USTADZ ZAINUL ARIFIN, “ANAK KOLONG” YANG SIAP PIMPIN JIHAD QITAL DEMI AL HAQ

Terlahir sebagai “Anak Kolong” (sebutan anak tentara) 45 tahun silam di Surabaya, dan mengenyam pendidikan di keluarga besar Muhammadiyah membuat Ustadz yang menjadi Amir Wilayah Lampung Selatan ini tetap istiqamah dalam iqomatuddien dalam bingkai Kekhalifahan. Ujian yang paling di ingat tatkala harus memimpin puluhan warga Khilafah menghadapi masa yang akan membakar pondok milik Khilafatul Muslimin di Margodadi yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk mempertahankan haknya siap jihad Qital demi Al Haq. Untuk tahu lebih banyak kiprah beliau kita simak wawancara singkat redaksi majalah al Khilafah berikut ini :

Assalamualaikum ustadz apa khabar, kami dari redaksi majalah al khilafah meminta ustad untuk ta’aruf terlebih dahulu kepada redaksi dari latar belakang keluarga, pendidikan dan juga pengalaman di harakah ustadz !

Waalaikumussalam Wr Wb. Nama saya Zainul Arifin pemberian ibu saya dari 9 bersaudara (ayahnya adalah Ust. Ahmad Shobirin,  wazir TWT pusat, red). Saya lahir tanggal 24 Maret 1973 di Surabaya, di RSAL Marinir ketika bapak masih bertugas di militer. Alhamdulillah, dari satu istri Allah karuniai putra 13, tetapi yang ada sepuluh jiwa, 1 rijal dan 9 nisa. Pendidikan terakhir SLTA di Muhammadiyah, Pringsewu, Lampung. Karena waktu itu bapak mainded di Muhammadiyah tidak boleh anak-anaknya sekolah di negri. Sewaktu di sekolah saya senang berorganisasi tentunya di sekolah di Muhammadiyah dan juga organisasi pemuda. Ketika SMA saya mendapat tarbiyyah dari salah satu da’i dari NII, sekitar tahun 89, jadi kurang lebih 11 tahun saya menyatakan berbai’at kepada kepemimpinan di NII. Kiprah di NII saya pernah menjadi wakil bupati dan pernah di tunjuk langsung oleh gubernur NII Lampung (allahyarham Abi Rahman, red) untuk membina ummat di Bandar Lampung, karena dilihat agak sedikit melemah.

Bagaimana kisahnya antum bisa sampai ke dalam perjuangan Iqomatuddien dengan sistem Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ustadz?

Ketika di NII terjadi banyak faksi kepemimpinan maka kami yang terdiri dari anak-anak muda menyatakan keluar dari jalir keimaman NII, tetapi tidak keluar dari jama’ah jadi sifatnya independen. Hal ini dilakukan karena saking banyaknya faksi dan terjadi perpecahan yang hebat di tubuh NII sendiri. Kemudian kami termasuk abi, bersama Ust. Syamsudin Abu Mahmud yang terdiri dari anak-anak muda mengagas sebuah konsep untuk mengadakan acara di Bandung untuk menyatukan faksi-faksi yang ada di NII, termasuk Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja‘ (Khalifah, red) ini digadang-gadang menjadi calon utama Imam NII yang bisa menyatukan faksi-faksi di NII.

Kami adakan acara ini di Bandung. Justru di Bandung inilah kami pertama kali mendapatkan maklumat terbentuknya Kekhalifahan Islam konsep Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’. Pulang dari Bandung kami bermusyawarah lagi untuk menentukan sikap ke depan, apakah akan terus di jalur independen atau ke Khilafah.

Sementara dengan Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ sendiri sudah sejak lama saya mengidolakan beliau, saya hanya mendengar dari sahabat-sahabat di NII tentang sepak terjang perjuangan beliau, ke istiqamahan beliau, ketawaduan beliau, cara beliau menyelsaikan masalah dan berani dalam mengambil tindakan, membuat saya kagum, tetapi belum pernah bertemu dan bertatap muka karena memang di NII security nya seperti itu. Sekitar tahun 2000 beliau keluar dari “dalem” dan pulang ke Lampung, momen itulah kami manfaatkan untuk silaturahim dan ramah tamah terkait maklumat Kekhalifahan. Itulah pertama kali saya bertatap muka secara langsung dengan Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’, kesannya sangat luar biasa sekali bisa bertemu secara langsung, begitu terbuka tanpa sekat sehingga terasa sangat akrab sekali ukhuwah kita. Dulu selama saya berada di NII sangat sulit untuk bisa bertemu langsung dengan seorang amir. Ketika pertama bertemu dalam hati, saya langsung meyakini bahwa inilah calon imam saya yang baru yang akan membawa saya dunia akhirat ke Surga, insya Allah.

Pembinaan beliau yang saya rasakan memang sangat berkesan dan membekas dalam jiwa, ketenangan jiwa dan semangat tertancap dalam hati sehingga menumbuhkan jiwa pemberani lahir dan batin. Kalau dulu yang saya rasakan berani itu hanya sebuah cassing saja, sementara dalamnya kosong kalau bisa dibilang penakut karena tidak memahami hakikat perjuangan yang sebenarnya.

