PILIH DEMOKRASI ATAU ISLAM

OPINI 0

Mohammad Mukhliansyah

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah),mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf (7) : 179).

            Pertarungan antara dua sistem yakni sistem Demokrasi dan sistem Islam hari ini sungguh amat dahsyat dan sangat menentukan. Sebagian besar kaum muslimin yang sudah teracuni sistem Demokrasi dalam memilih kepemimpinanya menjadi bagian dan pendukung Demokrasi. Padahal Demokrasi sangat jelas sistem yang bertentangan dengan Aqidah Islam.

            Sistem Demokrasi dari istilah bahasa saja jelas bermakna kekuasaan ada di tangan rakyat, maka otoritas membangun hukum dan tatanan kehidupan bermasyarakat atau bernegara mutlak di tangan rakyat. Meskipun rakyat itu beriman atau tidak beriman kepada Allah. Meskipun rakyat itu mendukung syari’at Allah atau para penentang syari’at Allah sebagai Yang Maha Pencipta. Tidak peduli ! Tetap kekuasaan sepenuhnya ada di tangan Rakyat ! Dengan prosedur, mendapat dukungan suara terbanyak.

            Maka, sesuatu yang halal bisa berubah menjadi haram dan yang haram bisa berubah menjadi halal, yang penting suara terbanyak sudah memutuskan dan mendukungnya. Padahal Allah ﷻ berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al An’am (6) : 116)

Dalam Islam, bukan suara terbanyak yang diikuti kalau hal itu batil, ajaran Islam memilih suara kebenaran meskipun pendukungnya sedikit. Kebenaran adalah segala sesuatu ajaran yang berdasarkan Al Qur’an dan As Sunah yang sahih.

Allah mengajarkan kepada kita untuk meninggalkan orang-orang yang memperolok–olokan ayat-ayat Allah sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”. (QS. An Nisa (4) : 140).

Agar kita tidak termasuk golongan mereka, kaum pembangkang syari’at Allah, kaum penipu yang pura-pura Islam tetapi membenci Islam.

            Allah secara definitif dan pasti memerintahkan agar kita hanya mengikuti aturan Allah sebagaimana di dalam firman Nya, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisa (4) : 60).

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisa (4) : 65).

            Dan Allah menekankan agar kaum muslimin jangan sedikitpun ragu dengan Al Qur’an sebagai panduan yang benar. Simak al Qur’an surat al baqarah ayat 2, “Kitab Al Quran Ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

“Barangsiapa mencari sistem hidup selain sistem Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran (3) : 85).

            Maka tatkala para pendukung Demokrasi dari kalangan orang-orang yang mengaku beriman memilih sistem itu maka pilihan itu tidak akan diterima oleh Allah dan termasuk kalangan orang-orang yang rugi.

            Sebagai orang-orang yang beriman hanya kepada Allah kita berserah diri. Mari kita renungkan ayat Allah, “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. (QS. Ali Imran (3) : 160). Wallahu a’lam

Tags:
Rate this article!

Related Posts