LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFAH

by

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFATUL MUSLIMIN

Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan atas orang-orang beriman untuk menta’ati Allah, menta’ati Rasulullah dan Ulil Amri sesuai dengan Firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat An Nisaa Ayat 59.

Ulil Amri ummat Islam setelah wafatya Rasulullah tidak lain adalah Khalifah/Amirul Mu’minin/Imam Ummat Islam Sedunia. Dengan demikian keta’atan ummat Islam tehadap khalifah/Amirul Mu’minin adalah wajib ila yaumil qiyamah dan tidak boleh mengalami kekosongan serta akan dipertanggung jawabkan oleh setiap muslim/muslimah dihadapan Allah kelak, maka Khilafah Islamiyyah milik kaum muslimin atau Khilafatul Muslimin adalah satu-satunya wihdatul ummath /jama’ah ummat Islam sedunia berdasarkan Ad diin yang wajib ditegakkan dimuka bumi. Karena terwujud masyarakat Islami yang menjadi cita-cita kita, bersama kebebasan (kemerdekaan) ummat non muslim didalam melaksanakan peribatannya sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan kaum muslimin dimasa lampau dikarenakan ummat Islam mampu mempertahankan keutuhan ummat , dibawah satu sistem kepemimpinan Islam yaitu : Khilafah Islamiyyah dengan pembuktian Sam’an Wa Tha’atan kepada Ulil Amri mereka (Khalifah/Amirul Mu’minin). Adapun kemunduran dan kehancuran kaum muslimin karena tidak mampu lagi mempertahankan sistem kekhalifahan tersebut, yang berakibat ummat terpecah belah menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri (ashobiyah). Fenomena ini oleh Allah dinyatakan tegas sebagai suatu “Kemusyrikan” (Qs. Ar Ruum : 31-32) yang artinya sebagai berikut: “…… Janganlah kalian termasuk orang-orang Musyrik : yaitu orang-orang yang memecah belah Diin mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri”.

Khilafatul Muslimin telah ada sejak Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq sampai dengan Kekhalifahan Turki Utsmani yang hancur atas konspirasi Yahudi dibawah kepemimpinan Musthofa Kamal Attaturk pada tahun 1924. Dimana dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan tidak semuanya sejalan dengna “Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah”. Usaha untuk membangun kembali Khilafatul Muslimin setelah kehancurannya, telah banyak dilakukan, namun tidak juga membuahkan hasil. Adapun usaha-usaha yang pernah dilakukan antara lain:

1. Pada tahun 1926 diadakan Kongres Kekhalifahan Islam (di Kairo)

2. Pada tahun 1926 Raja Ibnu Sa’ud memprakarsai Kongres Muslim Sedunia (di Mekah)

3. Pada tahun 1931 diadakan Konfrensi Islam Se-Dunia (di Aqsho, Yerussalem)

4. Pada tahun 1949 Konfrensi Islam Internasional Kedua (di Karatchi)

5. Pada tahun 1951 Konfrensi Islam Internasional Ketiga (di Mekah)

6. Pada tahun 1951 Pertemuan Puncak Ummat Islam (di Mekah)

7. Pada tahun 1964 Konfrensi Muslim Se-Dunia lagi (di Mekah)

8. Pada tahun 1969 pertemuan yang melahirkan Organisasi Konfrensi Islam disingkat OKI (di Rabat)

9. Pada tahun 1974 diadakan KTT Negara-negara Islam Lahore, dalam kesempatan ini Presiden dari beberapa Negara seperti Urganda, Mesir, Yaman Utara, Libia mengusulkan agar Raja Faishal dari Arab Saudimenjadi Khalifah/Amirul Mu’minin tetapi tidak bersedia.

10. Di Indonesia juga tidak ketinggalan Bapak H.O.S. Cokroaminoto sebagai pelopor mengemukakan gagasan Pan Islamisme dengan ketiga tahap perjuangan:

– Kemerdekaan Indonesia yaitu mengusir penjajah dari muka bumi.

– Kemerdekaan Islam di Indonesia, Islam sebagai satu-satunya sistem yang haq, bisa berlaku di Indonesia secara sempurna dan dilindungi oleh kekuasaan (NII)

– Kemerdekaan Islam di Dunia yaitu membentuk Khilafah Fil Ardhi sebagai penjabaran dari Mulkiyah Allah (kerajaan Allah dimuka bumi) Bapak H.O.S Cokroaminoto dengan Syarikat Islamnya (SI) pada tahun 1912, yang ditingkatkan kemudian menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1930 dan akhirnya dilanjutkan oleh bapak Imam Sekarmaji Marijan Karto Soewiryo dengan memproklamirkan NII pada tanggal 12 Syawwal 1368 H/77Agustus 1949 (yang naskah proklamasinya ada di PBB) adalah juga mencita-citakan tegaknya kekhalifahan.

11. Muncul lagi Konfrensi Internasional Khilafah Islamiyyah di stadion tenis Indoor Senayan Jakarta pada hari Ahad 20 Mei 2000 Pukul 08.00-14.00 WIB. Disponsori oleh Syabab Hizbut Tahrir yang dihadiri oleh berbagai komponen ummat Islam (dalam dan Luar Negri) tapi hanya sampai pada menganjurkan tegaknya Kekhalifahan Islam.

12. Konfrensi yang serupa terulang kembali pada hari Ahad tanggal 28 Rajab 1428 H./12 Agustus 2007 M. bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta yang dihadiri oleh sekitar Dua Ratus RibuKaum Muslimin, namun pada akhirnya hanya berupa seruan dan Tabligh Akbar serta wacana/pengetahuan belaka, bukan pengamalan Sistem Kepemimpinan Islam (Khilafah).

Dari data-data tersebut diatas dapat kita ketahui bahwa Kekhalifahan tetap merupakan cita-cita kaum muslimin se-dunia namun upaya mengembalikan melalui kongres-kongres/konfrensi-konfrensi belum juga dapat memilih seorang Khalifah / Amirul Mu’minin, padahal Ulil Amri bagi Ummat Islam wajib adanya. Maka perlu segera diwujudkan seorang Khalifah/Amirul Mu’minin, dalam sistem kepemimpinan Islam (Khilafah Islamiyyah) sebagai satu-satunya solusi merealisir Wihdatul Ummah.

Untuk itu perlu adanya keberanian ummat Islam mempelopori tegaknya Khilafatul Muslimin sebagai satu kewajiban yang Mutlak, yang tidak boleh ditunda-tunda lagi tanpa perlu menunggu-nunggu kongres-kongres ataupun konfrensi-konfrensi yang hanya menghasilkan Kekhalifahan sekedar cita-cita belaka (bukan merupakan sistem kepemimpinan yang berjalan). Atas dasar tersebut diatas, maka Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dari Indonesia membuat sebuah konsep “MA’LUMAT KHILAFATUL MUSLIMIN” pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1418 H / 18 Juli 1997 demi mewujudkan cita-cita kaum Muslimin (tegaknya kembali Kekhalifahan Islam), kemudian ditawarkan /diedarkan kepada orang-orang yang dianggap berhak dan pantas selama -+ dua tahun namun akhirnya atas restu beberapa orang sahabat, tawaran tersebut berpulang kepada yang membuat konsep itu sendiri Yaitu Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ , maka dengan sadar dan tawadhu serta terdorong oleh rasa takut kepada Allah dan sembari mengetahui akan kelemahan diri, bahwa beliau merasatidak sanggup memikul persoalan yang sangat Fundamental tersebut, namun untuk sekedar mempelopori buat sementara waktu dari ketiadaan Ulil Amri, terpaksa beliau memberanikan diri untuk memulainya, maka pada tahun 1999, setelah melalui proses tersebut diatas, secara resmi nama Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dicantumkan dalam maklumat tersebut dan diumumkan keseluruh dunia.

