NAHNU ANSHORULLAH

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa hidup ini untuk ibadah, mempraktekan ajaran Islam dalam kehidupan. Hanya orang yang benar imannya yang mempunyai prinsip bahwa hidup untuk ibadah, sebaliknya kalau orang yang tidak beriman tidak mungkin mau mempraktekan ajaran Islam dalam kehidupan beribadah.

Orang beriman memiliki tanggung jawab di hadapan Allah untuk menegakkan Dienullah (Iqomatuddien) secara berjama’ah. Kalau orang beriman tidak merasa punya tanggung jawab dalam penegakan Dien dan hanya berfikir untuk pribadinya saja maka tidak dikatakan menolong agama Allah. Maka Nabi Isa Alaihisalam ketika melihat indikasi ketidakbenaran pada ummatnya kemudian mempertanyakan sebagaimana yang Allah tegaskan di dalam ayat Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” pengikut-pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong agama Allah“, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. (QS. As Shaf (61) : 14).

Maka pengikut nabi Isa yang konsisten memperjuangkan agama Allah (Hawariyyun) kemudian mengatakan, Nahnu Anshorullah, “Kami penolong agama Allah”. Hal ini dilakukan untuk memperkuat azam dalam berjuang menegakkan Dienullah setelah melihat banyak dari ummatnya yang sudah tidak konsisten.

Orang yang ragu imannya maka dia ragu juga dalam membela tegaknya agamanya. Dan orang yang sengaja tidak mau membela tegaknya Dienullah ini walaupun dia mengaku beriman tetapi dia tidak andil dalam berjuang menegakkan agama Allah ini karena dia menolaknya, maka nilainya sama dengan posisi kekafiran. Maka orang yang tidak mau menegakkan agama Allah itu diancam oleh Allah, “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah (5) : 44).

Kemudian jika dia tidak mau menegakkan agama Allah bukan karena dia menolak kebenarannya tetapi ada sesuatu yang dia yakini sebagai suatu kesepakatan sehingga memposisikannya lebih tinggi dari Dienullah, misalnya kitab KUHAP sehingga Dienullah ini tidak dia tegakkan maka dia dikatakan orang Dhzolim. Sebagaimana Allah tegaskan, “… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhzolim”. (QS. Al Maidah (5): 45).

Tetapi ada juga orang yang bukan kafir dan juga dzholim, dia tidak mau menegakkan Dien karena ada kepentingan hidup yang dia utamakan, maka orang seperti ini dikatakan Fasiq/menjual agamanya dengan harga murah, sebagaimana Allah tegaskan, “…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maidah (5) : 47).

Yang Kafir, yang Dzholim dan yang Fasiq semua sama saja tempatnya di Neraka. Jadi prinsipnya tidak dapat diterima iman seseorang walau dia mengaku beriman tetapi tidak mau menjadi Anshorullah (penolong agama Allah).

Dan tidaklah logis kalau seandainya tanggung jawab penegakan agama Allah (Iqomatuddien) ini dituntut kepada orang kafir. Maka dalam ayat di atas ketika nabi Isa menanyakan siapa yang mau menjadi anshorullah maka sebagian dari mereka yang beriman menjawab nahnu  Anshorullah dan sebagian lagi yang menolak dinyatakan kafir.

Pertanyaannya saat ini apakah ummat Islam yang mengaku beriman ini mau menjadi Anshorullah (pembela agama Allah)? Bukan hanya sekedar membela ulama, membela kyai dalam artian membela orangnya, tetapi untuk menegakkan agama Allah itulah kita membela ulama, membela kyai, membela sesama mukmin, membela keluarga dan seterusnya demi tegaknya hukum Allah bersumberkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena kalau bukan untuk penegakan Dien maka nilai ibadahnya hilang. Maka orang berimanlah yang dituntut untuk mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata secara bersama-sama dalam sebuah al-jama’ah bukan secara pribadi-pribadi, sehingga orang beriman itu dituntut bersatu (berjama’ah) dalam menegakkan Dien (Iqomatuddien), (QS. Asy Syura (42): 13).

Maka tidak ada jalan keluar bagi kita sebelum ajal tiba, selain memaksa diri memperhitungkan apa yang sudah dikorbankan, apakah tenaga, fikiran, harta bahkan nyawa untuk tegaknya hukum Allah di muka bumi ini sebagai Anshorullah. Tanggung jawab inilah yang kita harapkan dan dipertanyakan kepada masing-masing pribadi orang beriman dalam satu jamaah, apa yang telah dikorbankannya demi tegaknya hukum Allah di atas hukum-hukum lainnya di muka bumi ini. Firman Allah dalam Qs. Al-Ma’idah 50:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Menjadi anshorullah itu sebuah kewajiban bagi orang beriman, karena memperjuangkan tegaknya hukum Allah berarti kita telah menghindarkan diri terjerumus ke dalam kesyirikan, akibat mengakui “SUMBER HUKUM” selain Al Qur’an. Wallahu a’lam.

Tags:
Rate this article!
NAHNU ANSHORULLAH,5 / 5 ( 1votes )

Related Posts