KEKUASAAN ITU MUTLAK HAK ALLAH

by

Ade Yahya bin Abbas (Wilayah Bekasi)

Kekuasaan itu hak prerogatif Allah yang akan diberikan kepada orang-orang beriman dan beramal soleh sebagai mana Allah tegaskan di dalam ayat-Nya :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An Nur (24) : 55).

Mungkin anda sering mendengar orang-orang yang mengatakan bahwa Khilafah itu harus punya wilayah kekuasaan mutlak yang dimiliki Kholifahnya baru di katakan sah Kekhalifahannya. Tahukah anda bahwa ternyata kalimat tersebut mengambil banyak rujukan dari sebuah kitab yang bernama Al-Ahkamu Sulthoniyyah.

Dan tahukah anda bahwa Kitab Al Ahkam Sulthoniyah ditulis oleh Imam Al-Mawardi pada Masa Bani Daulah Abbasiyyah yang tengah merosot kekuasaannya pada masa itu, akibat banyaknya konflik dan serangan terhadap kekuasaan yang dialami oleh bani tersebut, yakni rongrongan dari Bani Daulah Fathimiyyah di Kairo, dan juga kemunculan kembali Bani Daulah Umayyah Jilid 2 di Andalusia.

Demi memulihkan kembali harga diri kekuasaan Bani Abbasiyah, Khalifah Al-Qadir Billah (w. 422/1031) lantas meminta Al-Mawardi, yang saat itu menjabat sebagai penasihat istana, untuk merumuskan konsep Khilafah dari persepektif hukum Islam. Al-Mawardi lalu menyusun Al-Ahkam Sulthoniyyah.

Bisa dimaklumi kalau kemudian dengan sikap politis yang memihak kepada Daulah Abbasiyyah, Imam Al-Mawardi begitu menekankan kepada Ummat Islam saat itu akan peran Khalifah yang begitu penting dan mensyaratkan harus memiliki kekuasaan absolut, dengan adanya wilayah yang sebelumnya mereka miliki, karena tujuannya adalah untuk mengukuhkan kembali kekuasaan khilafah Abbasiyah yang saat itu berada di titik lemah dan hampir runtuh.

Sampai disini faham kan, bahwa mereka yang mengaku pejuang Khilafah tapi selalu meneriakkan Kekhilafahan harus memiliki wilayah kekuasaan absolut sejatinya adalah para pemimpi yang berangan-angan kosong. Mengapa ?

Karena Ummat Islam saat ini bukan berada di zaman Bani Daulah Abbasiyyah, dimana mereka tidak memiliki wilayah persatuan dan kekuasaan sama sekali secara global. Dan nyaris satu abad lamanya hidup dalam perpecahan serta kosongnya kepemimpinan ummat Islam secara global.

Jadi memaknai Khilafah sama dengan negara Berdaulat adalah politiknya penasihat Bani Daulah Abbasiyyah, yakni Imam Al Mawardi dalam Kitabnya Al Ahkam Sulthoniyyah dengan berbagai ijtihad yang difahaminya.

Saat ini tidak ada satupun Kekhalifahan Islam yang merupakan pemerintahan Islam yang berdaulat, yang ada sistem demokrasi, kapitalis, kerajaan, monarkhi yang di jalankan oleh orang-orang Islam. Maka menegakkan nya wajib mengikuti cara Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam dan para sahabat radiallahu anhuma ketika belum Allah berikan kekuasaan (di awal-awal perjuangan) sebelum futuh Mekah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa dan shalat?” Rasulullah bersabda: “Sekalipun ia puasa dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.” (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad).

Dan hadits ini dijadikan oleh Khilafatul Muslimin sebagai pijakan, menegakkan Islam dalam bingkai Kekhalifahan melalui tahapan sebagaimana hadits di atas, tidak ada syarat Kekuasaan. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *