KHOLIFAH NISCAYAKAN ADANYA KHILAFAH

TARBIYAH 0

                 Semenjak runtuhnya Khilafah terakhir yang berpusat di Turki (Khilafah Turki Utsmani), Ummat Islam seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tercerai berai menjadi beberapa negara yang satu sama lain saling bermusuhan. Runtuhnya Khilafah ditandai dengan tiadanya seorang kholifah. Kholifah terakhir Ummat Islam dari Turki Utsmani adalah Kholifah Abdul Majid II yang diberhentikan dari jabatan Kholifah sekaligus menghapus Khilafah Islamiyah dari peta dunia pada 3 Maret 1924 M atau 27 Rajab 1342H.

                  Selanjutnya Ummat Islam dilalai-kan dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) dan dijauhkan dari urgensi kepemimpinan Islam sebagai bagian dari Aqidah Muhammad Shalallahu alaihi wasalamasulullah yang digantikan kedudukanya oleh Abu Bakar Radiallahu anhuma.

            Mungkin diantara kita agak sedikit bingung dengan banyaknya istilah; Kholifah, Khilafah, Khilafiyah, Khalifatu Rasulillah yang terdapat dalam tulisan ini, untuk itu mari kita samakan terlebih dahulu pengertian istilah tersebut.

            Kholifah dalam bahasa arab diambil dari kata khalafa – yakhlufu yang artinya di belakang atau pengganti. Istilah kholifah yang bermakna pengganti disebut dalam Al Quran maupun Al Hadist sebagai berikut. “Datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS. Maryam : 59). Pada ayat ini Allah menyebut pengganti dengan kata khalfun. Hadist tentang doa safar, Ya Allah, Engkau adalah teman selama safar dan al-Kholifah bagi keluarga…  (HR. Muslim 3339, Abu Daud 2600, Turmudzi 3769).

Dalam doa tersebut kita menyebut Allah sebagai al-Kholifah bagi keluarga kita.  Maknanya adalah ketika safar dan kita meninggalkan keluarga dirumah. kita bertawakkal, agar Allah yang menjaga mereka. Karena itulah, kita menyebut Allah sebagai al-Kholifah bagi keluarga.

            Demikian pula disebutkan dalam hadis tentang Dajjal. Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasalamasulullah menyebutkan bahaya Dajjal pada saat dia keluar, “Jika Dajjal keluar dan saya ada di tengah kalian, maka saya yang akan berdebat dengan Dajjal untuk membela kalian. Dan jika dia keluar sementara saya tidak ada di tengah kalian (telah meninggal), maka masing-masing orang berusaha membela dirinya sendiri. Dan Allah menjadi kholifahku bagi seluruh ummat Islam”. (HR. Ahmad , Muslim 7560, Abu Daud 4323)

Dari dua hadis ini dapat disimpul-kan bahwa kholifah berarti pengganti ketika orang yang digantikan tidak ada. Baik karena dia telah meninggal, atau pergi untuk sementara waktu. (al-Mufradat, hlm. 156).

            Ketika Rasulullah r wafat, dan kepemimpinan kaum muslimin digantikan Abu Bakar, beliau bergelar Khalifatu Rasulillah. Karena posisi beliau menggantikan Rasulullah dalam memimpin kaum muslimin.  Hal ini telah tertulis dalam catatan sejarah kaum muslimin.

URGENSI MENGANGKAT SEORANG KHOLIFAH

            Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pengganti. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah, Kota Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin kaum Muslimin.

            Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin ummat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar terpilih secara aklimasi, walaupun awalnya ada tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, misalnya Ali bin Abi Thalib, yang menolak dengan hormat hingga tiba waktunya. Dengan terpilihnya Abu Bakar  serta pembai’atannya, resmilah berdiri Kekhilafahan (Khilafah Rasydah Al Mahdiyin).

            Setelah terpilih Abu Bakr sebagai kholifah, kemudian para sahabat memulai proses mengurus jenazah yang mulia Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam.

PERAN KHOLIFAH MENGGANTIKAN TUGAS RASULULLAH

            Sesudah wafatnya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam ada beberapa kabilah yang merasa sudah tidak terikat lagi dengan Kepemimpinan Islam dan haus kekuasaan. Mereka beranggapan bahwa Muhammad memperoleh kekuasaan karena menjadi Nabi, oleh karna itu mereka mendakwahkan diri sebagai Nabi agar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Diantara mereka adalah : Musaillamah, Al-Aswad Al-Ansi, Tulaihah, dan Nejed. Mereka mengajak anggota kabilahnya untuk murtad dari dien Islam, dan rakyat mereka yang masih lemah imannya menyambut dengan baik seruan pemimpin mereka tersebut.

            Abu Bakar sebagai Khalifatu rasulillah berunding dengan para sahabat untuk menghadapi Nabi palsu dan kaum murtad itu, mereka sepakat untuk menyeru mereka agar mereka bertaubat. Jika tidak mau sadar, mereka akan di hadapi dengan kekerasan sampai mereka sadar.

            Selain menghadapi kaum yang Murtad, banyak dari kaum muslimin yang pengertiannya tentang Islam masih belum mendalam dan imannya masih tipis meganggap bahwa kewajiban zakat semata-mata untuk Nabi, jadi ketika Rasul telah wafat maka bebaslah kewajiban untuk membayar zakat, hal itu tidak benar.  Bahwa kewajiban zakat harus tetap ditunaikan, mereka yang membangkang akan di perangi.

            Untuk menjamin keamanan Jazirah Arab bagian Utara, Kholifah Abu Bakar Radiallahu anhuma  melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Rasulullah dengan mengirimkan pasukan Usamah. Dan masih banyak lagi tugas-tugas Rasulullah yang digantikan oleh khalifaturasulillah Abu Bakar Radiallahu anhuma. Cukup jelaslah kiranya urgensi mengangkat seorang kholifah atas kaum muslimin. Dengan posisinya sebagai pengganti Rasulullah maka tugas-tugas kerasulan tidak pernah berhenti dengan wafatnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam namun akan terus berlanjut dan berkembang sesuai perkembangan zaman hingga hari akhir tiba. Wallahu’alam

Tags:
Rate this article!

Related Posts