PERJUANGAN ISLAM MENUNTUT ADANYA BUMI HIJRAH

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (QS. At-Taubah (9) : 20).

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya memelihara kelangsungan ajaran Islam dan menyiapkan generasi-generasi muslim yang betul-betul bertanggung jawab terhadap tegaknya ajaran itu sendiri, ini adalah suatu amanat yang harus tergantung pada leher-leher seorang yg telah bersumpah dengan dua kalimat syahadat.

Peristiwa hijrah atau sikap hijrah yang telah diwujudkan oleh Rasulullah dan para Sahabat-sahabatnya adalah satu bukti yang kongkrit keberhasilan Rasul di dalam mengantarkan Al Islam pada kejayaannya. Ini adalah warisan suci perjuangan yang tidak boleh ditawar-tawar betapapun berat dan konsekuensi yang harus dihadapi.

Terhinanya kehidupan kaum muslimin manakala kaum muslimin bergantung dan taat terhadap sistem-sistem kekafiran. Oleh karna itu, kaum muslimin harus berani melepaskan diri dari keterikatan terhadap sistem-sistem kekafiran dengan jalan berhijrah. Baik hijrah ma’nawi atau hijrah keyakinan maupun hijrah makani yaitu hijrah dari tempat yang tidak aman dari menegakkan Al Islam ke tempat yang aman dalam menegakkan Al Islam itu sendiri.

Mengakhiri problematika umat Islam pada hari ini yang sedang berada di lembing keretakan hanya ada satu jalan yang harus ditempuh. Yaitu melalui jalan hijrah atau sikap hijrah.

ITIBA KEPADA PERJUANGAN RASULULLAH DALAM IQOMATUDDIEN

Dalam Q.s At-Taubah : 100 Allah SWT memberikan penegasan, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya tidak hanya diikuti atau dicontoh digadang dibidang ibadah-ibadah ritual serimonial belaka. Seperti cara berwudhu, shalat, shaum dan lain sebagainya. Tapi, bagaimana cara menegakkan syariat Islam ditengah-tengah satu sistem pemerintahan musyrikin quraisy atau sistem thagut sehingga berhasil dalam waktu yang relatif singkat yaitu 23 tahun itulah Rasulullah dan para Sahabatnya yang harus dijadikan contoh dan tauladan bukan Aristoteles yang melahirkan metode perjuangan demokrasi atau parlementer yang kemudian diagung-agungkan oleh dunia barat dan di jiplak serta dijadikan panutan oleh bangsa-bangsa didunia.

ISLAM TIDAK MUNGKIN BISA TEGAK DENGAN SISTEM DEMOKRASI

Kalau ada orang bertanya bisakah Islam ini ditegakkan dengan cara-cara yang tidak Islami, dengan demokrasi atau parlementer ? Maka jawabannya sudah barang tentu tidak bisa, karna akan menghalalkan segala cara. Maka Islam tidak bisa ditegakkan dengan cara komunis, karna komunis itu bukan cara-cara Islam. Begitu pula Islam tidak bisa ditegakkan dengan cara monarki dan demokrasi atau parlementer karna itu bukan cara Islam.

Sesuai dengan sunatullah, segala sesuatu akan tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya kalau sesuai dengan tabiat atau ketentuan Allah. Pohon padi, tidak akan tumbuh atau berkembang dengan baik jika cara pengolahannya memakai cara pengolahan pohon kelapa. Karna cara ini tidak sesuai dengan tabiat pohon padi. Dalam dunia hewan, bebek tidak akan bisa berkembang dengan baik jika cara pengembang biakannya memakai cara pengembang biakan binatang unta, karna cara ini tidak sesuai dengan tabiatnya.

Begitu pula dengan dunia ajaran Islam tidak akan bisa tegak kalau cara penegakkannya tidak sesuai dengan pola atau cara-cara Islam itu sendiri.

