BERHARAP DI TOLONG ALLAH, INTROSPEKSI LOYALITAS KITA

by

Zulkifli Rahman Al Khateeb

 “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”. (QS. Ali Imran (3) : 160).

Allah Subahanahu wata’ala nyatakan bahwa, apabila dalam perjuangan meninggikan kalimat Allah, kita dibantu oleh Allah, maka kita tak akan bisa dikalahkan oleh siapapun. Karenanya kemenangan itu tidak bisa dipisahkan dari “Nashrun Minallaah”, bahkan Allah banyak menggandengkan kata kemenangan dengan pertolongan, seperti ayat-ayat berikut ini.

Allah berfirman, “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin”. (QS. Ash-Shaf : 13).

 “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan”, (QS. An-Nashr : 1).

 “Dan Kami tolong mereka, sehingga jadilah mereka orang-orang yang menang”. (QS. Ash-Shaffat (37) : 116).

Dalam rangka itu, kita harus juga mengupayakan terpenuhinya syarat agar kita ditolong oleh Allah, seperti meneliti dengan benar akar loyalitas (wala’) kita kepada sesama orang beriman dan pelepasan diri (baro’) kita dengan orang kafir dan musyrik.

Allah Subahanahu wata’ala berfirman :

 “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. Al-Mujadilah (58) : 22).

Dalam ayat Allah yang lain disebutkan,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-oang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘ Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Ma’idah (5) : 51-52).

Pada ayat ke-52 surat Al Maidah diatas Allah Subahanahu wata’ala mengaitkan sikap baro (berlepas diri) kepada orang kafir dengan kemenangan bagi RasulNya, yang memberi kita satu pesan bahwa berloyalitas kepada sesama orang beriman dan berlepas diri dari orang-orang kafir yang musyrik adalah cara kita mengundang pertolongan Allah dalam perjuangan ini. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *