SABAR MENUNGGU KEMENANGAN JANJI ALLAH

TAFSIR 0

Zulkifli Rahman Al Khateeb

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat [1405]. Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al Fath (48) : 27-28).

[1405]  Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah Maka orang-orang munafik memperolok-olokkan nabi dan menyatakan bahwa mimpi nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat Ini yang menyatakan bahwa mimpi nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. dan sebelum itu dalam waktu yang dekat nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, Maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

Telah diperlihatkan kepada Rasul SAW dalam mimpi beliau bahwa beliau pasti akan memasuki kota Mekkah (Masjidil Haram) dan akan tawaf di Ka’bah dalam keadaan aman, tentram dan damai. Akan tetapi peristiwa yang terjadi dalam perjanjian Hudaibiyah yang mengharuskan mereka untuk kembali telah menimbulkan keraguan pada sebahagian kaum muslimin. Mereka saling berbincang-bincang bukankah Rasulullah SAW sudah mengatakan, bahwa Beliau bermimpi kita akan memasuki Masjidil Haram?. Diantara mereka ada yang diam bersabar dan diantaranya ada yang saling berbantah.

Datanglah Umar bin Khattab menghadap Rasulullah SAW mempertanyakan permasalahan ini diantara yang beliau sampaikan : Ya Rasulullah, bukankah engkau telah memberitakan kepada kami bahwa kita akan memasuki kota Mekkah dan tawaf di Baitullah. Rasulullah SAW menjawab : Benar Wahai Umar, Apakah aku juga sudah mengatakan bahwa kita akan memasukinya tahun ini ? Umar menjawab : Tidak, Rasulullah SAW bersabda maka bersabarlah kita pasti akan memasukinya.

Hal ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Abubakar As Siddiq untuk menenangkan kaum muslimin bahwa kemenangan itu pasti akan datang pada waktunya atas izin Allah. Dan kita pasti akan menyelesaikan prosesi ibadah haji sampai mencukur rambut dalam keadaan aman tanpa rasa takut seperti  yang Allah firmankan dalam ayat diatas.

Adapun pada kali ini rasa takut masih menghantui sebahagian mereka padahal Allah menjelaskan kondisi masuk mereka sebagaimana yang dijanjikan itu dalam keadaan aman tanpa rasa ketakukan, dari sini pahamlah sebagian mereka bahwa bukan sekarang waktu yang dimaksud oleh ayat ini Pada tahun berikutnya (tahun ketujuh hijriyah bulan Dzulqa’dah) sesuai isi perjanjian Hudaibiyah mereka boleh memasuki Ka’bah dan tawaf tanpa membawa perlengkapan perang hanya sekedar pedang yang disarungkan, maka Rasulullah SAW pun memasukinya. Beliau berihram dari Dzulhulaifah dan membawa serta hadyu-nya, yang menurut suatu riwayat sebanyak 60 ekor unta. Nabi SAW mengucapkan talbiyah dan para sahabatpun mengikutinya hingga rombongan mereka sampai dekat Zahran, mereka berhenti sejenak dan Rasulullah SAW mengirimkan Muhammad bin Maslamah beserta beberap orang pasukan berkuda yang lengkap dengan senjatanya agar berada di depan mendahului beliau. Ketika orang musyrik melihat pasukan berkuda itu mereka dicekam oleh perasaan takut yang amat sangat mereka mengira Rasulullah SAW akan menyerang mereka dan bahwa Rasululah SAW telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah ditanda tangani oleh mereka dan beliau yang isinya diantaranya gencatan senjata selama sepuluh tahun.

Sementara itu Rasulullah SAW memerintahkan agar semua senjata yang dibawa oleh para sahabat yang lain berupa panah dan tombak untuk dikumpulkan lalu di amankan di lembah Ya’juz barulah beliau meneruskan perjalanan bersama semua para sahabat yang lain dengan hanya membawa senjata pedang yang disarungkan sesuai syarat perjanjian. Ketika Rasulullah dan para sahabat hendak memasuki kota Mekkah datanglah Muqarris bin Hafes sebagai utusan dari Qurais menemui Rasullullah SAW dan berkata : Hai Muhammad, kami belum pernah melihatmu merusak perjanjian, Rasulullah SAW bersabda : Apa yang kamu maksudkan ?

