PERPECAHAN ADALAH AZAB ALLAH

TARBIYAH 0

Ustadz Ahmad Shobirin

           Jika ada suatu kekuaan yang sangat dahsyat yang di dukung oleh sistem yang sangat sempurna, maka sebenarnya itulah persatuan ummat Islam. Namun sejak runtuhnya “Jama’atul Muslimin”, Khilafah Islamiyyah pada 3 Maret 1924 M, sejak saat itu ummat Islam telah kehilangan harga dirinya. Kehebatan dan kegigihannya telah mulai pudar, izzatul Islam wal muslimin telah mulai hilang dari bumi persada ini.

            Gigihnya kaum Yahudi yang di dukung oleh para ulama suu, ulama yang berorientasi keduniaan ataupun karena motif lain adalah beberapa hal yang mempercepat hancurnya kemuliaan Islam. Sejak saat itu ummat Islam melalui corong ulama suu lebih senang menjadi pengokoh-pengokoh sistem Yahudi, yakni nasionalisme atau sistem thagut daripada membangun kembali satu-satu nya sistem Islam yakni sistem Khilafah. Sejak saat itu pulalah ummat Islam telah memukai babak baru, yaitu babak kehinaan bagi ummat Islam.

            Ummat Islam yang jumlahnya cukup besar di dunia ini, yang seharusnya menggetarkan musuh-musuh Islam, kenyataannya hanya sebagai mainan kecil yang berada di tangan musuh-musuh Islam. Yang lebih ironis lagi, ummat Islam dengan berpecah belah kita lihat fakta nya dimana-mana saling menumpahkan darah, bantai membantai hanya karena berbeda bangsa, berbeda kelompok dan berbeda golongan. Darah bangsanya lebih kental daripada darah Islamnya, Maha Benar Allah dengan segala firman Nya, bahwa bergolong-golongan itu merupakan bagian daripada azab Allah. Sebagaimana Allah berfirman, “Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)”. (QS. Al Anam (6) : 65). Begitu pula Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad bahwa bergolong-golongn itu adalah azab.

Sudah cukup lama ummat ini di tempa dengan pengalaman kepahitan dan berbagai kegagalan yang datang silih berganti. Lengkap sudah untuk mengadakan muhasabah historis dengan jujur dan lapang dada, mari kita renungi kembali firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya tlah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Hadiid (57) 16).

PERSATUAN UMMAT ISLAM MENJADI HARGA MATI

            Siapapun orangnya yang masih menghembuskan nafasnya dimanapun ia berada diatas bumi Allah ini, mereka itu tetap mempunyai tanggung jawab yang sama, yaitu meninggikan kalimat Allah diatas segala-galanya. Memperjuangkan syari’at Allah (Islam) diatas bumi Allah ini. Jika tidak dan bahkan sebaliknya yakni orang yang mengaku Islam menempatkan kalimat Allah lebih rendah dari kalimat manusia maka mereka akan terjerumus ke dalam kemusyrikan, dimana semua amal yang mereka kerjakan tidak terima oleh Allah SWT. Allah berfirman, “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az Zumar (39) : 65). Periksa juga QS. Al Anam (6) ayat 88.

            Satu hal yang harus dipahami bahwa di tengah-tengah arus globalisasi sekarang ini, sudah tidak mungkin ummat Islam akan menhadapi musuh-musuh Islam yang telah mengglobal bersatunya bisa dihadapi dengan hanya secara berkelompok tanpa melibatkan kekuatan ummat Islam seutuhnya. Potensi manusia menjadi lemah jika mereka itu bercerai berai, sebaliknya potensi itu akan menjadi besar dan kuat manakala manusia itu bersatu dan bekerja sama secara solid. Sedangkan ummat Islam tidak akan mampu bekerja sendirian menghadapi musuh-musuh Islam dalam sekala nasional apalagi internasional.

            Kegigihan dan kekuatan hanya akan di dapati manakala ummat Islam bersatu dengan jalan berjama’ah. Sedangkan slogan-slogan jahiliyah pun berkumandang, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Begitu juga di dalam Islam Allah dengan tegas mengancam ummat Islam yang tidak mau bersatu, Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran (3) : 103).

            Maka Allah secara tegas memeritahkan kepada ummat Islam agar bersatu atau berjama’ah dan mengharamkan berpecah belah. Persatuan ini harga mati bagi orang yang mengaku muslim, tidak boleh di tawar dan harus di bayar tunai.

