ridha Allah dalam berjuang. Untuk lebih memahami bagaimana kita pantas di tolong Allah, berikut wawancara redaksi dengan Amir Daulah Indonesia Timur, Ustadz Zulkifli Rahman Al Khateeb :

Dalam konteks jihad amalan apa saja yang mendekatkan pertolongan Allah, sehingga membuat kita layak mengharapkannya ustadz, mohon penjelasan nya ?

Siapapun yang menolong agama Allah, pasti ditolong oleh Allah. Demikianlah janji Allah dalam firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Rabb kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) seba-gian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong Diin (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Ma-haperkasa”. (QS. Al-Hajj (22) : 40).

Dalam konteks ini, ada empat kriteria mereka yang bakal ditolong oleh Allah. Yaitu orang-orang yang beriman dan beramal soleh, di antaranya,

1.) Yang menegakkan sholat,

2.) Yang menunaikan zakat,

3.) Yang menyeru kepada kebajikan,

4.) Dan yang melarang dari kemungkaran.

Ada orang-orang yang merasa sudah menolong Diin (agama) Allah, tetapi juga merasakan bahwa pertolongan Allah belum kunjung tiba, sementara mereka sudah berada pada kondisi yang sangat penting dalam menghadapi musuh Allah. Bagaimana ustadz melihat hal ini?

Di dalam Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 214, Allah menerangkan bahwa pertolongan Allah adalah dekat, tetapi dalam ayat itu juga tersirat bahwa,  pertolongan Allah yang dekat itu bagi mereka yang berharap surga dalam perjuangannya. Karena berharap surga itu mereka rela ditimpa kemelaratan, kesusahan dan keguncangan yang teramat dahsyat. Mereka adalah orang-orang yang ditanya Allah tentang surga yang Allah janjikan bagi mereka. Apakah sudah pantas bagi mereka untuk mendapatkannya? Jika belum,  maka segeralah memantaskan diri, karena hamba yang pantas mendapatkan surga identik dengan hamba yang pantas ditolong Allah.

 Ustadz, seperti apakah pertolongan Allah itu. Apakah dengan kita diberi rezeki dan kesehatan dalam berjuang juga dapat disebut pertolongan Allah atau ketika telah mengalahkan musuh dan mendapatkan kemenangan baru disebut mendapat pertolongan Allah?

Kemenangan yang hakiki dalam perjuangan ini adalah ketika ajal menjemput, sementara kita sedang dalam peperangan menghadapi musuh. Dalam kondisi seperti itu, para sahabat sering berseru, “Fuztu wa  Robbil Ka’bah” (Aku telah menang, demi Rabb nya Ka’bah).

Adapun kemenangan dalam mengalahkan musuh, hanyalah kemenangan sementara. Sebab setelah memenangkan pertempuran dan menjalani hidup dalam kemenangan itu setan masih akan tetap menggoda. Dan bukan mustahil, kita akan kembali kalah.

Semua yang tersebut diatas adalah bentuk pertolongan Allah, baik yang kecil maupun yang besar. Dah bahwa kita termasuk golongan orang yang bersatu padu dalam berjuang adalah termasuk bentuk pertolongan Allah.

Jika kita melihat dan mendengar, di berbagai penjuru dunia, ummat Islam selalu berada pada posisi hina dan terdzalimi. Bagaimana ustadz melihat hal ini, apakah ada yang salah dengan ummat ini? 

Dalam Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 112, Allah menerangkan tentang kehinaan yang pernah menimpa Bani Israel.  Diantara penyebabnya adalah, tidak tersambungnya Hablun minAllah dan hablun minannaas, bahkan mereka sampai dimurkai oleh Allah. Yang demikian itu, karena keingkaran mereka dengan ayat-ayat Allah dan karena Nabi mendesak mereka untuk tetap berpedoman pada ayat-ayat Allah, merekapun membunuh Nabi mereka dan rela dipimpin oleh selain Nabi, sehingga mereka dapat bermaksiat dengan leluasa, dengan senang hati. Agaknya, kondisi ummat sekarang setelah terbunuhnya pengganti Nabi (Khalifah), mereka sudah merasa nyaman dipimpin oleh orang-orang yang tidak menerapkan aturan Allah dalam kepemimpinannya.

Kita berharap, ummat ini segera tersadarkan oleh kesalahan besar ini dan segera bersatu dibawah kepemimpinan seorang Khalifah, untuk menerapkan ajaran Allah di muka bumi ini, Aamiin.

Apa pesan dan harapan ustadz kepada para pejuang Islam?

Kuatkan persatuan, luruskan shaff, rapatkan barisan. Pertolongan Allah sudah sangat dekat. Semoga kita memang layak mendapatkannya. Aamiin ! (red).