DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

by -151 views

Zulkifli Rahman Al Khateeb

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu(*). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali Imran : 159 – 160).

Berkata Abu Umamah Al-Baahiliy: “Rasulullah pernah menarik tanganku seraya berkata: “Wahai Abu Umamah, sesungguhnya di antara kaum Muslimin itu ada orang-orang yang hatiku menjadi lemah-lembut karenanya”. Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mengelilingi ummatku sebagaimana Allah memerintahkanku dalam melaksanakan ibadah fardhu”. Yang demikian itu adalah gambaran bagaimana Rasulullah menjalin kasih sayang terhadap kaum Muslimin dengan membiasakan diri bershilaturrahmi ke rumah-rumah mereka di tempat kediaman mereka, sehingga terjalinlah hubungan persaudaraaan yang terukir di dalam kalbu. Beliau sanantiasa berlapang dada untuk meaafkan kesalahan ummat, bahkan senantiasa memohonkan ampun bagi mereka sebagaimana Allah perintahkan kepada beliau.

Disamping itu Nabi juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat tentang berbagai persoalan yang dihadapi agar hati mereka menjadi tenteram dan bersemangat dalam melaksanakan kewajiban.

Sebagai contoh misalnya; ketika perang Badar beliau bermusyawarah dengan kaumnya, tatkala kafilah dagang Abu Sofyan telah luput, yang tinggal hanyalah pasukan Quraisy, Rasulullah mengajak berunding para sahabat tentang kesediaan dan kesanggupan mereka untuk menghadapi pasukan siap tempur Quraysy yang jumlahnya tiga kali lipat?. Maka merekapun berseru “Yaa Rasulullah sekiranya engkau mengarungi lautan niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, jika pun engkau berjalan hingga Birkul Ghamad (suatu tempat terpencil di Yaman yang sangat sulit untuk didatangi) maka kami pun akan menempuhnya bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Nabi mereka; “Pergilah engkau dengan Tuhanmu dan peranglah kamu berdua, kami akan duduk menunggumu di sini, akan tetapi kami berkata; pergilah dan kami akan tetap bersamamu, kami ada di depanmu, kami ada disebelah kanan dan kirimu tetap berperang bersamamu” ketika itu serta merta berseri-serilah wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beliaupun bangkit dan berseru: “Absyiruu ayyuhal qouwm (Bergembiralah wahai kaumku), aku sudah melihat, kemenangan sudah di depan mata”.

Dengan musyawarah itu, semangat kaum muslimin menjadi semakin berkobar-kobar. Mereka menjadi tahu betul kondisi mereka, maka mereka bertempur dengan gagah berani hingga Allah benar-benar memberi kemenangan kepada mereka. Meski jumlah mereka hanya 313 sementara musuh berjumlah hingga 1000 orang dengan persenjataan lengkap. Demikian pula ketika perang Uhud, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bermusyawarah dengan para sahabat, apakah bertahan di Madinah atau keluar menyongsong musuh. Maka merekapun menyongsong musuh dibukit Uhud.

Demikian pula dengan perang Khandaq beliau bermusyawarah dengan para sahabat ihwal perdamaian dengan kaum yang bersekutu (pasukan Ahzab) yang sudah mengepung Madinah, mereka akan menghentikan pengepungan jika diberi sepertiga dari buah-buahan dari hasil panen tahun itu, namun Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah menolaknya dengan berkata: “Demi Allah, dalam keadaan jahiliyahpun kami tidak hendak memberikan mereka cuma-cuma, demi Allah kami tidak akan memberikan sebutirpun setelah Allah memuliakan kami dengan Islam”.

Allah SWT telah menurunkan rahmat-Nya dengan menjadikan hati Rasulullah menjadi hati yang lembut, santun dan penuh kasih sayang. Dan menjadikan ummatnya menjadi hamba-hamba Allah yang meneladani beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai panutan, maka menjadi patutlah mereka mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana pertolongan yang Allah berikan kepada para Rasul sebelum beliau. Allah berfirman “Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu”, meski sedemikian hebatnya Fir’aun dan bala tentaranya, dan sedemikian lemahnya Musa dan para pengikut setia beliau, ketika Allah mendatangkan pertolongan-Nya kepada Musa, maka Fir’aun dibinasakan oleh Allah, justru ketika dia dan bala tentaranya sedang mengejar-ngejar Musa.

Sejarah membuktikan bahwa; dengan pertolongan Allahlah maka Fir’aun binasa bukan karena dia dikejar-kejar oleh Nabi Musa AS dan para pengikut beliau yang lemah-lemah.

Pada pasukan Badar yang tidak seimbang jumlahnya dengan musuh, kemenangan yang mereka raih semata-mata karena pertolongan Allah dan karena mereka pantas mendapatkan pertolongan, demikian pula dalam peristiwaperistiwa lainnya. Allah mendatangkan pertolongan-Nya kepada mereka yang lemah dan teraniaya, yang ber akhlaq mulia, yang santun, yang taat dan istiqomah,dan yang senantiasa bertawakkal kepada Allah semata.

