KALAU ISLAM BERSATU SEMUA MASALAH UMMAT SELESAI

by -414 views

Sebelum ramah tamah dengan Tengku Zulkarnain, Kholifah lebih dulu bersilaturahim dengan KH. Rohmat S. Labib, beliau dulunya di kenal mantan petinggi ormas yang yang juga mencita-citakan tegaknya Khilafah, yang kebetulan ada jadwal ngisi ceramah juga di mesjid Al Amin, Medan pada 22 Juni 2019 (akhir Syawal 1440 H).

Terjadi dialog hangat di salah satu ruang di lingkungan mesjid jami’ Al Amin, Medan yang sudah di sediakan oleh panitia.

Sebagai pembuka Kholifah menyampaikan, “Sebab hancurnya Islam saat ini bukan karena tidak adanya orang alim (ahli ilmu), tetapi karena tidak adanya kesatuan ummat di dalam sistem Islam, yakni Khilafah Islamiyyah”. Pernyataan ini kemudian di benarkan oleh KH. Rohmat S. Labib yang hadir ketika itu.

“Maka runtuhnya sistem kepemimpinan Kekhalifahan Utsmaniyyah di Turki, berarti hilanglah syari’at Islam di muka bumi di seluruh dunia hingga saat ini”, tegas Kholifah.

“Dalam beberapa kesempatan ramah tamah, saya sering menyampakan bahwa Bersatu itu wajib atas perintah Allah dan Dienul Islam ini sudah sempurna, apakah kemudian cara bersatu yang merupakan kewajiban dari Allah ini tidak di kasih tau caranya sehingga perlu cara baru untuk Bersatu ?”, tanya Kholifah mengajak sama sama  berfikir.

“Saat ini mereka tetap bertahan terhadap kelompoknya masing-masing”, Ust. Ahmad Shobirin selaku Wazir Kholifah menambahkan.

“Justru hari ini ketika kita ajak ke pemahaman Khilafah, mereka media sekuler membuat pemikiran atau opini yang kontra, di katakan radikal, keras, intoleran dan pemecah belah bangsa. Sehingga ummat Islam yang besar ini merasa ketakutan, dan justru phobia ini di ciptakan oleh sebagian dari “ulama-ulama” yang pro terhadap sekuler. Inilah tugas kita untuk menerangkan secara jelas kepada ummat, hasilnya Allah yang tentukan, namun upaya harus terus di lakukan”, terang KH. Rohmat S. Labib mantan.

“Dan faktanya saat ini kita baru “ngomong” Khilafah saja sudah di larang oleh rezim, baru mengadakan diskusi saja sudah ketakutan yang kuar biasa padahal belum ada aksi apa-apa”, kembali KH. Rohmat S. Labib menyayangkan.

“Saya sampaikan pada Mabes Polri juga Mabes TNI, saya katakan kalau syari’at Islam kita praktekan, misalnya pencuri atau koruptor di potong tangan, misalnya : “Karena gubernur ini telah merampok harta rakyat maka telah di potong tangannya, maka bagi pejabat yang ada keinginan korupsi maka di persilahkan, pasti dengan hukuman itu mereka berfikir panjang untuk melakukannya”. Tetapi kalau begini : “Mengancam siapapun yang korupsi akan di hukum berat, dan kenyataannya malah di potong tahanan, bisa-bisa yang “ngomong” juga akan korupsi”, mereka tertawa mendengar penjelasan saya”, kata Kholifah sambil bercanda santai.

Kembali Kholifah bertanya kepada mereka, “Dengan di terapkan syari’at Islam tadi rugi kah orang di luar Islam ? Rugi kah bangsa ini? Justru akan menguntungkan. Yang rugi kan “penjahat tadi”. “Adil”, semua orang bisa memikirkan secara ilmiah. Kenapa kok orang tidak mau ya ?, kalau saya salah pendapat saya ini tolong di koreksi”, tegas Kholifah yang kemudian tidak ada satupun dari mereka yang membantah.

“Terkadang mereka itu jawabnya enteng aja, “itu kan menurut bapak, yang lain kan belum tentu begitu, jadi jangan memaksakan pendapat bapak kepada yang lain, kalau memaksakan “intoleran”. Padahal kan kita ini menyampaikan bukan pendapat kita, tetapi yang kita sampaikan itu firman Allah sang Pencipta Manusia, Lah sampean itu gusti Allah nya siapa ?”, KH. Rohmat S. Labib menambahkan.

“Jadi sebenarnya begini, kalau zaman jahiliyah dulu, tuhan itu di sembah-sembah, tapi ga pernah di taati, karena memang tuhan mereka “berhala” itu tidak pernah memerintahkan mereka. Nah kalau sekarang itu banyak Islam yang terpengaruh zaman jahiliyah juga, Tuhan itu di sembah-sembah tetapi tidak mau mentaati perintah dan larangan-Nya, ketika di perintah jawabnya seolah, mohon maaf ya Allah saya lebih taat sama hukum saya sendiri, lah apa bedanya ?”, tanya mantan petinggi ormas yang mengusung Khilafah mengajak berfikir.

“Iya, mereka merasa lebih hebat hukum buatan nya sendiri daripada hukumnya Allah yang menciptakan mereka, naudzubillahi mindzalik”, kembali Ust. Shobirin menegaskan.

“Walhasil, dengan kondisi begini maka sudah urgent bahwa ummat Islam itu harus “BERSATU”, apapun ormas, harakah atau kelompok nya. Sebelum Khilafah tegak, jadi gini, Khilafah itu kan Persatuan tingkat negara, sebagai contoh Indonesia, presidennya satu, dan ormas, harakah atau kelompok ada dalam negara, nah yang tidak ada saat ini adalah Khilafah tingkat negara, sebenarnya banyak ormas, harakah atau kelompok tidak masalah selama pemimpin negaranya satu”, karena Kholifah yang memimpin negara itu tidak ada jadinya tidak dapat berlaku syari’at”, demikian pemikiran KH. Rohmat S. Labib yang memang khas di ormas yang mengusung Khilafah versinya.

Pada dasarnya BERSATU dan BERKEPEMIMPINAN itu adalah ibadah dan setiap ibadah pasti sudah Allah kasih tau caranya melalui contoh Rasulullah dan para sahabat, dan kita tidak boleh karang dengan cara kita masing-masing yang justru terjebak dengan ashobiyah dan firqoh. Cukup itiba’ tidak perlu improvisasi, dan contoh Bersatu dan Berkepemipinan di dalam Islam adalah sistem Khilafah Islamiyyah tidak ada yang lain.

Sebagai bahan Renungan Allah tegaskan dalam firman Nya, “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum : 31-32). Wallahu a’lam