Pola parlementer adalah pola kerja sama atau pola talbis antara wahyu dan nonwahyu. Talbis antara al-haq dan yang bathil dalam rangka membentuk aturan-aturan atau undang-undang dalam Islam yang sangat dilarang (Q.s Al-Baqarah : 42).

Didalam Islam tidak ada pola tawar menawar atau tarik ulur dalam aturan atau undang-undang yang sudah baku. Karna kesemuanya sudah tercangkum didalam Al Qur’an dan As Sunnah. Perlu dipahami bahwa musyawarah Islam sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Q.s 42 : 38, ‘amruhum syuroo bainahum…’ urusan mereka diputuskan dengan musyawarah diantara mereka dan Q.s 3 : 159 ‘wa syaawirhum fil amri…’ dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Ini adalah musyawarah racun beserta sahabat-sahabatnya. Yakni orang beriman dengan orang beriman. Bukan mukmin wal kafirin. Disamping itu Musyawarah disini bukan musyawarah Menentukan undang-undang tetapi cuma dalam urusan-urusan yang menyangkut menyangkut masalah-masalah kepentingan orang banyak dan masalah-masalah taktik di dalam peperangan.

Maka syuro didalam Islam tidak sama dengan musyawarah versi demokrasi barat atau sistem parlementer. Musyawarah versi demokrasi barat adalah musyawarah campur aduk mukmin wal kafirin diatas landasan ra’yu dan meletakkan otoritas pengaturan manusia ditangan manusia secara mutlak sebagaimana kata demokrasi itu sendiri berasal dari kata demos dan krasi yang memiliki arti demos yaitu rakyat dan krasi yaitu kekuasaan. jadi kekuasaan secara mutlak berada di tangan rakyat atau manusia bukan di tangan pencipta manusia. Sedangkan syuro dalam Islam ini adalah khusus diantara orang-orang yang beriman, diatas landasan wahyu. Dan meletakkan otoritas pengaturan manusia kepada sang pencipta manusia yakni Allah Swt, Selaku Dzat yang Maha tahu segala gerak gerik manusia. Mulai dari manusia pertama hingga samlai dengan hari kiamat. Maka metode didalam meneggakkan syariat Islam, Allah sudah memberikan konsep-Nya didalam Al Qur’an dan telah dipraktekkan oleh manusia-manusia pilihanNya yaitu Rasul dan Sahabat-sahabatnya selama 23 tahun, Melalui dua periode. Yaitu periode makkah 13 tahun ditambah periode madinah 10 tahun. Dan ternyata keadaan Islam telah berhasil tegak ditengah-tengah suatu sistem pemerintahan musyrikin Quraisy atau sistem thagut yang tidak berdasarkan kepada Islam. Maka metode Rasul dan sahabat-sahabatnya inilah (Q.s 9 : 100) yang harus dijadikan acuan oleh kaum muslimin pada hari ini, dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam ditengah-tengah satu sistem yang tidak berlandaskan Islam yaitu sistem thagut. Bukan mencontoh metode perjuangan orang-orang barat, Aristoteles dan kawan-kawannya yang melahirkan pola perjuangan demokrasi/parlementer dengan atribut-atribut partainya.

METODE IMAN, HIJRAH DAN JIHAD

Metode Iman, Hijrah dan Jihad, adalah manhaj perjuangan Rasulullah Muhammad Saw. Sesuai dengan sunatullah segala sesuatu didunia ini akan tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya pasti akan melalui proses atau melalui tahapan-tahapan. Seperti contoh proses terjadinya bayi dalam kandungan ibu (Q.s 23 : 13-14), proses dewasanya manusia, proses tumbuhnya tanaman, dan lain sebagainya.

Maka begitu pula proses tegaknya syariat Islam sesuai dengan … Allah telah memberikan informasi-informasi dalam Al Qur’an tentang globalisasi tahapan-tahapannya. Yaitu melalui proses beriman, berhijrah, dan berjihad. (Q.s 9 : 20), (Q.s 8 : 74), (Q.s 2 : 218), (Q.s 16 : 41).

