KHILAFAH, ANTARA MENUNGGU DAN MENEGAKKAN

by -671 views

Tubagus Herzamli

“Dan katakanlah, BEKERJALAH KAMU, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”, (QS. At Taubah (9) : 105).

Perintah wajibnya berjama’ah (bersatu) di dalam ayat Allah dan hadits nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasaalam merupakan perintah yang telah terjadi di zaman dulu, sedang terjadi zaman sekarang ini dan akan datang hingga akhir zaman atau hingga datangnya yaumil akhir (kiamat). Ini fakta dan tidak dapat di bantah oleh akal sehat, dari sejak awal Allah turunkan Al Qur’an.

Bagaimana mungkin perintah Allah wajibnya berjama’ah (bersatu) ini bisa di bantah oleh akal manusia dan kenyataan yang terjadi, sehingga ketika perintah ini terabaikan kita tidak merasa berdosa, naudzubillah. “Kenyataan nya sudah bercerai berai dan Rasulullah pun sudah memprediksi akan ada perpecahan di dalam Islam, jadi ya sudah mau gimana lagi, justru kalau kita tidak menerimanya kita telah menolak taqdir Allah”, demikian sekelumit argumentasi oleh bahkan di daulat seorang ulama rujukan ummat.

Ada lagi yang membuat jama’ah-jama’ah dengan mengatasnamakan Islam (Jama’ah minal muslimin) dan mengklaim di situlah wadah bersatunya ummat Islam, tanpa merasa berdosa dan seolah tidak mengetahui bahwa cara bersatu yang Allah perintahkan sudah ada contoh dari Rasulullah dan para sahabat yang di katakan Al Jama’ah. Dan yang paling parah adalah mencampuradukan cara bersatu nya dengan sistem kuffar semisal demokrasi, liberal, sekuler dan komunisme dengan dalih untuk menegakkan Islam, apa benar begitu ? Cobalah kita berfikir dengan akal sehat, akal yang hanya tunduk kepada ayat-ayat Allah dan keterangan hadits dari Rasulullah.

Ada juga klaim ummat saat ini dengan alasan menunggu Imam Mahdi sebagai khalifah akhir zaman, biarlah saat ini kita berada di dalam perpecahan karena memang sudah taqdir Allah sampai nanti waktunya Imam Mahdi turun untuk menyatukan ummat Islam, tetapi mereka tidak merasa berdosa melalaikan perintah Allah berjama’ah (bersatu), naudzubillah !

KHILAFAH ITU DARI DULU, SEKARANG DAN AKAN DATANG

Sejak Allah tegaskan melalui lisan manusia suci yakni Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam di dalam haji wada’ bahwa Islam ini telah sempurna (lihat Qur’an surat Al Maidah ayat 03), maka sejak saat itu perihal ihwal ibadah ummat Islam pasti sudah ada contohnya tanpa ada satupun yang terluput dari tata cara yang di ajarkan oleh nabi utusan Allah, bahkan hal terkecil sekalipun di dalam Islam semisal tata cara makan, begitupun hal terbesar yakni tata cara berjama’ah (bersatu) dan berkepemimpinan. Sehingga Allah tegaskan di dalam ayat-Nya, “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (itiba’ kepada Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, (QS. Ali Imran (3) : 31).

Jadi kalau ada yang mengatakan walau sekelas ulama sekalipun bahwa boleh membuat jama’ah – jama’ah mengatasnamakan Islam tanpa kembali kepada Al Jama’ah (jama’ah yang Rasul dan para sahabat contohkan) maka secara tidak langsung mereka telah mendahului Allah dan Rasul – Nya (QS. Al Hujurat (49) ayat 1), dan telah berani menuduh Rasulullah dan para sahabat belum mnyampaikan Islam ini secara kaffah (sempurna). Padahal Rasulullah telah mengingatkan di dalam hadits bahwa, ”Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa roddun, artinya Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya maka amal itu tertolak”, (HR. Muslim).

Dan tata cara berjama’ah (bersatu) yang benar adalah, di zaman para nabi namanya an nubuwah atau kenabian dan setelahnya adalah Kekhalifahan, ini telah terjadi dari dulu (masa lampau), dan harusnya sekarang ini, hingga masa yang akan datang (hingga yaumil akhir) tidak boleh membuat cara baru dalam berjama’ah (bersatu) karena ini adalah perkara ibadah, dan ibadah sudah pasti ada contohnya sebagaimana keterangan dalil Qur’an dan hadits.