Sebelum ke rumah Khalifah sebenarnya saya terlebih dahulu ketemu ikhwan yang telah lebih dulu bergabung dengan Kekhalifahan, bisa di bilang mad’u saya dulu ketika di NII. Alhamdulillah saya bersyukur Allah berikan ketawaduan dalam hati sehingga melihat kebenaran bukan dari siapa yang menyampaikan sehingga tidak akan membantah kalau memang itu sebuah kebenaran. Ketika bertemu dengan ikhwan tersebut dia hanya bertanya kepada saya, “Apakah NII itu laku bagi muslim di Malaysia ?”. Saya diam dan tidak bisa menjawab, seperti menonjok dalam hati karena apa yang disampaikan secara “polos” itu adalah sebuah kebenaran. Ikhwan itu adalah Bapak Indra Fauzi (Wazir Pusat, red), hal ini sampai sekarang tidak akan bisa saya lupakan, menerima kebenaran dari beliau. Sejak itulah menjadi beban pikiran dan membuat saya menyegerakan bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’. Kami sekeluarga berdialog secara langsung dan cukup lama kami menerima dan berulang-ulang kami datang silaturahim, sehingga pada akhirnya kami tidak dapat membantah apa yang disampaikan oleh beliau adalah sebuah kebenaran dan kami sekeluarga segera bergabung dengan Kekhalifahan dan mengikrarkan bai’at.

Point apa yang membuat ustadz yakin bahwa Khilafatul Muslimin yang telah dimaklumatkan ini adalah sesuatu yang benar dan antum bergabung dengannya ?

Ketika di NII memang kita sudah mendapat meteri Kekhalifahan, seperti 7 tahapan kerja NII yang nantinya sampai pada tegaknya Kekhalifahan di bumi Allah. Bahwa Kekhalifahan adalah sebuah kebenaran yang mutlak adanya berdasarkan dalil Qur’an dan juga hadits Rasulullah. Yang paling membuat ana yakin selain perjuangan Khilafatul Muslimin yang di konsep Syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ ini adalah bersifat universal tidak hanya lingkup satu negri tetapi seluruh dunia, saya sampaikan di atas bahwa sejak pertama bertemu beliau ana sudah yakin bahwa inilah calon imam saya yang baru yang akan membawa dunia akhirat saya menuju ridha Allah. Beliau adalah seorang imam yang membina secara langsung ummatnya tanpa sekat, mental dan jiwa ummat untuk iqomatuddien.

Sejak bergabung dengan Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) ini bisa kisahkan kiprah ustadz hingga saat ini ?

Awal bergabung ana diamanahkan menjadi mas’ul ummah Sukarame, di Lampung baru ada beberapa Kemas’ulan dan saya termasuk mas’ul ummah yang ikut dalam Kongres Mujahidin tahun 2000 di Jogjakarta. Kemudian saya menjadi amir Ummilquro pertama yang ada di Bandar Lampung, waktu itu Ust. Mustofa Jaelani masih jadi mas’ul Ummah, kemudian Ust. Mustofa ditarik oleh Khalifah menjadi Wazir Qismuz Zakah, sampai beliau menjadi Amir Wilayah pertama di Bandar Lampung. Jadi kalau Amir Ummilquro pertama di Bandar Lampung saya sementara Amir wilayah pertama di Bandar Lampung adalah Ust. Mustofa dan ana menjadi TWT nya beliau.

Ketika terjadi pemekaran wilayah Lampung maka menjadi dua wilayah, Wilayah Lampung Selatan di pimpin oleh Ust. Mustofa dan wilayah Lampung Utara alhamdulillah sampai saat ini ana masih di percaya ummat untuk memimpinnya dan di bai’at tugas secara langsung oleh Khalifah /Amirul Mukminin karena waktu itu belum ada Daulah. Kemudian pada tahun 1437 H wilayah Lampung Utara berganti menjadi wilayah Lampung selatan seiring mekarnya wilayah di Bandar lampung menjadi 4 wilayah (Bandar Lampung, Lampung Selatan, Lampung Timur dan Pringsewu, red).

Punya pengalaman menarik ustadz yang bisa kami jadikan ibroh selama ustadz memimpin wilayah Lampung Utara dalam upaya Iqomatuddien ?

Secara internal lumayan banyak juga ujian yang Allah berikan kepada saya selama memimpin wilayah Lampung Utara, alhamdulillah atas izin Allah semua dapat teratasi setelah koordinasi dengan Khalifah /Amirul Mukminin. Dari ujian-ujian ini saya menyimpulkan bahwa Ukhuwah Islamiyah adalah sesuatu yang sangat penting dan mendasar dalam berjama’ah, sampai menghadapi musuh-musuh Allah pun Ukhuwah islamiyah yang eratlah yang mampu menghadapinya atas izin Allah.

Secara eksternal terjadi beberapa tahun belakangan ketika akan di resmikannya Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyyah (PPUI) Margodadi yang menjadi lembaga pendidikan di bawah wilayah Lampung Utara. Dua hari sebelum dibuka PPUI Margodadi terjadi masalah besar dengan masyarakat sekitar terkait tanah 7 hektare yang telah di serahkan kepada Khilafatul Muslimin. Jadi sebelum diserahkan tanah seluas 7 hektare itu ternyata tanah sudah di kelola oleh masyarakat sekitar dan mereka mengklaim itu adalah tanah milik mereka. Sehingga saya mendapat khabar pada malam itu karena kita di anggap mengambil hak tanah mereka, maka mereka akan melakukan penyerangan dan akan membakar pondok kita. Maka saya intruksikan kepada warga untuk kumpul dan segera berangkat ke pondok, dan ternyata tidak kita temui puluhan orang yang khabarnya akan membakar pondok kita.

Kemudian saya memutuskan untuk memimpin puluhan orang warga Khilafah lengkap dengan senjata tajam yang di bawa dan saya juga membawa celurit saya untuk mempertahankan hak kita, kemudian kita mencari orang yang menjadi provokator menuju kampung yang memang di kenal kampung yang suka tawuran ternyata. Setelah kita ketemu ternyata mereka sudah siap dan ada kepala desanya dan kita di fasilitasi oleh kepala desanya untuk berunding, namun malam itu tidak ada titik temu. Karena jumlah masyarakat saat itu sangat banyak sekali, ternyata mereka bergabung dengan desa sebelahnya mereka meminta agar senjata kita di lucuti, maka saya katakan tidak boleh di lucuti kalau kalian mau saya tunggu di pondok, kami berazam akan mempertahankan hak kita.

Malam itu juga kami kembali ke pondok PPUI Margodadi dan menyusun strategi. Semuannya di kondisikan mulai dari santri dan puluhan warga Khilafah yang tadi ana pimpin, yang mereka adalah atlit berlatih bela diri di salah satu cabang IPSI yaitu Perguruan Bela Diri Lebah Putih (PBLP) sehingga menurut saya mereka sudah siap, insya Allah. “Karena di gelap malam maka perlu ada sandi, maka ketika sesama warga mengatakan Khilafah maka jawabnya Go, kalau tidak jawab berarti dia musuh kita”, kata saya menegaskan. Saya sudah sebar orang-orang terbaik kita di beberapa titik mempersiapkan menghadapi penyerangan mereka. Kita sudah mendengar masyarakat yang mau melakukan penyerangan suara nya sudah seperti dengungan tawon dan kita bersiap mereka menghampiri. Tiba-tiba malam itu datang sekelompok Polisi dan akhirnya mereka memfasilitasi untuk berunding, polisi meminta agar masa membubarkan diri malam itu dan meminta perwakilan dari masyarakat dan dari Khilafatul Muslimin untuk bertemu berunding beberapa hari ke depan. Alhamdulillah tidak terjadi pertumpahan darah pada malam itu atas izin Allah.

Setelah itu baru melapor ke Kholifah dan khokifah tidak menyalahkan dan menyerahkan penyelesaiannya ke saya. Dan sampai ke tingkat kecamatan sehingga ada kesepakatan damai. Dan kami pun di kenal di sekitar PPUI Margodadi setelah kejadian ini, mereka mengatakan, “Tidak boleh main-main dengan pondok itu”.

Terakhir ustadz apa harapan ustadz ke depan khususnya kepada warga yang sudah bergabung dengan Kekhalifahan ini dan kepada masyarakat muslim pada umumnya ?

Nilai perjuangan ini adalah amal jariyah kita, sampai kapanpun bahkan sampai mati nanti kita akan mendapat nilai amal jariyyah dan akan mengalir. Maka Fisabilillah, menegakkan li’ila’i kalimatillah, menegakkan Dienullah ini tidak boleh di anggap kecil dan sepele, kita harus sungguh-sungguh dalam memperjuangkannya tidak boleh setengah-setengah tergiur dengan keuntungan dunia. Kita sebagai mujahid itu harus mempunyai karakter yang mewatak, artinya sebuah karakter yang tidak akan berubah oleh keadaan, baik dalam keadaan susah maupun senang maka kita tetap dalam keimanan. Dia mampu menempatkan dirinya dengan imannya, dia mampu istiqamah.

Bagi kaum muslimin secara umum, saya berharap semoga Allah membimbing dan memberikan hidayah dan inayah Nya untuk sampai pada wadah persatuan Islam yaitu dalam Kekhalifahan Islam ini dan saya yakin jika sudah saatnya Kekhalifahan ini tegak pasti akan tegak atas izin Allah, tetapi kita sebaiknya bertanya pada diri kita apa andil kita dalam menegakkan Kekhalifahan ini, maka segeralah merapatkan diri kepada Kekhalifahan Islam yang telah di maklumatkan. Wallahu a’lam.

Baik ustadz, Jazakumullah Khairan Katsira atas waktu dan kesempatan nya semoga apa yang disampaikan dapat sama-sama kita ambil ibrohnya untuk kemajuan dan kejayaan Islam ke depan, aamiin.

Facebook Comments
Tags:

Related Posts