UNDANGAN SILATURAHIM PAKEM KOTA BARU KEPADA KHILAFATUL MUSLIMIN BERAKHIR DENGAN INTEROGASI

Ketua Pakem (Pengawasan Aliran Kepercayaan masyarakat) Kotabaru Indah Laila mengundang struktural Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) Ummul Quro (UQ.) Pulau Sebuku dalam sebuah acara silaturahim pada 5 Juli 2019 (03 Dzulqo’dah 1440 H), maka undangan yang sifatnya dadakan ini pun di penuhi oleh Ust. Ahmad Lamo selaku amir Ummil Quro dan dua staf nya (akhi iwan dan akhi Ridho), karena menghargai aparat yang ada di daerah setempat.

“Namun setelah berada di lokasi, tepatnya di Aula Kejaksaan Negeri Kotabaru ternyata sudah hadir MUI, Kemenag, Kesbangpol, TNI, Polri dan Intelijen di Kotabaru justru pembahasan nya tentang kegiatan Khilafatul Muslimin.

Bak di interogasi, di cecarlah ketiga perwakilan dari Khilafatul Muslimin dengan berbagai pertanyaan, salah satu pertanyaannya adalah apa benar Khilafatul Muslimin ini merasa yang paling benar, tanya ketua Pakem.

“Iya betul, kami merasa ini adalah kebenaran, sebagaimana orang-orang yang berada di NU atau Muhamadiyah mereka merasa benar berada di organisasinya, kalau kami tidak meyakini Khilafatul Muslimin ini adalah sebuah kebenaran, ngapain kami berada di sini?, tegas Ust. Ahmad Lamo selaku Amir Ummilquro Pulau Sebuku.

“Ada foto salah satu warga di depan mobil TNI, kemudian ada pernyataan kami lagi berfoto di depan mobil thogut, dari sini menurut faham kalian bahwa kami ini adalah thogut, maka kami anggap  organisasi ini bertentangan dengan idiologi yang ada, maka untuk sementara kami himbau sebelum dikeluarkan nya izin jangan mengadakan kegiatan apapun”, kata Indah Laila kepada perwakilan Khilafatul Muslimin.

“Kami melakukan kegiatan di dalam jama’ah ini adalah ibadah, karena niat kami adalah ibadah, maka kami akan tetap jalan dan tidak akan menghentikan kegiatan kami,  ibadah kepada Allah tidak perlu menunggu izin dari siapapun”, kembali Ust. Ahmad Lamo menegaskan.

Karena sudah jam 11.00 WIB sudah dekat waktu jum’atan maka acara di tutup dengan mempertimbangkan akan di adakan diskusi lanjutan mengenai hal ini.

Secara terpisah Amir Wilayah Borneo, Ust. Amiruddin sebagai penananggung jawab di tingkat atasnya di hubungi oleh redaksi, menanggapi berita dari banjarmasin.tribunnews.com, menilai media ini terlalu mendramatisir dan terlalu berlebihan, padahal di akhir acara tidak ada pelarangan dan akan mendiskusikan nya lebih lanjut.

“Terkait thogut, bahwa ummat Islam biisa memahami nya di dalam Al Qur’an dan hadits sehingga bisa mencari sendiri tafsir apa itu Thogut, dan bukan kapasitas kami menghakimi seseorang itu thogut. Warga Khilafatul Muslimin ini terdiri dari bervariasi latar belakang harokah dan ormas maka pendapat dan pemahaman pribadi tentu berbeda-beda, sangat di sayangkan kalau sekelas aparat pemerintah mengambil pendapat pribadi warga Khilafatul Muslimin sebagai pendapat organisasi. Seharusnya mereka crosscek secara langsung kepada penangung jawab jama’ah, kalau di Borneo ini ke saya kalau di Idonesia bisa langsung ke Kholifah, syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja”, tegas amir wilayah Borneo.

Mengenai Khilafatul Muslimin di anggap bertengangan dengan idiologi yang ada justru mereka harus bisa membuktikan pernyataan itu. Kholifah menyampaikan bahwa Khilafatul Muslimin ini misinya rahmatan lil alamin, tidak ada istilah anti terhadap pemahaman apapun, tidak ada anti kepada Pancasila, tidak ada anti kepada agama apapun, tidak ada anti kepada yang berbeda pendapat dengan kami. Justru di negri ini di dalam UUD nya menjamin kebebasan pemeluk agamanya untuk menjalankan agamanya sesuai kitab sucinya, yang kami lakukan ini sesuai dengan kitab suci kami Al Qur’an dan hadits, jadi dimana letak bertentangannya ? tanya Ustadz yang sudah sering di undang oleh aparat dalam sebuah diskusi. (TB, Kotabaru).

Tags:

Related Posts