Didalam Al Qur’an banyak ayat ayat yang merangkai kalimat-kalimat iman hijrah jihad secara beruntun, diantara hal ini memberikan makna bahwa tiada jihad tanpa adanya hijrah dan tiada hijrah tanpa adanya iman. Atau dengan kata lain bahwa iman itu untuk hijrah dan hijrah itu untuk jihad, maka iman, hijrah, dan jihad inilah sebenarnya tahapan-tahapan atau marhalah perjuangan umat Islam.

Strategi dasar insani dalam rangka untuk mengharapkan rahmat Allah atau RidhoNya (Q.s 2 : 218) sebagai diri iman yang benar (Q.s 8 : 74) menuju ketinggian derajat dan kemenangan/kejayaan Islam dan ummat Islam itu sendiri yaitu izzatul Islam wal muslimin (Q.s 9 : 20) dimana Allah telah menjanjikan kehidupan dunia yang baik sedangkan kehidupan akhirat pasti akan lebih baik lagi.

SINKRONISASI PERJUANGAN DENGAN METODE KENABIAN

Pada dasarnya fenomena perjuangan Rasulullah dengan kaum muslimin hari ini khususnya di Indonesia ini tidak jauh berbeda, hanya fasilitaslah yang membedakan. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

  1. Rasul dan para Sahabatnya berusaha memperjuangkan tegakkan syariat Islam ditengah-tengah sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan Islam. Sebagaimana menurut Haikal dalam bukunya yang berjudul ‘Hayaatu Muhammad’ sistem pemerintahan musyrikin quraisy sudah hampir mirip dengan sistem republik sekarang. Sehingga sudah merupakan cikal bakal pemerintahan nasional. Atau berupa tipe nation state. Sedangkan posisi umat Islam dimana-mana khususnya di Indonesia pada hari ini hampir sama, yaitu berada dibawah satu sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan Islam, yaitu sistem republik.
  2. Pemerintah musyrikin quraisy pada waktu itu sudah mempunyai parlemen yang disebut Darun nadwah, dimana yang membangun parlemen tersebut adalah Qushay, Salah seorang pemimpin dari bani Quraisy. Bahkan yang mendominasi atau golongan suprastruktural politik pada waktu itu sudah ada yaitu golongan Quraisy. Sedangkan umat Islam dimanapun khususnya di Indonesia pada hari ini tidak terlepas daripada sistem demokrasi.

Pernahkah Rasulullah menempatkan Islam ini bagian daripada sistem pemerintahan musrikin Quraisy, sehingga Rasullah dan para sahabat-sahabatnya harus memberikan wala’ nya pada kekuasaan pemerintahan musyrikin Quraisy ? Atau pernahkah Rasulullah mengutus sahabat-sahabatnya untuk memperjuangkan Islam melalui parlemen pemerintahan musyrikin Quraisy atau Darun Nadwah pada waktu itu ?

Inilah yang perlu dijadikan bahan intropeksi bagi generasi Islam pada hari ini. Agar Allah Swt Ridho kepada kita. Karna Rasulullah dan para sahabatnya disini tidak hanya dicapai dengan shalat, shaum, dan hajinya saja. Tapi bagaimana cara menegakkan Islam ditengah-tengah satu sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan Islam atau sistem thagut sehingga berhasil. Inilah yang harus dijadikan acuan oleh genesari Islam padahari ini bukan … Aristoteles dan … Yang melahirkan metode perjuangan demokrasi atau parlementer yang kemudian diagung-agungkan oleh dunia barat dan dijiplak serta dijadikan panutan oleh bangsa-bangsa didunia.