Pada kongres Mujahidin 1 Indonesia dalam rangka penegakkan Syari’at Islam di Yogyakarta pada tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H / 5-7 Agustus 2000 M, yang dihadiri ummat Islam, baik dari dalam maupun luar negeri, Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ telah membacakan kembali maklumat tersebut dan menyarankan agar peserta kongres memilih / menunjuk seorang Khalifah (Ulil Amri) pengganti beliau sebagai persyaratan tegaknya syari’at Islam, namun peserta kongres hanya memberikan dukungan serta menetapkan Kriteria seorang Imam tanpa menunjuk seorang Khalifah / Ulil Amri sebagaimana diusulkan oleh beliau. Kini bendera kekhalifahan telah mulai berkibar kembali, dan sepatutnyalah mendapatkan dukungan kaum Muslimin dimanapun berada. Akhirnya kami sangat mengharapkan sumbang saran, kritik dan nasehat dari kaum muslimin / muslimat agar Khilafatul Muslimin benar-benar menjadi wadah pemersatu Ummat Islam Se-Dunia dalam rangka mensukseskan penegakkan Syari’at Islam demi Izzatul Islam Wal Muslimin terealisasinya misi “Rahmatan Lil ‘Alamin”. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu memberkahi dan meridhai hidup kita semu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Demikianlah sekelumit latar belakang TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFATUL MUSLIMIN, semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat memelihara dan melanjutkan sistem kepemimpinan Islam yang telah lama hilang dari permukaan bumi. Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.

4 thoughts on “LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFAH

  1. Khilafah Tinggal Nostalgia
    Written by Tim Sarkub | 05/05/2013 | 1

    DPP HTI menganggap keliru pernyataan Ustadz Muhammad Idrus Ramli bahwa yang diwajibkan itu bukan khilafah tapi imamah, yang artinya secara umum adalah kepemimpinan, dan tidak harus bernama khilafah.

    Untuk menanggapi komentar DPP HTI tersebut maka perlu kami jelaskan bahwa dalam buku saya tidak ada pernyataan seperti itu. Tetapi meskipun demikian, pandangan yang menyatakan bahwa yang diwajibkan dalam Islam adalah mengangkat seorang pemimpin tanpa harus bernama khilafah, lebih kuat dalilnya dari pada pandangan HTI yang mengharuskan kepemimpinan harus bernama khilafah, berdasarkan beberapa alasan.

    Pertama, dalam hadits Nabi telah dinubuwatkan bahwa kepemimpinan khilafah hanya berjalan 30 tahun sejak wafatnya beliau. Selanjutnya umat Islam akan dipimpin oleh sistem kerajaan. Hal ini sebagaimana keterangan yang akan kami kemukakan pada bagian berikutnya. Berdasarkan hadits tersebut, banyak ulama salaf memakruhkan menyebut khaiifah untuk para penguasa setelah Sayidina Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma.Dalam konteks ini, al-lmam al-Qalqasyandi (756-821 H/1355-1418 M) berkata:

    وأما من ينطلق عليه اسم الخليفة فقد ذهب جماعة من أئمة السلف منهم أحمد بن حنبل رحمه الله إلى كراهة إطلاق اسم الخليفة على من بعد الحسن بن على رضي الله عنهما فيما حكاه النحاس وغيره محتجين بما رواه أبو داود والترمذي من حديث سفينة أن رسول الله صلى الله عنه وسلم قال الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك قال سعيد بن جهمان ثم قال لى سفينة أمسك خلافة أبي بكر وخلافة عمر وخلافة عثمان ثم قال أمسك خلافة علي وخلافة الحسن فوجدناها ثلاثين سنة قال سعيد فقلت له إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال كذب بنو الزرقاء هم ملوك من شر الملوك
    “Adapun orang-orang yang dapat menyandang nama khalifah, makasekelompok dari para imam generasi salaf, antara lain Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berpendapat memakruhkan mengucapkan nama khalifah untuk para penguasa setelah Sayidina Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma”. (maksudnya sejak Mu’awiyah bin Abi Sufyan)-,dalam informasi yang diceritakan oleh Imam al-Nahhas dan lainnya. Mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Tirmidzi, dari Safinah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Khilafah setelahku berjalan selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan”. Sa’id bin Jumhan berkata: “Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa khilafahnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian hitunglah masa khilafahnya Ali dan Hasan bin Ali. Maka akan kita dapati semuanya tiga puluh tahun”. Sa’id berkata:”Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya orang-orang Bani Umayyah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka”. Safinah menjawab: “Mereka telah berbohong. Sebenarnya mereka para raja, dan termasuk seburuk-buruk para raja. (Al-Qaiqasyandi, Ma’atsir al-lnafah fi Ma’alim al-Khilafah, (Beirut, ‘Alam al-Kutub, 1985), juz 1, hal. 12, (edisi Abdussattar Ahmad Farraj).

