UMMAT BUTUH SATU KEPEMIMPINAN BUKAN SEKEDAR SATU TUJUAN

TARBIYAH 0

Tubagus Herzamli

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Dien (agama), apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, Tegakkanlah Dien (agama) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya …”.  (QS. Asy Syura (42) : 13).

          “Yang terpenting kita sama-sama se-Aqidah, biarpun jalan nya berbeda-beda yang penting kita satu tujuan, berjuang untuk Islam”. Satu penggalan kalimat yang mashur dikalangan awam bahkan sampai ke tingkat ulama. Pertanyaannya, apakah kalimat ini sesuai dengan keterangan didalam Al Qur’an atau hadits ? Atau hanya pendapat seseorang saja, yang kalau kita lihat secara sepintas “sepertinya” benar. Semoga kita bisa mengkajinya lebih dalam agar tidak salah dalam mengambil keputusan, karena resiko nya sampai di akhirat nanti.

            Yang dibutuhkan ummat Islam saat ini yang sedang tertindas, terdzalimi dan dalam kondisi yang memprihatinkan bukanlah sekedar sepemahaman dan satu tujuan saja, tetapi yang lebih urgen adalah ummat Islam harus berada didalam satu kepemimpinan Islam, inilah hakekat persatuan agar memiliki kekuatan. Bukan banyak wadah dan banyak pemimpin yang membuat Islam hancur bahkan berkeping-keping. Ini sunatullah dan bisa dipikirkan oleh akal.

        Sistem apapun dia membutuhkan persatuan dalam satu kepemimpinan agar memiliki kekuatan dan yang paling penting agar berjalannya suatu ajaran secara sempurna sehingga  langgeng dan berkesinambungan.

            Sebagai contoh yang nyata adalah sistem demokrasi yang sedang berjalan di negri ini dengan seorang pemimpin yang bernama presiden. Tahun 2004 yang mencalonkan diri menjadi presiden ada empat orang, Sby, Mega, Gus Dur dan Amin Ra’is. Coba kita bayangkan kalau negri demokrasi ini semua calon menjadi presiden, apakah dapat berjalan sistem demokrasi dengan baik. Tentunya akan terjadi kekacauan. Begitu pula yang terjadi didalam sistem-sistem yang lainnya seperti Komunis, Liberalis dan sistem kerajaan, pasti mereka menghendaki punya satu orang pemimpin agar sebuah ajaran dapat berjalan.

            Benarlah apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib RA terkait terorganisir, sebagaimana beliau mengatakan, “Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Yang dikatakan terorganisir itu apabila dipimpin oleh satu orang pemimpin agar satu derap, satu langkah, satu komando dan satu jalan menuju satu tujuan. Inilah seharusnya Islam, maka Allah secara tegas didalam banyak ayat-Nya mengharamkan perpecahan. Pada hakekatnya ummat Islam dikatakan berpecah belah manakala berada didalam banyak wadah dan banyak pemimpin.

            Mari kita kaji sejarah didalam Islam agar kita sama-sama faham hakikat perpecahan yang harus kita hindari. Ada ibrah yang dapat kita ambil ketika wafatnya Rasulullah  SAW, yakni peristiwa Tsaqifah bani Sa’idah. Kita sama-sama tau bagaimana kaum Anshor dan Muhajirin di hadapan Allah, mereka mulia dan tercatat dengan tinta emas didalam Al Qur’an di surat At Taubah ayat 100. Dua kaum yang menentukan kemenangan Islam ini hampir terjadi perpecahan ketika wafatnya Rasulullah SAW. Masing-masing mengusulkan agar kepemimpinan di bagi dua, dari kaum Anshor dipimpin oleh Sa’ad bin Ubaidah RA, sedangkan dari kaum Muhajirin mengajukan pemimpin dari kaum Muhajirin. Namun, atas rahmat Allah melalui sahabat Umar bin Khatthab RA yang segera menyatakan bai’at dengan mengambil tangan sahabat Abu Bakar Ash Shidiq RA agar bersedia menjadi Khalifah bagi ummat Islam ketika itu, dan tidak susah meyakinkan sahabat yang lain dari kaum Anshor dan Muhajirin untuk membai’at Abu Bakar Ash Shidiq RA. Dengan sistem Khilafah dan terangkat Abu Bakar Ash Shidiq sebagai Khalifah /Amirul Mukminin maka selamatlah ummat Islam dari perpecahan.

            Padahal kita sama-sama tau bagaimana hebatnya aqidah sahabat Anshor dan Muhajirin, bahkan tujuan untuk memenangkan Islam sudah mereka buktikan dengan “Futuh Mekah”, tetapi mereka tidak kemudian berjalan masing-masing, jalan bagi kalangan Anshor dan jalan bagi kalangan Muhajirin. Tetapi mereka satu kepemimpinan Islam didalam sistem Khilafah dan satu pemimpin Islam yaitu Abu Bakar Ash Shidiq RA sebagai Khalifah /Amirul Mukminin dan Al Qur’an dan hadits sebagai tuntunan.

