PERPECAHAN TERHINDAR KARENA TERPILIHNYA SEORANG KHOLIFAH

SIRAH NABAWI 0

Setelah wafatnya Nabi Muhammad statusnya sebagai Nabi & Rasul tidak dapat diganti oleh siapapun (khatami al-anbiya’ wa al-mursalin), tetapi kedudukan beliau sebagai pimpinan kaum muslimin mesti segera ada gantinya. Itulah yang dinamakan “Khalifah” artinya yang menggantikan Nabi menjadi pemimpin kaum muslimin (Ulil Amri) dalam memberikan petunjuk ke jalan yang benar dan menjaga hukum-hukum Islam hingga hari kiamat. Dialah yang menegakkan keadilan yang selalu berdiri diatas kebenaran ajaran Islam.

            Maka setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat segera bermusyawarah  untuk  mencari  pengganti  Rasulullah.  Setelah  terjadi  perdebatan sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, akhirnya terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai Khalifah, artinya pengganti Rasul yang kemudian diangkat menjadi Khalifah /Amirul Mukminin. Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah.

PERISTIWA TSAQIFAH BANI SA’IDAH

            Memang diakui oleh seluruh ahli sejarah Islam bahwa Rasulullah Shallahu alaihi wasalam yang wafat tahun 11 H tidak meninggalkan wasiat tentang orang yang akan menggantikannya. Oleh karena itu, setelah Rasulullah Shallahu alaihi wasalam wafat para sahabat segera berkumpul untuk bermusyawarah di suatu tempat yaitu di Tsaqifah Bani Sa’idah guna memilih pengganti Rasulullah (Khalifah /Amirul Mukminin) untuk memimpin ummat  Islam.

            Dalam pertemuan ini sedikit mengalami kesulitan bahkan hampir terjadi perpecahan dikalangan ummat Islam, karena masing-masing kaum mengajukan calon pemimpin dari golongannya sendiri-sendiri. Pihak Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubaidah Radiallahu anhuma, dengan alasan mereka yang menolong Nabi ketika keadaan di Makkah genting. Kaum Muhajirin menginginkan agar pengganti Nabi dipilih dari kelompok mereka, sebab Muhajirin-lah yang telah merasakan pahit getirnya perjuangan dalam Islam sejak awal mula Islam. Sedang dipihak lain terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali Bin Abi Thalib Radiallahu anhuma, karena jasa-jasa dan kedudukannya selaku menantu Rasulullah Shallahu alaihi wasalam. Hingga peristiwa tersebut diketahui Umar bin Khaththab Radiallahu anhuma. Ia kemudian pergi ke kediaman Nabi r dan mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma. Kemudian keduanya berangkat dan diperjalanan bertemu dengan Ubaidah bin Jarrah Radiallahu anhuma . Setibanya di mejelis Tsaqifah Bani Sa’idah, mereka mendapatkan dua golongan besar kaum Anshar dan Muhajirin sedang berselisih pendapat.

            Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq Radiallahu anhuma berdiri di tengah-tengah mereka, kemudian menyampaikan tausiyah yang isinya merinci kembali jasa kaum Anshar bagi tujuan Islam. Disisi lain ia menekankan pula anugrah dari Allah yang memberi keistimewaan kepada kaum Muhajirin yang telah mengikuti Muhammad Shalallahu alaihi wasalam sebagai Nabi dan menerima Islam lebih awal dan rela hidup menderita bersama Nabi. Tetapi tausiyah Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma tetap membuat kedua kelompok masih tetap pada pendiriannya.

            Kaum Anshar masih menyarankan bahwa harus ada dua kelompok. Akhirnya sahabat Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma tampil ke depan dan berkata “Saya akan menyetujui salah seorang yang kalian pilih diantara kedua orang ini”, situasi ini menjadi lebih kacau lagi. Kemudian Umar bin Khathab Radiallahu anhuma  berbicara untuk mendukung Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma  dan mengangkat janji setia (bai’at) kepada sahabat Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma untuk menjadi Khalifah. Dia tidak memerlukan waktu lama untuk menya-kinkan kaum Anshar dan yang lain, bahwa Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma adalah orang yang paling tepat di Madinah untuk menjadi penerus dan pengganti Rasulullah sebagai Khalifah /Amirul Mukminin.

            Akhirnya musyawarah secara bulat menunjuk Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma untuk menjadi Khalifah /Amirul Mukminin. Dia adalah orang yang ideal, karena sejak mula pertama Islam diturunkan menjadi pendamping Nabi, dialah sahabat yang paling memahami risalah Rasul. Disamping itu beliau juga pernah menggantikan Rasulullah Shallahu alaihi wasalam sebagai imam shalat pada saat Rasulullah Shallahu alaihi wasalam sakit.

            Setelah mereka sepakat dengan gagasan Umar bin Khaththab Radiallahu anhuma, kabilah demi kabilah maju kedepan dan bersama-sama berbai’at (berjanji setia) membai’at Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahu anhuma sebagai Khalifah /Amirul Mukminin. Bai’at tersebut dinama-kan Bai’at Tsaqifah karena bertempat di balai Tsaqifah Bani Sa’idah.

            Rasulullah Shallahu alaihi wasalam bersabda, “Dulu Bani Israel senantiasa dimpimpin oleh para nabi, setiap kali seorang nabi wafat maka akan digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah aku (Muhammad). Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka akan berjumlah banyak …”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

            Dua Khalifah dalam satu masa dan di dalam satu wilayah padahal dengan sistem Kekhalifahan saja adalah sebuah perpecahan ummat Islam yang tentunya akan menghancurkan tatanan kepemim-pinan ummat Islam yang menyebabkan tidak terlaksananya hukum-hukum Allah. Allah menegaskan, “…Janganlah kamu termasuk orang-orang yang memperseku-tukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum (30) : 31-32).

            Apalagi saat ini ummat Islam yang berfirqah-firqah dan bukan didalam Kekhalifahan Islam, mereka berada didalam golongan-golongan. Dengan dalih tujuan nya sama, tauhid dan aqidah yang sama sudah merasa cukup padahal mereka tidak berada didalam satu sistem kepemimpinan yang sama yaitu sistem Kekhalifahan. Semoga ummat Islam sadar dan menyadari hakekat perpecahan yang sangat dilarang oleh Allah dan segera menetapi kepmimpinan Islam yang Haq yaitu Kekhalifahan Islam.

(red, sumber : Sejarah Peradaban Islam).

Tags:

Related Posts