    Kedua,dalam sekian banyak hadits juga dikemukakan bahwa umat Islam harus tunduk patuh terhadap pemimpin mereka, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Dalam hadits-hadits tersebut juga diisyarat-kan, bahwa kepemimpinan yang harus ditaati tersebut bukan kepemimpinan khilafah, akan tetapi kepemimpinan yang sewenang-wenang atau kerajaan.

    Ketiga,dalam kitab-kitab fiqih juga dikemukakan bahwa yang diwajibkan itu memang mengangkat seorang imam, yaitu seorang pemimpin secara umum, tanpa harus bernama khilafah. Hal ini sebagaimana diketahui dengan sedikit membaca kitab-kitab fiqih. Memang DPP HTI mengutip pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhal-Muhadzdzab juz XXI/26, bahwa khilafah, imamah dan imarah itu termasuk kosa kata yang mutaradif (sinonim). Tetapi adadua hal yang tidak dipahami oleh HTI; yaitu:

    Istilah mutaradif tersebut bersifat kebahasaan (lughawi) saja,sementara dalam segi aplikasi para ulama, ketiga kosa kata tersebut memiliki konotasi yang berbeda. Setiap khalifah pasti dikatakan imam, tetapi imam belum tentu khalifah, sebagaimana dapat dipahami dari keterangan kitab al-Majmu’ secara lengkap, dan bukan sepotong.
    Kitab al-Majmu’ juz XXI itu bukan tulisan Imam an-Nawawi, tetapi tulisan ulama kontemporer yaitu Syaikh Muhammad Najibal-Muthi’i. Jadi, dalam hal ini DPP HTI keliru dua kali.

    Keempat, para ulama menyatakan bahwa wajibnya mengangkat seorang imam itu ketika umat Islam mampu melakukan dan mungkin dilaksanakan, sebagaimana ditegas-kan olehImam al-Haramain al- Juwaini dalam al-Ghiyatsi,dan telah kami kutip dalam buku Hizbut Tahrir dalam Sorotan. Al-lmam al-Hafizh Abu Amr al-Dani al-Maliki al-As/ari, (371-444H/981- 1053 M), seorang pakar hadits dan qira’at dari Andalusia, berkata:

    وإقامة الإمام مع القدرة والإمكان فرض على الأمة لا يسعهم جهله، والتخلف عنه، وإقامته إلى أهل الحل والعقد من الأمة دون النص من رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “Mengangkatseorang imam ketika mampu dan memungkinkan dihukumi wajib bagi umat Islam, yang harus mereka ketahui dan tidak boleh ditinggalkan. Pengangkatan tersebut berdasarkan keputusan ahlul halli wal ‘aqdi dari umat, bukan berdasarkan nashdari Rasulullah SAW. (Al-Hafizh Abu Amr al-Dani,al-Risalah al-Wafiyah, (Dar Ibn al-Jauzi, Riyadh 1429 H), hal.130, (edisi Muhammad bin Sa’id al- Qahthani).

    Kelima,ketika umat Islam tidak mampu mengangkat seorang pemimpin tunggal, karenastruktur sosial dan politik umat Islam yang telah berubah dan tidakmemungkinkan terangkatnya seorang pemimpin tunggal, seperti yang terjadi padazaman sekarang, para ulama membenarkan terjadinya banyak kepemimpinan politikdi setiap daerah yang memungkinkan. Imam al- Haramain al-Juwaini (419-478H/1028-1085 M) berkata:

    قال بعض العلماء: لو خلا الزمان عن السلطان فحق على قطان كل بلدة وسكان كل قرية أن يقدموا من ذوي الأحلام والنهى، وذوي العقول والحجا من يلتزمون امتثال إشاراته وأوامره، وينتهون عن مناهيه ومزاجره؛ فإنهم لو لم يفعلوا ذلك، ترددوا عند إلمام المهمات، وتبلدوا عند إظلال الواقعات