  1. Rasulullah dan para sahabatnya berjuang dibumi Arab, suatu bumi tempat tumbuhnya awal Islam yang didapatkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Suatu bumi yang didalamnya ada kota Makkah dan ada kota Madinah. Kota Makkah adalah satu kota tempat perjuangan Awal Rasulullah didalam mengemban amanat Allah menegakkan syariatNya. Berdakwah dan membina akidah para sahabatnya.

Perjuangan yang penuh dengan tantangan, intimidasi, dan penyiksaan terhadap sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Sedangkan kota madinah adalah suatu kota atau suatu tempat yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah sebagai tempat kelanjutan daripada perjuangan. Suatu tempat yang kebanyakan penduduknya telah menerima Islam sebagai akibat Da’i-da’i yang telah di kirimkan oleh Rasulullah dari makkah kemadinah yang akhirnya diperkuat dengan adanya Baiat Aqabah pertama dan kedua. kota madinah inilah yang akhirnya menjadi tempat berhijrahnya Rasul dan para sahabatnya dalam melanjutkan perjuangan Islam. Orang-orang madinah yang menjadi anshar atau penolong terhadap muhajir-muhajir yang datangnya dari kota makkah, karna kota makkah sudah tidak aman lagi didalam memperjuangakan Islam. Kota madinah inilah yang akhirnya membentuk suatu mobilisasi kekuatan dari sahabat-sahabat Rasulullah setelah terjadinya pembinaan aqidah, dari beriman dan berhijrah dan kemudian setelah dikumandangkan jihad qital terjadilah perang badar, perang uhud, perang ahzab dan lain sebagainya yang akhirnya terjadilah futhu makkah. Langkah-langkah yang telah diwujudkan Rasulullah dan para sahabat dalam memperjuangkan Al Islam, mulai dari masih lemah sehingga Islam itu sendiri tegak dalam waktu yang relatif singkat dengan 23 tahun. 13 tahun periode makkah dan 10 tahun periode madinah. Ini bukan hanya menjadi suatu kajian sejarah bagi ummat Islam. Tetapi dia adalah satu warisan suci perjuangan yang tidak bisa ditawar-tawar. Betapapun berat dan konsekuensi yang harus dihadapi oleh ummat Islam itu sendiri. Sikap hijrah adalah merupakan suatu bukti yang konkrit bagi ummat Islam dalam mengantarkan ummat Islam pada izzatul Islam wal muslimin. Bumi Indonesia adalah bumi yang didalamnya mayoritas ummat Islam. Yang menjadi satu pertanyaan sekarang ialah ditengah-tengah mayoritas ummat Islam sekarang ini, apakah sudah tegak syariat Islam ? Jika belum, masih adakah ummat Islam yang mau bertanggung jawab terhadap tegaknya syariat Islam sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya. Jika ada, Bisakah syariat Islam ditegakkan dengan cara-cara yang tidak Islami(demokrasi) ? Ataukah harus dengan metode kenabian, cara nabi ?

Jika sudah ada yang menempuh metode kenabian, pertanyaannya sekarang sudah sampai dimanakah kualitas aqidah ummat Islam ini/ sami’na wa atha’na daripada ummatnya. Dan dimanakah madinah indonesia, yang harus menjadi anshar-anshar daripara muhajirin yang akan mengalir dari tempat-tempat yang tidak aman atau makkah-makkah indonesia ?

Kesemuanya ini baik hijrah maupun jihad qital. hanya ulil Amrilah, yaitu seorang khalifah Amirul Mukminin yang berhak menentukan dengan ijtihadnya. Baik dalam hal, kualitas aqidah ummat, kuantitas ummat itu sendiri beserta mahjuro-mahjuronya yaitu tempat yang akan dijadikan madinah indonesia sebagai penolong-penolong para muhajirin yang akan bergerak dari kota-kota makkah atau tempat-tempat yang tidak aman menuju madinah indonesia. Wallahu’alam

Tags:

Related Posts