Allah berfirman: “kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah ditanya tentang kata azamta dalam ayat ini, maka beliau bersabda: “maksudnya adalah bermusyawarahnya ahlur ra’yi kemudian mengikuti mereka”.

Bertawakkal artinya menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata, setelah mengerahkan semua daya upaya semaksimal mungkin, sudahsemua kemampuan dikerahkan, semua harta sudah dikorbankan, semua usaha sudah dilakukan dan semua jalan sudah ditempuh, sesuai dengan kemampuan, tentunya, maka tinggal menunggu datangnya pertolongan Allah dengan sabar dan penuh pengharapan. “Sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat” (Al Baqarah : 214)

Jika Allah berkenan menolong, maka tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mengalahkanmu, demikian pula jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, Allah SWT berfirman: “Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?, kekuatan sebesar apapun yang ada di belakangmu tidak akan lebih besar dari kekuatan Allah. Maka tidaklah pantas engkau menyombongkan diri sedikitpun untuk menentang Allah.

Pertolongan Allah itu hanya datang kepada hamba-hamba-Nya yang lemah lembut dan merendahkan diri di hadapan Allah, hamba-hamba-Nya yang santun dan tidak menyombongkan diri, dan hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah semata. Hamba yang pantas mendapatkan pertolongan Allah itu adalah mereka yang telah membuktikan kesabarannya dalam menghadapi berbagai goncangan, yang tetap istiqomah dan pantang menyerah (Qs. 2 : 214).

Dengan kasih sayang dan lemah lembut itulah Islam disampaikan kemudian diterima oleh sebagian besar penduduk Yatsrib (Madinah). Sahabat setia Rasulullah, Mushab Bin Umair, dengan sangat santun dan lemah lembut menyampaikan Islam kepada mereka. Meski pada awalnya beliau dilontari kata-kata sinis dan kasar, dengan lembut dan senyum ramah yang khas, yang senantiasa menghiasi bibir beliau menjawab: “saya datang kemari untuk menyampaikan kebenaran Islam, jika tuan bersikap bijak, maka dengarkanlah dahulu apa yang saya sampaikan ini dengan seksama, jika tuan-tuan setuju, saya mengajak tuan untuk bergabung dalam perjuangan untuk menegakkan kebenaran, jikapun tuan tidak suka, tuan dapat meninggalkan saya dan sayapun akan meninggalkan tuan”.

Kalimat muqoddimah yang sangat santun dan bijak, maka ketika mereka sudah mendengar uraian yang terang dan jelas tentang ajaran Islam yang beliau sampaikan, diantara mereka ada yang serta-merta masuk Islam, meski ada juga yang belum bersedia. Tapi kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa Mushab bin Umair telah berhasil mengislamkan kota Yatsrib hingga menjadi darul hijrah bagi Rasulullah hingga disebut Madinatur Rasul (kota Rasul) dan hingga sekarang disebut Madinah.

Demikianlah Islam tegak pertama kali di Madinah, tidak dengan perang, tidak dengan jihad lalu menaklukkan dan memaksa penduduknya untuk menerima Islam, tapi dengan dakwah dan kasih sayang. Ketika Islam sudah tegak, lalu ada pihak yang akan merongrongnya, untuk mempertahankan eksistensi Islam itu, barulah diperintahkan jihad. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam tidak pernah muncul sebagai suatu kelompok yang mengatasnamakan jihad untuk merampok kekuasaan dari tangan orang lain dengan kekerasan senjata, tetapi dengan penuh keyakinan bahwa kebenaran ideologi Islam ini pasti dapat diterima oleh hati orang-orang yang sadar untuk diamalkan dan dengan tulus ikhlas, tanpa harus ada pemaksaan atau penekanan dalam bentuk apapun. Kita yakin bahwa sebuah ideologi yang benar, tidak harus dipaksakan dulu baru mau diterima oleh ummat. Tidak juga harus dengan iming-iming harta dan kekuasaan. Melainkan dengan kasih sayang sebagaimana firman Allah :

 “Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At Taubah (9) : 128)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhati lembut dengan rahmat Allah, semoga sifat kaku, keras dan kasar yang masih menghinggapi hati kita segera dihilangkan Allah dan diganti dengan kasih sayang, sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh rongga dada. Ya Allah, jadikanlah kami orang yang pandai berkasih sayang terhadap semua makhluq-Mu, pandai memaafkan dan pandai bertawakkal kepada engkau semata.

Ya Allah, jadikanlah kami orang yang memang pantas untuk Engkau tolong, yang senantiasa menyandarkan diri kepada-Mu, dan yang memang pantas Engkau beri kemenangan dengan kasih sayang-Mu. Amin.