Muqarris menjawab : Engkau masuk ke kota kami dengan membawa senjata lengkap serta panah dan tombak, maka Rasulullah SAW : Itu tidak benar. Kami telah meninggalkan senjata-senjata kami. Muqarris berkata : Kalau demikian berarti engkau menepati janji.

Beliaupun memasuki kota mekkah, sementara para pemimpin dan pembesar-pembesar kafir Qurais keluar meninggalkan mekkah untuk sementara, karena mereka tidak mau melihat Rasulullah SAW dan para sahabat berada di mekkah melaksanakan ibadah haji sementara penduduk mekkah lainnya baik laki, wanita dan anak-anak duduk-duduk dipinggir-pinggir jalan maupun dari atas-atas rumah mereka untuk menyaksikan kedatang Rasulullah dan para sahabatnya dalam menuansa yang penuh kedamaian. Mereka membaca talbiyah, Rasulullah SAW berada dibarisan depan mengendarai Al Quswah (unta beliau) yang dituntut oleh Abdullah bin Rawahah Al Anshory.

Merekapun melakukan semua manasik dengan baik, Pada hari ketiga datanglah utusan qurais untuk mengingatkan beliau bahwa sesuai perjanjian hudaibiyah mereka hanya bisa bermukim tiga hari lamanya, sementara prosesi telah semua dilakukan maka beliaupun mengajak semua sahabat untuk kembali ke yastrib.

Ayat berikutnya : Artinya : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa agama yang haq agar dimenangkannya dari semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Al Fath : 28). Ayat ini menerangkan bahwa tahapan kemenangan yang Allah janjikan kepada Rasul-Nya SAW tidak hanya berhenti sampai disini, tetapi perjalanan masih panjang hingga Allah memenangkan Din-Nya atas semua agama. Sebagaimana janji Allah yang sebelumnya telah tertunaikan (Umratun Qada) maka janji Allah yang lainnyapun pasti akan terlaksana ketika saatnya tiba walaupun orang-orang kafir menghalang-halanginya sebagaimana Allah sebutkan dalam Surat Shaf ayat 8 – 9, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”.

Bukti iman kepada Allah ditandai dengan keyakinan akan janji-janji Allah untuk dikejar dan diupayakan bukan sekedar ditunggu dan dinantikan. Untuk diperjuangkan dan diikhtiarkan bukan sekedar dicita-cita dan dihayalkan, demikianlah penegakan din ini dari dahulu hingga sekarang, hingga kapanpun tidak akan bergesar dari sunnatullahnya, bahwa kemenangan islam pasti akan datang dan kehancuran bagi kebatilah pasti akan terjadi, hanya saja terkadang Allah mengulur waktunya hingga Allah melihat siapa yang benar-benar yakin akan janji Allah dan tidak lagi menaruh harapan pada kebatilan meski sedikitpun tetapi hanya menaruh harapan semata-mata karena Allah. Tidak berharap pertolongan dari orang-orang kafir maupun thogut tetapi hanya berharap pertolongan dari Allah dan orang-orang beriman saja, karena hakikat keimanan adalah mengikhlaskan pengabdian hanya kepada Allah dan tidak sedikitpun bersedia mengabdi kepada selain Allah apalagi kepada thogutr, murninya keimanan yang diajarkan oleh seluruh nabi yang diutus Allah adalah seperti yang tertera di Ayat berikut, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS. An Nahl (16) : 36).

Ayat ini menerangkan tentang dua golongan yaitu golongan yang berhamba kepada Allah dan golongan yang menghamba kepada Thogut. Yang menghamba kepada Allah disebutkan sebagai yang mendapat hidayat sementara yang menghamba kepada thogut disebut bahwa mereka telah benar-benar tersesat. Semoga Allah SWT memandaikan kita untuk mengabdikan diri secara totalitas hanya kepada Allah dengan pengabdian yagn murni tidak tercampur kesyirikan sedikitpun dan semua Allah mampukan kita untuk benar-benar berlepas diri dari thogut dan kekufuran. Serta menolongan kita untuk mencapai kemenangan. Aamin. Wallahu a’lam.

Tags:
Rate this article!

Related Posts