JIKA ALLAH TOLONG TAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN

Zulkifli Rahman Al Khateeb

Keadaan ummat Islam di berbagai belahan bumi hari ini, sebagian besar sedang teruji. Puluhan tahun kaum muslimin Palestina mengalami gempuran bertubi-tubi dari Yahudi Israel dengan keadaan yang begitu parah dan menyakitkan. Begitu pula kaum muslimin di Rohingya mereka juga mendapatkan kondisi yang sama, di siksa oleh pemerintahan budha, apa yang disebut dengan penghapusan etnik (genosida).

Dan kini Ummat islam Turkistan Timur yang berada di bagian daratan China mengalami penindasan secara fisik dan mental yang luar biasa dan tidak terbayangkan kejamnya, yakni ummat Islam dari suku Uyghur.

Bagaimana menjelaskan keadaan ini sebenarnya, dan adakah hubungannya dengan kebangkitan khilafah, marilah kita simak wawancara dengan Amir Daulah Indonesia Bagian Timur, Ustadz Zulkifli Rahman Al-Khatheeb.

Assalamualaikum Ustadz, apa kabar dan dalam kesibukan apa ?

Wa’alaiakumussalam, Alhamdulillah selalu baik. Kesibukan yang belum ada hentinya adalah mengajak ummat bersatu, termasuk mempersiapkan segala kemungkinan untuk menghadapi acara Syi’ar Kekhalifahan Islam Dunia.

Mengamati kaum muslimin di berbagai belahan dunia hari ini, dalam keadaan sangat mengkhawatirkan yang ditimpakan oleh musuh-musuh Islam, diawali dengan tuduhan radikal, teroris dan seterusnya. Sehingga pihak kuffar dengan begitu kejam dan sistematik mencoba melumpuhkan dan sekaligus mencoba menghancurkan kaum muslimin sehancur-hancurnya. Bagaimana kita menyikapi keadaan ini ustadz?

Pada dasarnya, semua kenyataan hidup baik yang kita lihat dan yang kita alami adalah ujian dari Allah yang bisa jadi akan menjadi penentu bagi nasib kita selanjutnya, terutama nasib kita setelah kehidupan yang sementara ini. Kita melihat permasalahan yang sedang dialami oleh saudara-saudara kita sesame muslim di berbagai belahan dunia, kita prihatin terhadapnya, mereka disiksa dan dianiaya sedemikian rupa dalam mempertahankan akidah mereka, sepintas kita kasihan sama mereka, mereka mengalami cobaan yang sangat berat tapi disisi lain justru kitalah yang patut dikasihani, ibarat orang yang menunggu kelulusan.

Mereka sedang diuji dengan ujian akhir dan segera lulus atau tidak lulus, sementara kita, bahkan kita tidak tahu kapan kita sampai pada ujian akhir, sehingga kita juga tidak tau kapan kita akan lulus atau tidak lulus. Bagi mereka yang sedang berada diruang ujian akhir itu, sedang membayangkan alangkah indahnya bidadari yang menyambut mereka, alangkah indahnya surga, alangkah indahnya kasih sayang Allah, alangkah indahnya kemenangan yaitu ketika ajal menjemput meski jasad mereka hancur tapi jiwa mereka langsung mencapai surge, sementara kita ini sungguh tidak jelas. Antara hak dan batil saja, kita bahkan ada yang tidak tahu sedang berada di pihak mana. Miris, justru kitalah yang patut dikasihani.

Ketika kita mengetahui ada orang yang mengajak pada kebenaran, mengajak kepada persatuan, diantara kita ada yang mencari-cari alasan untuk menutupi ke-tidakberani-an yang terselip di sanubari, tidak berani alias takut menghadapi resiko yang belum tentu tentang nasib dunia kita. Belum masuk ke ruang ujian saja kita sudah stress duluan. Maha suci Allah, ketika Allah berfirman dalam QS. Al Imran ayat 175, Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Ketakutan yang mestinya tidak beralasan, tetapi itulah kenyataannya.