    “Sebagian ulama berkata: “Apabila suatu masa mengalami kekosongan dari penguasa tunggal, maka penduduk setiap daerah dan setiap desa, hams mengangkat di antara orang-orang yang memiliki kecerdasan dan pemikiran, seseorang yang dapat mereka ikuti petunjuk dan perintahnya, dan mereka jauhi larangannya. Karena apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan ragu-ragu ketika menghadapi persoalan penting dan tidak mampu mengatasi persoalan yang sedang terjadi.” (Imam al-Haramain al-Juwaini, Ghiyats al-Umam fi lltiyats al- Zhulam, (MaktabahImam al-Haramain, Kairo, 1401 H), hal. 386-387, (edisi Abdul ‘Azhim al-Daib).

    Pernyataan di atas memberikan penjelasan tidak wajibnya memperjuangkan imamah (kepemimpinan tunggal), ketika situasi tidak memungkinkan dan umat Islam terpecah-belah menjadi banyak negara yang berdaulat seperti dewasa ini. Hanya saja kajian fiqih agak mendetil seperti ini kurang dipahami oleh kalangan DPP HTI, karena tersembunyi di balik sekian banyak statemen dan pandangan ekstrem dan radikal Syaikh al-Nabhani,

    pendiriHizbut Tahrir dalam kitab-kitabnya. La haula walaquwwata ilia billah.

    Dikutip oleh Tim Sarkub.Com dari buku ‘Jurus Ampuh Membungkam HTI’ oleh: Muhammad Idrus Ramli, hal 4-7

    Simak di: http://www.sarkub.com/2013/khilafah-tinggal-nostalgia/#ixzz3YQeV1mEC
    Powered by Menyansoft
    Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

