MENOLAK HUKUM ALLAH TERJUN BEBAS KE NERAKA

TAFSIR 0

Zulkifli Rahman Al Khateeb

TAFSIR QUR’AN SURAT AN NISA AYAT 58

            “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

(QS. An Nisa’ (4) : 58).

            Ayat ini menerangkan tentang perintah Allah untuk menjaga dan menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan untuk menentukan hukum dengan adil, yaitu dengan hukum yang telah diturunkan Allah. Bukan hukum buatan manusia.

            Kebanyakan mufassirin mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Utsman bin Tholhah dari bani Syaibah yang semenjak sebelum Islam bertugas untuk mengurus Ka’bah. Ketika Fathu Makkah Rasulullah meminta kunci Ka’bah itu darinya dan memerintahkan Ali bin Abi Thalib radiallahu anhuma untuk membukanya. Bersamaan dengan itu pula Al-Abbas meminta agar pengurusan Ka’bah diserahkan padanya. Permintaan itu diulang beberapa kali namun Rasulullah tidak menjawab. Beliau memanggil Usman bin Tholhah dan mengatakan padanya.

            “Ingatkah kamu ketika dulu pernah menghalangiku masuk Ka’bah?”. Utsman bin Tholhah terdiam. Terbayang olehnya masa itu ketika Islam masih lemah. Dia tidak pernah menyangka bahwa Islam akan seperti sekarang ini. Terbayang olehnya bahwa dulu termasuk dialah yang turut menggantungkan shahifah boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muttholib. Terbayang olehnya berbagai bentuk tindakan kezaliman terhadap diri pribadi Rasulullah saw dan para sahabat lainnya. Suasana pun menjadi hening. Semua terdiam.

            Ketika itu Rasulullah saw bersabda, “hari ini adalah hari kasih sayang (yaumul marhamah). Tidak ada dendam lagi setelah hari ini”. Maka beliau menyerahkan kunci Ka’bah kepada yang berhak menerimanya sambil membacakan, Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, ambillah kalian kunci Ka’bah ini wahai Bani Syaibah, turun temurun hingga akhir abad”.

            Demikianlah Rasulullah telah memberikan tauladan dalam menyerahkan amanah kepada ahlinya. Setelah menerangkan tentang amanah, Allah memerintahkan kepada siapa saja yang mengaku beriman untuk  berlaku adil dalam menentukan hukum. Orang beriman yang mengakui bahwa tidak ada yang lebih adil dari Allah dan Rasul Nya pastilah akan mendahulukan ketentuan hukum yang datangnya dari Allah dan Rasul Nya. Ketika tidak ditemukan ketentuan Allah dan Rasul Nya dalam perkara itu maka barulah dia ber ijtihad dengan pendapatnya sendiri atau mengambil pendapat orang lain.

            Jika siapapunyang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka pastinya dia berada pada satu diantara tiga kemungkinan. Yang pertama, Kafir, sudah sewajarnya memang, jikalau orang kafir tidak bersedia berhukum dengan hukum Allah. Kedua, Dzhalim, jika ternyata dia tidak tergolong orang kafir tapi tetap tidak berhukum dengan hukum Allah, kemungkinan kedua adalah bahwa dia adalah orang yang Dzhalim. Dia sengaja ingin berbuat dzhalim hingga dia menentukan hukum lain. Ketiga, Fasiq, kemungkinan lain jika orang itu berhukum dengan selain hukum Allah, maka dia pastinya orang yang Fasik. Dan yang paling menyedihkan adalah bahwa ketiga tiga golongan ini muaranya adalah ke NERAKA.

TAFSIR QUR’AN SURAT AN NISA AYAT 59

            “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa (4) : 59).

            Ayat ini menerangkan betapa Maha Kasih Sayangnya Allah terhadap hambaNya yang kuat maupun  lemah. Yang memerintah maupun yang diperintah. Dengan dibatasinya kewajiban ta’at hanya dalam hal yang baik, maka yang yang kuat terhindar dari berbuat zalim dan yang lemah juga terhindar dari kezaliman.

            Diantara seperti yang tersirat dalam kisah ini, Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Sa’d ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah saw mengirimkan suatu pasukan khusus, dan mengangkat menjadi panglimanya seorang lelaki dari kalangan Ansar. Manakala mereka berangkat, maka si lelaki Ansar tersebut menjumpai sesuatu pada diri mereka. Maka ia berkata kepada mereka, “Bukankah Rasulullah saw. telah memerintahkan kepada kalian untuk taat kepadaku?” Mereka menjawab, “Memang benar.” Lelaki Ansar itu berkata, “Kumpulkanlah kayu bakar buatku.” Setelah itu si lelaki Ansar tersebut meminta api, lalu kayu itu dibakar. Selanjutnya lelaki Ansar berkata, “Aku bermaksud agar kalian benar-benar memasuki api itu.” Lalu ada seorang pemuda dari kalangan mereka berkata, “Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada Rasulullah. Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah. Jika Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka masukilah.” Kemudian mereka kembali menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. bersabda kepada mereka: Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.

            Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, Dari Abdullah ibnu Umar, dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yang telah bersabda: Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk .

            Dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah bersabda, “Dahulu umat Bani Israil diperintah oleh nabi-nabi. Manakala seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan kelak akan ada para khalifah yang banyak. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?” Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. menjawab: Tunaikanlah baiat orang yang paling pertama, lalu yang sesudahnya; dan berikanlah kepada mereka haknya, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya. Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

            Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam telah bersabda, Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah. Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

            Di dalam sebuah hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah; barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada amirku, berarti ia taat kepadaku; dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku, berarti ia durhaka kepadaku”.

            Ini adalah aturan Islam, tentunya aturan ini hanya berlaku dalam sistem Islam (Khilafah). Adapun sistem selainnya, tentu sudah memiliki aturannya sendiri, tanpa harus mengutip ngutip aturan Islam untuk pembenaran.

TAFSIR QUR’AN SURAT AN NISA AYAT 60

            “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisa (4) : 60).

            Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Ansar dan seorang lelaki dari kalangan Yahudi, yang keduanya terlibat dalam suatu persengketaan. Lalu si lelaki Yahudi mengatakan, “Antara aku dan kamu Muhammad sebagai pemutusnya.” Sedangkan si Lelaki Ansar mengatakan, “Antara aku dan kamu Ka’bibnul Asyraf sebagai hakimnya.”

            Ayat dan kisah ini menerangkan bahwa ada orang yang mengaku beriman akan tetapi Allah mengingkari keimanan mereka. Yaitu mereka yang masih mau berhukum kepada hukum Thaghut padahal sudah diperintah untuk mengingkari hukum Thaghut itu. Mereka secara sadar atau tidak sadar masih merasa bahwa ada hukum ya lebih adil dari hukum Allah atau merasa ada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah akan memberikan kepuasan hukum yang lebih baik dan lebih adil daripada orang yang berhukum dengan hukum Allah. Dalam ayat 65 Allah bersumpah bahwa mereka tidak beriman.

            Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang disesatkan oleh syaitan sedemikian jauhnya hingga tidak sadar lagi bahwasanya sudah tersesat. Ya Allah, bimbinglah kami agar tetap berada dijalan yang lurus, karena amat penting bagi kami untuk tetap berada dijalan yang lurus itu, yaitu jalannya orang orang yang telah engkau beri nikmat dengan hidup dalam aturan Mu yang Maha Adil, bukan berada dijalan orang yang mengatur dunia ini dengan aturan yang mereka buat sendiri. Yaitu mereka yang sudah pasti Engkau murkaidan sudah pasti mereka itu adalah orang orang yang sesat.Aamiin.

TAFSIR QUR’AN SURAT AN NISA AYAT 61

            “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”. (QS. An Nisa (4) : 61).

            Ayat ini menerangkan tentang sikap tiga golongan yang disebutkan sebelumnya yaitu mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah; kafir, dzalim atau fasik, agar kaum muslimin dapat mengenali mereka secara jelas. Dan jangan sampai menjadi ahli mereka seperti mereka. Sebenarnya mudah saja, yaitu apabila dikatakan kepada mereka “marilah tunduk kepada hukum Allah dan Rasul Nya….”, mereka serta merta menghalangi agar orang lain tidak terpengaruh untuk bersedia tunduk pada aturan Allah dan Rasul Nya.

            Adapun firman Allah, “…mereka (orang-orang munafik) menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An-Nisa: 61). Dengan kata lain, mereka berpaling darimu dengan sikap menjauh sejauh-jauhnya dan mereka menghalangi orang lain agar tidak mendekatimu agar tidak terpengaruh pada ucapanmu, seperti halnya sikap orang yang sombong terhadapmu. Inilah sikap yang terlihat pada mereka.  Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Subahanahu wata’ala. perihal kaum musyrik, melalui firman-Nya “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.”

(Al-Baqarah: 170)

            Mereka sangat khawatir jika budaya nenek moyang mereka menjadi terabaikan dengan adanya hukum Allah dan Rasul Nya. Lebih penting bagi mereka untuk mempertahankan aturan yang sudah ada sebagai warisan nenek moyang mereka daripada tunduk kepada hukum Allah dan Rasul Nya.

            Mereka khawatir jika terjadi perubahan atas warisan nenek moyang mereka ini, akan menimbulkan kekacauan dan ketidakadilan. Mereka khawatir akan banyak kalangan yang tidak setuju atau akan terjadi keributan.

            Mereka khawatir nasib anak cucu mereka jika terjadi kekacauan akibat perubahan itu, lebih besar daripada kekhawatiran akan nasib mereka dan anak cucu mereka di akhirat kelak jika tetap tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul Nya.

            Sikap mereka berbeda dengan sikap kaum mukmin yang disebut oleh Allah melalui firman-Nya, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” (QS. An-Nur : 51).

            Demikianlah perbedaan sikap antara calon penghuni neraka dan calon penghuni surga insya Allah. Atas dasar kasih sayang pada sesama maka kita merasa perlu untuk menerangkan tentang hal ini serta mengajak semua saudara kita yang mengaku beriman untuk bersatu dengan cara yang sudah diatur oleh Islam (khilafah) dan berjanji setia (baiat) untuk menyatakan bersedia dan rela diatur dengan aturan hukum Allah dan Rasul Nya.

            Semoga Allah menerima pernyataan kita agar kita dapat berlepas diri dari mereka yang tidak bersedia berhukum dengan hukum Allah dan Rasul Nya. Agar kita tidak terseret masuk neraka bersama mereka. Semoga Allah memandaikan kita untuk dapat memahami bahwa sesungguhnya kita mempunyai tugas suci untuk meninggikan kalimat Allah.

Wallahu a’lam

Tags:

Related Posts