BERSATU DALAM KHILAFAH WUJUDKAN PERISAI UMMAT

by -363 views

Ade Artika Ummu Mujahid

Dari Abu Hurairah menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang Imam (pemimpin / Khalifah) adalah perisai, dilakukan perang dari belakangnya dan ia dijadikan sebagai pelindung. Apabila ia (Khalifah) memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat adil maka dengan hal itu ia mendapatkan pahala sedangkan apabila tidak demikian maka hal itu menjadi dosa baginya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4125 & HR. Muslim, no. 3428).

Sebagaimana kita ketahui, bahwasanya ketika hadits ini disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang beriman berada di bawah kepemimpinan Nabi sebagai “perisai” mereka, maka setelah Nabi wafat orang-orang beriman pun wajib berada dalam kepemimpinan seorang Khalifatur Rasulillah (Pengganti Kepemimpinan Rasulullah) baik tatkala mereka belum memiliki kekuatan (lemah) maupun sesudah diberikan kekuatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari hadits diatas menjelaskan bahwa Khalifah adalah sebagai junnah (perisai) yakni seperti tirai / penutup, karena melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya untuk bisa melaksanakan ajaran Allah & Rasul Nya, dengan ikatan bai’at agar hidup senantiasa terpimpin (sam’an wa tho’atan) hingga bisa selamat di dunia maupun di akhirat nanti.

Namun, tatkala Khalifah itu tidak ada, maka tidak ada pula junnah (perisai) yang melindungi ad dien dan kaum muslimin secara global. Hal ini dapat kita lihat berdasarkan fenomena yang terjadi setelah runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, khususnya yang terjadi pada wanita muslimah dan anak-anak kaum muslimin.

Padahal bila kita telusuri sejarah Kekhalifahan tentu masih mengingat bagaimana perlindungan yang diberikan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah saat seorang raja Romawi dari kota Amuriyah menawan serta menyiksa seorang Muslimah. Kala berita itu disampaikan, beliau bersegera menuju kota Amuriyah, untuk berperang serta membebaskan tawanan Muslimah tersebut. Tentu, saat ini ummat sangat membutuhkan sosok perisai seperti itu, yang melindungi ummat dari kejamnya kaum kafir. Namun, perlu diketahui jika seorang pemimpin sekaliber Khalifah Al-Mu’tashim Billah tidak akan pernah dihasilkan dari sistem kufur. Tapi hanya akan ada dalam sistem Islam yang akan menerapkan ajaran Islam itu sendiri secara kaffah, yakni dalam Khilafah Milik Kaum Muslimin (Khilafatul Muslimin).

Karena itu, makna hadits di atas dengan jelas dan tegas menyatakan, bahwa Khilafahlah satu-satunya pelindung ummat, yang menjaga Dien, kehormatan, darah dan harta mereka. Khilafah lah yang menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan orang-orang beriman dalam melaksanakan ajaran Islam. Karena itu, hadits di atas sekaligus meniscayakan adanya Khilafah.

Namun, tentunya seorang Khalifah hanya bisa menjadi junnah (perisai) bagi orang-orang beriman yang siap sedia taat dalam kepemimpinan nya (sam’an wa tho’atan) sebagaimana orang-orang beriman yang siap sedia taat dipimpin para Nabi seperti misalnya pada zaman Nabi Nuh hanya bisa menjadi perisai bagi kaumnya yang beriman dan bersatu dalam kepemimpinan nya saja begitupun pada zaman Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Mengapa hanya Imâm / Khalîfah yang disebut sebagai Junnah [perisai] ? Karena dialah satu-satunya yang bertanggungjawab sebagai perisai bagi ummat yang berada dalam kepemimpinannya dengan ikatan bai’at dan sam’an wa tho’atan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:

“Imam / Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Oleh karena itu, Khilafah menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak saat ini. Dan sudah semestinya setiap individu yang mengaku berakidah Islam wajib untuk turut berjuang menegakkannya  kembali hingga sempurna, Allahu Akbar !

Sebagai tadzkirah mari kita renungan ayat Allah berikut :

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang dien (agama) apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah dien (agama) dan janganlah kamu berpecah belah  tentangnya ((wajib bersatu), amat berat bagi orang-orang musyrik dien (agama) yang kamu seru mereka kepadanya, Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. Asy Syura (42) : 13). Wallahu a’lam