  2. Jurus Ampuh Membungkam HTI
    Posted by: Ust. Idrus Ramli in Buku 08/06/2013 1 Comment 229 Views

    Judul: Jurus Ampuh Membungkam HTI
    Penulis: Muhammad Idrus Ramli
    Penerbit: Bina Aswaja Surabaya
    ISBN: 978-602-99206-8-0
    Tahun:2012
    Halaman: VIII dan 128 Halaman
    Sebuah buku baru karangan Ustadz Idrus Ramli kembali diluncurkan. Buku berjudul Jurus Ampuh Membungkam HTI ini merupakan sejenis tabayyun (klarifikasi) atas konsep khilafah yang benar sesuai pemahaman ulama salaf dan khalaf. Dalil-dalil yang diajukan dalam buku ini begitu memikat dan mampu menusuk jantung pertahanan logika HTI secara umum dan khusus.
    Buku yang merupakan dialektika antara penulis dengan seorang tokoh nasional HTI, Hafidz Abdurrahman dalam Majalah Alkisah betul-betul disajikan dalam format ilmiah dialogis yang menarik.
    Referensi yang dirujuk buku ini merupakan kitab-kitab ahlusunnah wal jamaah selain kitab-kitab karangan pendiri HTI sendiri, Syekh Taqiyyudin Al Nabhani. Alur logika dan argumentasinya dibangun berdasar metode munaqadhah yaitu menghadapi lawan dengan menggunakan argumentasi lawan. Metode munaqadhah sendiri adalah metode ampuh yang pada abad ini dikenalkan oleh ulama ahlusunnah wal jamaah Saudi, almarhum Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani dalam Mafahim Yajibu an Tushahhah. Buku inipun juga menggunakan metode yang sama. Argumentasi yang dibangun HTI dari kitab-kitab ulama ahlusunnah wal jamaah dipatahkan oleh penelusuran ilmiah ustadz Idrus Ramli terhadap kitab-kitab rujukan HTI tersebut.
    Contohnya dalam kitab-kitab karangan ulama ahlusunnah wal jamaah yang dikesankan mendukung khilafah dan sering dikutip oleh DPP HTI yaitu Syaikh Hasan Al A-Aththar dalam Hasyiyah Jam’ul Jawami’, Al Safarini al Hanbali dalam Lawami’ al Anwar Al Bahiyyah wa Sawathi’ Al Asrar al Atsariyah serta Ibnu Hajar Al Haytami dalam Shawaiqul Muhriqah. Pada kitab-kitab muktabarah tersebut ustadz Idrus Ramli mampu memberikan penjelasan baik bahwa para ulama tersebut memang menganggap ahammu al wajibat terhadap khilafah namun tak seekstrim pendiri Hizbut Tahrir. Idrus Ramli juga menunjukkan kesamaan konsep para ulama ahlusunnah wal jamaah tentang khilafah yang sebenarnya hanya berusia 30 tahun plus khilafah minhaj nubuwah Umar bin Abdul Azis.
    Ustadz Idrus Ramli juga menyuguhkan fakta pendapat ulama ahlusunnah wal jamaah tentang khilafah sejak Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan Al Tsauri yang menyebut khilafah itu hanya terdapat pada lima figur yaitu khulafaur rasyidin dan Umar bin Abdul Azis, adapula yang menyertakan Sayyidina Hasan bin Ali sebagai khalifah seperti pendapat Imam Ali Al Qari dan Imam Al Munawi. Bahkan, buku ini juga menyertakan ucapan Muawiyah sendiri yang menyebut dirinya sebagai raja dan ucapan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash terhadap Muawiyah yang menyebut Muawiyah sebagai raja.
    Jelas, bahwa Muawiyah sendiri menyebut dirinya sebagai raja, bukan khilafah (halaman 20). Tapi mengapa aktivis pro khilafah memaksakan pendapat bahwa dinasti Ummayah sampai Usmaniyah sebagai khilafah. Ustadz Idrus Ramli juga mengulas secara baik khilafah Imam Mahdi yang dinubuwwahkan oleh Nabi di akhir zaman. Terdapat kontradiksi dalam pemahaman aktivis pro khilafah tentang kekhalifahan Imam Mahdi dan kekhalifahan sebelumnya, dimana ini dijelaskan oleh Ustadz Idrus Ramli secara detail sepanjang 15 halaman (halaman 25-40). Ada satu pertanyaan penting, jika seandainya Hizbut Tahrir benar-benar sukses mendirikan khilafah, akankah kekhalifahan itu akan menentang kekhalifahan Imam Mahdi yang mutawatir dikabarkan Rasulullah. Apalagi menurut buku ini dan juga buku sebelumnya Hizbut Tahrir Dalam Sorotan disebutkan bahwa Hizbut Tahrir berpaham non ahlusunnah wal jamaah.
    Fakta kontradiktif ekstrimisme Syekh Taqiyyudin Al Nabhani juga disertakan oleh ustadz Idrus Ramli. Menurut pendiri Hizbut Tahrir tersebut bahwa kewajiban mengangkat Khilafah adalah kewajiban mutlak yang tidak tergantung dengan mampu atau tidaknya kaum muslim untuk melakukannya, hal ini dibantah oleh penulis melalui pendapat Imam Abu Amr Al Dani. Ustadz Idrus Ramli juga menyuguhkan pendapat ulama ahlusunnah wal jamaah yang menolak bahwa jika tak ada khilafah lalu kaum muslim wajib membangunnya kembali. Dengan mengutip Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, penulis buku ini menyebut bahwa umat Islam tak berdosa jika tak mendirikan khilafah, tapi yang berdosa hanyalah ahlul halli wal aqdi dan mereka yang layak menjadi Imam (halaman 47).
    Bab-bab terakhir buku ini juga menyuguhkan tabayyun tentang akidah ahlusunnah wal jamaah yang secara nyata diserang oleh pendiri Hizbut Tahrir, Syekh Taqiyyudin Al Nabhani. Kajian tentang akidah dan fikih politik disertakan sejak halaman 62 sampai akhir buku ini. Walhasil, membaca buku tipis tapi berbobot semacam ini akan mampu mengail informasi berlimpah tentang konsep khilafah sebenarnya.
    * Peresensi : Syarif Hidayat Santoso (Pengurus LTN MWC NU Kota Sumenep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *