UMMAT ISLAM TERPERANGKAP DEMOKRASI

OPINI 0

Abdullah Azzam Ibnu Mukhlisin

               Sistem demokrasi yang dibuat oleh pakar Yahudi yang bernama Socrates ternyata hampir di anut oleh sebagian besar orang di dunia ini, termasuk negri yang mayoritas berpenduduk muslim. Tidak ketinggalan juga di negri kita, bak terperangkap dan susah untuk lepas membuat ummat Islam menjadi sudah terbiasa dengan sistem buatan akal manusia ini, malah ada yang merasa nyaman dan tidak merasa berdosa. Luar biasa !

                Menghadapi pesta demokrasi yang serentak di adakan pada Juni 2018 di negri ini setidaknya nya berdasarkan pengamatan dan survey, ummat Islam menjadi empat golongan besar dalam menyikapinya.

                Golongan pertama, mereka yang mengikuti pemilu dengan tanpa beban sama sekali, bahkan mereka beranggapan pesta demokrasi merupakan bagian ajaran Islam dalam memilih pemimpin dengan mengambing hitam kan “Ijtihad” ulama yang mendukung pro penguasa. Ini disebabkan karena ketidak pahaman pada diri mereka atau juga karena di dorong atas kepentingan dunia.

                Padahal sepakat Ulama pewaris nabi yang lurus menyatakan bahwa demokrasi yang berazaskan, “Suara rakyat suara tuhan” adalah haram secara mutlak. Hal ini di tegaskan oleh Allah dalam ayat Nya, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am : 116). Golongan inilah yang paling patut untuk dikasihani dan merupakan kewajiban bersama untuk mendakwahiya sehingga mereka terbebas dari belenggu kekeliruan yang nyata ini.

                Golongan kedua, adalah mereka yang paham bahwa demokrasi adalah haram namun mereka tetap menganjurkan ikut serta dalam pesta demokrasi dengan dalih kaidah fiqih yang mengatakan, “Memilih yang lebih ringan diantara dua mudharat”. Karena kuat dugaan apabila mayoritas ummat Islam tidak menggunakan hak suaranya maka kekuasaan akan direbut oleh para musuh-musuh Islam sehingga akan menyebabkan mereka berkuasa atas ummat Islam. Padahal Allah SWT telah memerintahkan agar memurnikan Aqidah dengan ibadah hanya kepada Allah saja dan tidak boleh menyekutukannya. Allah SWT berfirman, “… Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu …”. (QS. An Nahl (16) : 36). Dan bukan menjadi rahasia umum bahwa golongan ini yang terbanyak, pendirian sebagain ulama dan tokoh tetap pada pendiriannya dengan dalil “ijtihad”, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka.

                Golongan ketiga, ialah mereka yang mengharamkan pemilu dengan dalil-dalil sahih bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, namun ketika terpilih pemimpin yang dihasilkan dari cara-cara demokrasi, golongan ini pulalah yangg mewajibkan untuk taat kepadanya. Dia mengatakan sebagai Ulil Amri walau tidak menggunakan Al Qur’an dan Hadits sebagai sandaran dan dasar pemimpin tersebut dalam mengatur negri. Mereka tamsil kan bahwa berzina haram tetapi hasil zina alis anaknya tidak haram, innalillahi wa inna ilaihi roji’un, musibah besar menimpa ummat Islam di zaman ini.

                Sesungguhnya sikap seperti ini persis sama dengan karakter orang-orang  Yahudi yang Allah gambarkan dalam ayat Nya, “(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata, kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), dengarlah, sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun. Dan (mereka mengatakan), Ra’ina, dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama”. (QS. An-Nisa’: 46). Semoga kita Allah jaga dari sifat seperti golongan yang ketiga ini, aamiin.

                Golongan yang terakhir, adalah mereka yang berpendirian bahwa demokrasi dan pestanya adalah haram secara mutlak. Dan hasilnya pun tetap haram dan tidak boleh di ikuti (ditaati) karena pemimpin demokrasi bukanlah pemimpin yang dilegitimasi Al Qur’an dan hadits. Dan golongan ini telah berlepas diri (bara’) dari sistem demokrasi dan tidak mau ikut andil sedikitpun dalam perkara demokrasi. Islam sudah memiliki ajaran terkait kepemimpinan itu sendiri serta strategi perjuangan yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat agar Dinullah kembali menang. Golongan inilah yang di kehendaki oleh Allah dan Rasul Nya sebagaimana yang Allah tegaskan dalam QS. An Nahl (16) : 36, inti dari Tauhid.

                Kisah nabi Ibrahim AS tidak boleh mencampurnya degan kezaliman. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’am : 82). Inilah sikap Khalifah / Amirul Mukminin, syeikh Abdul Qadir Hasan Baraja’ yang memurnikan perjuangan Iqomatuddien kepada akarnya, sistem Islam itu sendiri yakni kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin).

                Secara pribadi penulis cenderung dengan sikap golongan yang terakhir, namun tetap menghargai sikap golongan yang lain dengan berbaik sangka mereka belum memahami. Maka inilah tugas kita para da’i Khilafah untuk memahamkan mereka dan mendakwahkan sistem yang haq ini seluas-luasnya kepada kaum muslimin, selebihnya kita mohon kepada Allah agar memberikan petunjuk Nya kepada ummat Islam agar segera di pahamkan dan sadar kemudian mengambil sikap segera merapatkan diri kepada Kekhalifahan Islam yang sudah di maklumatkan. Wallahu a’lam.

Rate this article!

Related Posts