ANCAMAN ALLAH JIKA TIDAK BERSATU

            Kalau kita perhatian ayat-ayat Allah didalam Al Qur’an dan di dalam hadits nabi, sudah barang tentu kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa bersatu atau berjama’ah bagi kaum musimin ini merupakan suatu kewajiban yang Islami. Maka dari itu seluruh ulama secara ijma’ telah menyepakati bahwa berjama’ah ata bersatu itu adalah wajib hukumnya.

            Yang menjadi satu pertanyaan sekarang adalah, apabila kewajiban bersatu atau berjama’ah ini sudah dipahami, apakah kaum muslimin pada hari ini telah bersatu dalam satu Jama’atul Muslimin yang ditafsirkan oleh sahabat adalah sistem Khilafah, atau kah saat ini masih berpecah belah, hidup di berbagai jama’ah – jama’ahnya orang Islam atau jama’ah minal muslimin. Perintah berjama’ah bagi kaum musimin ini sesungguhnya agar kaum muslimin tetap utuh dalam satu kesatuan kepemimpinan Islam , terhindari dari firqah-firqah atau kelompok-kelompok yang akan mengkotak-kotakan ummat Islam.

            Dari sinilah sebenarnya mulai hancurnya kekuasaan ummat Islam, karena sebenarnya setiap bentuk perpecahan di kalangan ummat Islam telah diancam oleh Allah dengan azab yang sangat besar, termasuk dalam kemusyrikan yang nyata sebagai mana Allah berfirman, “… Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah Dien (agama) mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum (30) : 31-32).

RAHMAT ALLAH HANYA DALAM AL JAMA’AH

            Di atas prinsip aqidah lailaha Ilallah maka kaum muslimin mempunyai satu kewajiban untuk bersatu didalam sistem Islam yang telah ditentukan oleh ajaran Islam itu sendiri. Meninggalkan terhadap prinsip ini berarti pembangkangan terhadap keyakinannya sendiri. Maka Allah dengan tegas mengancam terhadap orang-orang yang melecehkan prinsip ini dan memberikan stempel keluar dari Islam walaupun dia shalat, puasa, berhaji dan mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “… Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan al-jama’ah sejarak sejengkal, maka berarti telah melepaskan tali Islam dari lehernya, kecuali dia kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah, maka dia termasuk dari kumpulan penghuni neraka jahannam.” Kemudian seseorang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, meskipun dia shalat dan puasa?” Beliau SAW menjawab, “Meskipun dia shalat dan puasa…” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi).

            Hadits ini memperkuat ayat Allah didalam firman Nya, “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman, penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin, apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS. An Nisa (4) 138-139).

            Kesatuan ummat dalam Al Jama’ah sesungguhnya untuk membentuk pribadi-pribadi muslim dengan membebaskan wala’ (loyalitas) nya hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dalam kesatuan Al Jama’ah. Jika tidak berhimpun dalam Al Jama’ah dengan tidak memberikan ketaatan kepada tiga unsur ini yakni Allah, Rasul dan Ulil Amri maka lengkaplah dia menjadi kriteria golongan orang yang dimaksudkan didalam hadits di atas yakni bukan golongan Allah. Karena golongan Allah tidak akan pernah membarikan wala’ nya kepada orang-orang yang membangkang terhadap Allah, Rasul dan Ulil Amri mingkum.

Kriteria golongan Allah ini adalah orang-orang yang telah ditanamkan nilai-nilai keimanan didalam dadanya. Mereka itulah golongan Allah (Hizbullah), selainnya adalah golongan setan atau thagut yang diancam oleh Allah dengan azab yang besar. Allah berfirman, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka, meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah, ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. Al Mujadilaah (58) : 22).

            Sebagai kesimpulan, maka seorang muslim yang telah bersumpah dengan dua kalimah syahadat, untuk dapat terhindar dari ancaman azab Allah yang sangat besar, maka dia harus berada di dalam Al Jama’ah atau dalam satu-satunya sistem kepemimpinan Islam yakni sistem Khilafah, agar dia dapat mewujudkan ketaatan nya yang sempurna kepada tiga unsur yaitu Allah, Rasul dan Ulil Amri mingkum. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa (4) : 59). Wallahu a’lam

Rate this article!

Related Posts