TA’ADDUD, HANYA MUJAHIDAH YANG MAMPU

TARBIYAH 0

“…Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja …”. (QS. An Nisaa (4) : 3).

            Melihat dan membaca ayat ini, bisa jadi ada banyak mata yang melirik  atau mungkin setengah sinis. Ayat yang bisa menuai pertentangan antara ucapan dan perilaku. Sebab untuk ucapan,  sepertinya semua ummat muslim yang taat akan menerima ayat tersebut, tetapi soal hati siapa yang tahu.

            Ta’addud alias Poligami itu apa sebenarnya?. Untuk lebih memahami dan mengerti tentang hal ini sehingga pro dan kontranya tidak sampai menjerumuskan pada penyakit hati ada baiknya kita telaah beberapa poin sebagai dasar pemikiran dan tadzkirah buat kita. Diantaranya adalah :

  1. TAKDIR. Sebuah rumah tangga yang dibangun oleh pasangan yang taat pada perintah Allah, juga pasti taat pada ketetapan-Nya.  Ini masuk kepada rukun iman yang ke 6, yaitu Takdir. Baik itu takdir yang baik untuk kita, ataupun yang kita anggap buruk. Karena takdir jugalah semua hal yang tidak diinginkan bisa terjadi, dan sebaliknya. Allah yang menetapkan, Allah yang memilih yang mana yang menurut-Nya baik untuk hamba-Nya.  Dan kita hanya berkewajiban bertawakal, serahkan segala urusan hanya pada-Nya. Bisa jadi yang baik menurut kita belum tentu baik untuk kita dan sebaliknya. (lihat QS. Al Baqarah : 216). Maka tingkatkan lagi kadar keimanan kita pada-Nya, percaya penuhlah atas segala Iradah-Nya.
  2. KESANGGUPAN. Lihat Qur’an surat Al Baqarah ayat 286. Ingat lagi soal iman, kali ini rukun iman ke 3, “Percaya pada kitab-kitab Allah”. Berarti kita juga harus beriman pada ayat diatas, arti dari potongan awal ayat itu berbunyi, “Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sesuai  kesanggupannya”, terlebih lagi soal ta’addud. Pernahkah mendengar kalimat “semakin tinggi pohon, akan semakin kencang pula angin yang berhembus”. Maka semakin tinggi iman seseorang, ujiannya juga bertambah berat. Lalu,  bagaimana dengan ujian Ta’addud. Semua wanita (khususnya yang telah menikah) pasti berfikir bahwa itu adalah ujian terbesar . Jadi siapa yang bisa mendapatkannya, apakah akan dialami oleh muslimah kelas “Biasa” atau kelas “Luar Biasa”. Tidak mungkin wanita dengan iman “pas-pasan” bisa mendapatkan ujian sebesar itu, tetapi “Mujahidah” pasti mampu melakukannya atas izin Allah. Sekali lagi Allah lebih tau hamba-Nya yang sekedar mampu,  terlihat mampu,  sok mampu,  atau benar-benar mampu lagi siap.
  3. MILIK ALLAH. Lihatlah ayat Allah Qur’an surat Al Baqarah ayat 156. “Sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya”. Ini diperuntukkan bagi “muslimah” yang mengira ujian Ta’addud adalah musibah.  Sebab tidak semua muslimah yang berpendapat seperti itu. Ini mengenai kepemilikan. Walaupun telah menikah, apa lantas pasangan kita menjadi milik kita? Apa boleh kita berkata “suamiku milikku”? Terdengar Posesif. Padahal kalaupun ada kepemilikan seorang laki-laki, maka yang berhak menjadi pemiliknya  adalah ibunya. Sebab ibunya lebih dekat dalam hal apapun, dibanding istrinya. Terimalah kenyataan, dia belum tentu diciptakan hanya untuk kita saja. Bisakah kita pastikan hanya kitalah “tulang rusuk” yang diciptakan untuknya? Berusahalah untuk jujur, yang kita takutkan sesungguh nya adalah “terbaginya rasa kasih sayang, cinta,  dan waktu”. Lantas kemana cinta  kepada Allah dalam hati kita, apakah telah penuh oleh cinta kita pada suami kita? Ketahuilah bahwa saat kita mendapatkan  ujian itu, itu adalah bentuk cinta Allah pada diri kita. Dan Pada akhirnya nanti Allah akan mengambil kembali semuanya, bukan hanya kita tetapi juga dia yang kita cinta.
  4. ADIL. Dalam al-Qur’an surat An Nissa ayat 3 Allah berpesan, “Kalau khawatir tidak mampu berlaku “Adil” maka cukup satu saja”. Namun, bagaimana seseorang itu akan bisa merasakan adil atau tidak, sementara tidak pernah dia melakukan-nya, sama halnya ketika orang menggam-barkan rasa garam itu “asin” tetapi dia tidak pernah memakan garam. Andai pun suami yang memilih untuk Ta’addud itu tidak berlaku adil toh sudah ada balasannya. Jika kita berpikir suami menikah lagi tanpa berfikir panjang sedang kita tahu pasti se-sholeh  apa suami kita ketika hidup bersama, berarti kita salah mengenalnya selama ini.  Menikah yang ke 2, 3 atau 4 adalah perkara yang tentunya akan dipikirkan matang-matang sebelum diputuskannya, karena hal ini adalah sesuatu yang berat pula baginya. Husnudzonnya, tidak akan pernah dirinya mengambil keputusan sebelum ia yakin bahwa ia mampu. Percayalah padanya,  bukankah itu yang dinamakan cinta.
  5. CINTA. Seberapa besar cinta kita pada suami kita, pernah bertanya dalam hati kita atau kita hanya mencintai sebatas duniawi saja pada dirinya. Pernahkah kita berfikir cinta kita adalah keinginan untuk melihatnya bahagia dan selamat dunia akhirat. Bagaimana dengan seseorang yang dengan perlahan dia mintakan izinnya untuk juga bersama suami kita. Apakah dengan cinta yang kita miliki, kita akan mengizinkannya. Bukan berarti diri kita kurang dimatanya.  Hanya saja sudah fitrahnya untuk merasakan rasa yang sama yang ia rasakan padamu kepada 2, 3 atau 4 wanita yang dinikahinya. Harusnya kita bahagia sebab ditakdirkan oleh Allah menjadi yang pertama. Berikanlah kesempatan untuk mereka. Mereka yang juga ditakdirkan untuk berada diposisimu. Seharusnya kita berterima kasih sebab bersedia membantu kita untuk menjaga suami secara bersama-sama.

            Maka kesimpulannya, kita sebagai muslimah harus yakin semua yang terjadi pada diri kita adalah atas kehendak-Nya. Bahwa yakinlah Allah hanya akan menguji “Mujahidah” yang memiliki iman yang “Luar biasa” dengan ujian yang maha berat ini. Bantulah suami yang Allah takdirkan Ta’addud agar berjalan sesuai syari’at. Karena kalau dipikirkan yang berat justru suami kita, harus menafkahi lahir dan batin lebih dari satu istri, dituntut harus berlaku adil dan di akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. Sungguh berat bukan?

            Jadi, wahai muslimah yang senantiasa percaya dan menyerahkan segala urusan pada Allah,  Sang Pemilik hati dan cinta.  Bisakah kau ucapkan ini padanya, “Dik, terima kasih telah datang,  dan mau membantuku menjaganya, sebab perantara hadirmulah aku tersadar,  betapa aku mencintainya,  dan betapa  besar Allah mencintaiku”. Wallahu a’lam.

Tags:

Related Posts