KEWAJIBAN MENETAPI AL JAMAAH DARI SISI AQIDAH

TB. Ahmad Husaini

Telah kita sepakati dan fahami bersama bahwasanya Aqidah merupakan asas pondasi atau landasan dari amaliyah seorang mukmin. Aqidah dan amal adalah bagaikan hubungan antara pohon dan buah,  banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan amal perbuatan selalu dikaitkan dengan keyakinan Aqidah, (baca QS. 2:25, QS. 16:97, QS. 19: 96), dan amal perbuatan yang dilakukan tidak berdasarkan aqidah yang benar, maka amal itu tidak diterima Allah SWT,  (baca QS. 14:18, QS. 24:39, QS:5:27).

Menurut bahasa Arab kata aqidah diartikan sebagai sesuatu yang diikat oleh hati dan jiwa manusia. Sering pula disebut sebagai hal-hal yang diyakini dan dipatuhi manusia. Dalam Buku Panduan Tarbiyah wa Talim Khilafatul Muslimin dijelaskan bahwa Aqidah merupakan sesuatu yang hati senang membenarkanya, jiwa tenang atasnya, menjadi keyakinan tanpa keraguan hingga siap mempertaruhkan harta dan jiwa untuk membelanya. Pemahaman yang haq terhadap Aqidah menghantarkan kita kepada amal saleh, dan sebaliknya, (baca QS. 5 : 5, QS. 6 : 88, QS 3 : 21).

Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa  dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka Agama (Ad-Din) yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An-Nur (24) : 55).

PERINTAH UNTUK HIDUP BERJAMA’AH DAN MENGOKOHKANYA

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran (3) :104). Makna Ummat dalam ayat ini adalah Al Jama’ah yakni kumpulan yang tersusun dari individu-individu yang mempunyai ikatan menjadi satu, ibarat anggota-anggota tubuh dalam satu bangunan tubuh manusia (Al Maroghi) dalam bahasa sekarang dapat diterjemahkan sebagai Organisasi.

Ayat sebelumnya Allah SWT berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya (berjama’ah) kepada tali (Din) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran (3) :103).

Rasulullah SAW bersabda, “Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim!, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla”. (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad).

Nabi Muhammad SAW  bersabda, “Tetaplah kalian bersama jama’ah dan jauhilah berpisah diri. Karena sungguh syetan itu menyertai yang sendiri, dia akan menjauh dari yang dua orang. Barang siapa yang menginginkan kenikmatan surga, hendaklah ia tetap dalam jama’ah (Sunan at-Tirmidzi kitab al-fitan bab ma ja`a fi luzum al-jama’ah no. 2318).

PENJELASAN MAKNA AL JAMAAH

Makna Al-Jama’ah secara bahasa berasal dari akar kata : جَمَعَ – يَجْمَعُ – جَمْعًا / جَمَاعَةً

Dalam kamus bahasa makna al – jama’ah adalah, sekumpulan apa saja dan banyak (Lihat Ibn al-Manzhur Lisanul-‘Arab 8 : 54)  atau sekelompok manusia yang memiliki satu tujuan (Lihat Al Mu’jam al wasith 1: 136).

Al-Jama’ah yang dimaksud sesungguhnya adalah Khilafah Islamiyah (Pemerintahan Islam). Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memecah belah al-Jama’ah (kesatuan umat) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah. (Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha, no. 7054).

Barang siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang keluar dari sulthan (pemerintahan) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah .(Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha, no. 7053).

Tetaplah pada jama’ah kaum muslimin (kesatuan umat Islam) dan imamnya.” Aku bertanya: “Kalau tidak ada jama’ah dan imamnya?” Beliau menjawab “Tinggalkan semua firqah yang ada, walau kamu harus menggigit akar pohon sampai datangnya kematian kepadamu, dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu.” (Shahih al-Bukhari, kitab al-fitan, bab kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam, no. 7084).

Imam Ath-Thabrani berpendapat mengenai makna kata “jama’ah” dalam hadits Bukhari diatas (no.7084) yang berbunyi, “Taljamu Jama’ah Muslimin wa Imamahum“  Tetaplah pada jama’ah kaum muslimin dan imamnya.” Yang dimaksud adalah Khilafah dan Kholifah beliau berkata, “apabila kamu melihat kekhalifahan sudah dimaklumatkan maka segera bergabung, walau kamu harus dipukul, dan apabila kamu tidak melihatnya maka tinggalkan semua golongan-golongan yang ada” (Lihat Fathul Bari juz 13 hal. 36) Dalam syarah yang sama Imam Baydhowi berkata “adapun makna jika dimuka bumi ini tidak ada kholifah maka wajib bagimu menyingkir dan bersabar untuk menanggung kerasnya/kondisi jaman itu (Fathul Baari 13:36). Allahu’alam

Facebook Comments
Tags:

Related Posts