KETIADAAN KHILAFAH SEBAB PERPECAHAN

Wafatnya Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, jasad beliau belum di makamkan selama tiga hari, perihal belum adanya pengganti kepemimpinan ummat Islam saat itu, sehingga terjadi syuro ummat Islam di Tsaqifah bani Sa’idah, hingga terpilihlah Abu Bakar Ash Shidiq radiallahu anhuma sebagai Khalifah / Amirul Mukminin dengan wadah Kekhalifahan. Banyak kalangan ulama yang lurus menjadikan tiga hari ini batas toleransi pergantian kepemimpinan ummat, artinya ummat Islam hanya di tolerir selama tiga hari dan wajib segera mengangkat Khalifah bagi ummat Islam.

Fakta sejarah, ummat Islam terus berada di dalam Al Jama’ah (Khilafah Islamiyyah) sejak dari Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang di kenal dengan Khulafa’ur rasyidin kemudian di lanjutkan dengan Hasan bin Ali, Mu’awiyah, Yazid bin Mu’awiyah. Ada khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah Mu’tashim billah hingga khalifah Abdul Majid yang terakhir di Turki yang di kenal kekhalifahan Turki Utsmani dan runtuh kekhalifahan di tahun 1924 M. Ada 104 Khalifah /Amirul Mukminin yang memimpin ummat Islam seluruh dunia hingga pasang surutnya akibat konfirasi Yahudi dan kaum orientalis.

Sejak runtuhnya Khilafah sebagai wujud dari Al Jama’ah yang Allah dan Rasul Nya perintahkan, banyak yang ingin membangun kembali Kekhalifahan, namun gagal karena kawasan Kekhalifahan telah terpecah belah menjadi ratusan negara yang di dalam sejarah di kenal dengan perjanjian Sykes Picot. Dan di dalam negara di pecah-pecah lagi menjadi beberapa partai dan harakah dengan tujuan Islam benar-benar dalam kondisi pecah berkeping-keping sehingga sulit untuk bangkit dari keterpurukannya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kepemimpinan Islam secara resmi hancur dengan di tandai hancurnya Kekhalifahan Islam dan ummat Islam tidak memiliki Khalifah / Amirul mukminin. Inilah yang kita rasakan saat ini.

KEWAJIBAN MENEGAKKAN INSTITUSI KHILAFAH

Allah perintahkan berjama’ah (bersatu) dan berkepemimpinan adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam yang wajib dan harus di tunaikan. Dan haram hukumnya ummat Islam berada di dalam perpecahan. Periksa di Qur’an surat Asy Syura (42) ayat 13, Ali Imran ayat 103 dan 105, Ar Rum ayat 31-32. Dan berjama’ah (bersatu) yang di kenal di dalam Islam hanya ada dua wadah, yakni An Nubuwah (kenabian) dan ini hanya sampai Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam dan wadah Kekhalifahan. Tidak ada keterangan dalil Qur’an ataupun hadits yang memerintahkan menegakkan Al Jama’ah (Khilafah) harus menunggu Imam Mahdi, karena perintah berjama’ah (bersatu) itu sifatnya dari dulu (telah terjadi), sekarang (sedang terjadi) dan akan datang (belum terjadi), bahkan sampai Imam Mahdi pun ummat Islam harus berada di dalam wadah al Jama’ah (Khilafah Islamiyyah).

Sejatinya, menegakkan atau membangun, hal yang paling pertama di lakukan adalah membangun kepemimpinan dan ini logis bisa di fikirkan secara akal sehat. Kalau kita ingin membangun sebuah mesjid maka yang di lakukan pertama adalah menentukan panitia pelaksana yang artinya kepemimpinan, baru berfikir membagi bagi tugas dalam mencari sumber dananya, tukang bangunan nya, mengumpulkan pasir, bata, kayu dan lain-lain di kerjakan secara bersama-sama hingga terbangun sebuah mesjid. Begitupun jika kita menegakkan atau membangun kembali Kekhalifahan ini dari ketiadaan nya, berbeda kalau Khilafah nya sudah tegak.

Sebagaimana yang di lakukan oleh Rasulullah di Mekah, beliau mengajak kepada kepemimpinan Islam, tidak mau bercampur dengan kepemimpinan paganismenya Abu Jahal yang ada ketika itu. Sahabat dan keluarga terdekat di ajak masuk ke dalam wadah kenabian dan Rasulullah sebagai pemimpin nya, satu persatu, semakin membesar hingga menjengkelkan orang-orang kafir, hal ini sebagaimana Allah gambarkan di dalam firman-Nya, “… yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin), Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Fath (48) : 29).

Demikianlah kami memilih untuk “BEKERJA” menegakkan dan membangun kembali Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) yang telah di maklumatkan dari ketiadaan nya, saat inilah seharusnya ummat Islam menentukan sikap terhadap Khilafatul Muslimin, apakah anda termasuk yang menolak, menerima atau mengabaikannya. Wallahu a’lam