            Sahabat adalah sebaik-baik generasi dalam itiba’ (mengikuti contoh) Rasululllah SAW. Sudah seharusnya kita ummat Islam mengikuti para sahabat dalam itiba’ kepada Rasulullah SAW. Cukup dengan itiba’ (mengikuti contoh) dan tidak diperkenankan berimprovisasi dengan akal kita dengan dalih ijtihad. Ijtihad diperlukan manakala hal tersebut tidak ada dalam Qur’an, hadits, contoh sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, karena Allah telah tegaskan bahwa Islam sudah sempurna. Biasanya di zaman sekarang ini ijtihad yang dibutuhkan lebih kepada masalah furu’ (cabang) dalam hal ibadah dan kemaslahatan, bukan masalah ushul (pokok) dalam ibadah.

            Bahkan hal terkecil saja didalam Islam sudah diatur dengan baik, seperti bagaimana kita memakai sepatu, bagaimana cara kita makan, bagaimana cara kita masuk toilet, bagaimana kita tidur, bagaimana kita bangun tidur. Apakah mungkin masalah yang besar dan sangat fundamental dan mendasar yaitu berjama’ah dan berkepemimpinan didalam Islam tidak diatur dan tidak ada contoh untuk kita ikuti.

            Kepemimpinan didalam Islam merupakan hal yang sangat fundamental. Tidak boleh digantikan dengan sistem dan istilah yang lain. Namun fakta yang terjadi saat ini, asal masyarakatnya mayoritas muslim, sementara sistemnya demokrasi, tuntunannya selain Qur’an dan Hadits dan seorang pemimpinnya adalah presiden, sebagian mereka bahkan yang predikat ahli ilmu menyatakan itu adalah pemimpin Islam yang disebut “Ulil Amri” yang harus ditaati. Padahal Allah telah tegaskan didalam Qur’an syarat Ulil Amri adalah, “…Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”. (QS. An Nisa (4) : 59).

            Perbedaan kita dengan sahabat ketika mereka hidup di zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, ketika turun perintah Allah melalui Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam maka mereka langsung mempraktekannya sesuai kemampuan mereka (mastato’tum) setiap ayat-ayat Allah dan mereka jadikan pedoman didalam hidupnya dengan meninggalkan secara totalitas budaya jahil yang dulu sempat menghiasi hidupnya. Sebagai contoh, ketika turun ayat tentang jilbab, mereka menggunakan kain yang ada bahkan gorden dijadikan untuk hijab, karena tuntutan keimanannya.

            Tetapi tidak bagi kebanyakan ummat Islam di zaman sekarang ini, ayatnya sudah turun 14 abad silam dan Allah telah katakan sudah sempurna dan seharusnya kita tinggal mempraktekannya sesuai kemampuan. Tetapi kebanyakan muslim hari ini, bahkan yang dikatakan cendikiawan muslim, masih mempertanyakan relevan-sinya dan dibahas dalam banyak seminar-seminar. Seperti halnya membahas sistem Khilafah saat ini, yang pada akhirnya semakin membuat ummat Islam yang awam bingung mau mengikuti yang mana.

            Kepada ummat Islam saat ini, bekali diri kita ini dengan ketaqwaan kepada Allah, menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Salah satu perintahnya adalah bersatu dan salah satu larangannya adalah berpecah belah. Mohonlah kepada Allah agar ditunjukan jalan yang benar sehingga Allah memberikan hati kita ini Furqon. Sebagaimana Allah I berfirman,

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan (petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil) …”. (QS. Al Anfaal (8) : 29).

            Sebagai bahan tadzkirah bagi kita ummat Islam, sebuah hadits untuk kita renungkan. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda, “…Sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk Surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam ditanya oleh sahabat, wahai Rasulullah, “Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ? Rasulullah SAW menjawab, Al Jama’ah, orang yang senantiasa mengikutiku dan para sahabatku”. (Ibnu Majah no 3992). Inilah yang harus kita ikuti, bukan berimprovisasi membuat jama’ah versi pemikirannya masing-masing.

            Sistem Kepemimpinan yang dikenal di dalam Islam hanya ada dua, sistem an-nubuwah(kenabian) dan Nabi atau Rasul sebagai pemimpinya dan hal ini dibatasi hanya sampai Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sebagai khotaman nabiyyin (penutup para nabi). Dan setelahnya ummat Islam terorganisir didalam sistem Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah/Amirul Mukminin sampai hari kiamat.

            Apakah kita akan merasa tenang sementara kematian akan menjemput kita secara tiba-tiba, tetapi kita tidak berada didalam sistem kepemimpinan yang Haq. Harusnya kita mencari dan tetap kan diri ini pada sistem Khilafah yang dengannya kita berharap akan menuju Surga-Nya. Segeralah berfikir dan mengambil untuk sikap bergabung dengan Kekhalifahan yang telah dimaklumatkan.[TB]

Tags:

Related Posts