MENYONGSONG RUNTUHNYA DEMOKRASI

OPINI 0

“Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al Israa (17) : 81).

               Hiruk pikuk perpolitikan dalam negri Indonesia menjelang tahun 2019 dengan akan di pilihnya seorang pemimpin rakyat Indonesia, Presiden, dalam pemilihan umum yang akan datang. Turut meramaikan suara-suara yang pro dan kontra terhadap keberadaan Khilafatul Muslimin.

            Ada pendapat yang dengan keras memaksakan kehendaknya, agar aktifis Khilafatul Muslimin ikut aktif dalam pemilihan presiden itu nanti.

            Ini adalah pendapat orang yang tidak memahami hakikat bahwa Khilafatul Muslimin atau Kekhalifahan milik kaum muslimin ini berbeda jauh dengan sistem demokrasi dalam mengangkat pemimpin nya.

            Khalifah, di angkat semata-mata oleh kaum muslimin dan tidak ada sedikitpun campur tangan pihak kuffar. Dan Khalifah di angkat adalah dari kalangan ulama bukan dari kalangan juhala (orang-orang bodoh terhdap syari’at Islam). Khalifah di angkat untuk menjunjung tinggi aturan Allah, bukan aturan yang dibuat oleh akal-akal manusia yang relatif ini. Aturan Allah bersifat mutlak atau absolut, tiada seorangpun yang boleh merubahnya.

            Ada juga yang berpendapat demi kemaslahatan ummat, daripada di pimpin oleh orang-orang yang anti Islam maka harusnya kaum muslimin aktif memilih pemimpin meski dengan sistem demokrasi, padahal setelah pemimpin itu di pilih, tidak seorang pun dalam sejarah pergantian presiden yang menjunjung tinggi Al Qur’an sebagai hukum Allah. Bahkan sebaliknya, makin menjauh dan menentang aturan-aturan Allah tersebut dengan semena-mena.

            Pengangkatan seorang Khalifah dalam rangka mensejahterakan ummat secara keseluruhan dengan pelaksanaan keadilan menurut tuntunan Islam.

            Dalam proses pengangkatan seorang Khaifah, tidak ada ambisi kepemimpinan, karena sangat di sadari bahwa menjadi khalifah adalah mengemban amanah Allah untuk membawa ummat menjadi hamba-hamba yang shalih dan bertakwa.

            Mensejahterakan ummat harus dipahami, bukan hanya kesejahteraan yang bersifat materi saja tetapi juga bersifat ruhani, kesejahteraan dunia dan akhirat.

            Dalam proses pengangkatan Khalifah itu tidak ada sedikitpun tipu daya, dusta, dan bujuk rayu untuk memperdaya, melainkan semua di tujukan demi berjalannya tuntunan Allah dan Rasul Nya. Demi tegaknya hukum-hukum Allah secara kaffah.

            Kita sebagai pejuang penegak Khilafah jangan sampai gagal fokus. Tujukan pusat perhatian kepada satu titik. Jangan toleh kanan, toleh kiri, tengok sana, tengok sini.

            Kita fokus saja dan yakin Khilafatul Muslimin ini ‘alal haq, berada di atas kebenaran yang di ridhai Allah SWT. Allah SWT berfirman,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan Ku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (QS. Al An’am : 153).

            Penegakan Khilafah tidak mengenal lelah. Maka mempertahankan stabilitas semangat harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

            Beramal shalih tanpa henti, yakin, sabar dan pasti, berhenti kalau sudah mati ! Jalan terus, meski kita sudah tiada, tetap ada pelanjutnya, anak cucu kita yang sekarang masih bayi-bayi…

            Pejuang Khilafatul Muslimin, tidak terpengaruh oleh kondisi dan situasi.

            Kepemimpinan dalam Khilafatul Muslimin hari ini lebih kita syukuri daripada mayoritas ummat yang tidak memiliki kepemimpinan, banyak ummat tetapi tidak terpimpin, bingung dan mudah di bikin bingung oleh pihak musuh, mudah di kendalikan dan di jerumuskan ke jurang kesesatan berfikir, kesesatan bertindak dan kesesatan dalam mengambil keputusan. Allah SWT berfirman,

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al Anam : 116).

            Perbedaan yang amat jauh 360 derajat bertolak belakang secara diametral, antara pemimpin yang di angkat dengan sistem demokrasi dengan pemimpin dalam sistem Khilafah. Perbedaan yang sangat jauh ibarat jauhnya antara langit dan bumi. Maka kedua sistem ini, jangan di campur adukan, di sentuhkan sedikit sajapun tidak mungkin. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri-sendiri.

            Maka ucapan yang palin tepat berdasarkan Al Qur’an yang bisa kita sampaikan ialah : lakum dinukum walyadin (bagimu sistem mu dan bagi kami sistem kami). Wallahu a’lam.

Rate this article!

Related Posts