Ada sebahagian orang yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengajak ummat bersatu agar kita dapat membela mereka. Ketahuilah perintah bersatu itu adalah perintah yang berdiri sendiri. Bukan karena itu dan ini dan bukan agar itu dan ini. Kita bersatu karena Allah perintah bersatu, dan perintah bersatu ini tanpa syarat dan tidak dapat dibatalkan oleh syarat yang dibuat-buat. Perintah Allah untuk Bersatu Adalah perintah yang mutlak. Maka orang yang mendapat rahmat akan segera menyambut perintah ini.

Tiga tahun terakhir ini perbincangan tentang Khilafah semakin marak, bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Nampaknya sosialisasi kekhalifahan semakin meluas di boomingkan oleh semua pihak baik yang pro khilafah maupun yang kontra khilafah. Bagaimana pandangan ustadz mengenai hal ini?

Kita sebagai jama’ah yang telah mencanangkan khilafah dan mempelopori mengangkat seorang khalifah sejak belasan tahun silam tepatnya sejak di maklumatkannya tahun 1997, sudah tentu merasa bersyukur dengan keadaan ini.

Bagaimana pandangan ustadz, adakah korelasi antara kaum muslimin di berbagai belahan bumi yang hari ini ditindas secara kejam dengan kejayaan khilafah yang kita harap-harapkan segera terwujud ?

Bagi orang yang selalu berfikir tentang penciptaan langit dan bumi serta seluruh isinya tentu akan menyadari bahwa semua yang terjadi itu, tidak ada yang sia-sia seperti yang Allah kutip didalam QS. Al Imran ayat 191, “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Dari tinjauan ayat ini maka kita menyadari tentu semua kejadian itu ada korelasinya antara satu dengan yang lainnya. Selanjutnya yang kita fikirkan adalah bahwa dari semua kejadian itu apakah kita termasuk yang selamat dari api neraka sebagaimana dikutip pada akhir ayat tersebut. Jika orang sibuk dengan kemenangan yang sementara didunia ini maka mari kita sibuk dengan kemenangan yang kekal abadi di akhirat. Para sahabat terdahulu ketika terkena panah atau tombak seketika itu terlontar dari lisan mereka “Fuz tu wa robbil ka’bah…, artinya aku menang demi Rabbnya (Tuhannya) Ka’bah”. Menang yang mereka maksud bukanlah ketika mengalahkan musuh akan tetapi “menang” yang mereka maksud adalah mati syahid.

Ada pihak-pihak yang memprdiksi Khilafah tegak atau berjaya sekitar tahun 2020 sampai tahun 2025. Apa sajakah yang perlu dipersiapkan oleh kita dalam jamaah / Khilafatul Muslimin dalam menghadapi situasi dan kondisi ke depan ustadz?

Didalam QS. Ash Shaf ayat 10 Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

Allah menawarkan tijaroh (perdagangan) yang akan menyelamatkan kita dari azzab yang pedih yaitu ampunan dari dosa dan masuk surga yaitu berupa pengampunan dari dosa dan dimasukannya kita ke surga, tetapi Allah juga tidak menafikan bahwa fitrah manusia diantara mereka ada juga yang menginginkan bahkan mencintai kemenangan dunia, sebagaimana Allah sebutkan dalam QS : Ash Shaf ayat 13, Allah berfirman, “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”.

Lantas Apa saja yang harus kita persiapkan? Dari kesimpulan ayat ini sesungguhnya kemenangan itu dari Allah dan pastinya Allah sudah mempersiapkan segala sesuatunya, maka sebenarnya kita tidak perlu menyiapkan apa-apa, tidak juga perlu membuat-buat program jangka pendek dan jangka panjang dan lain-lain. Cukup ta’at saja kepada Allah secara maksimal, ta’at kepada Rasulullah secara maksimal dan kepada ulil amri juga secara maksimal sesuai kemampuan kita masing-masing, maka selamatlah kita dari siksa api neraka. Kita tidak akan ditanya oleh Allah tentang kemenangan karena tidak satupun ayat Allah yang memerintahkan kita untuk menang tapi kita akan ditanya tentang keta’atan, karena Allah sudah perintah untuk ta’at. Kita tidak akan ditanya tentang kekuasaan, karena tidak satupun ayat Allah yang memerintahkan kita untuk berkuasa. Tapi kita akan ditanya kenapa tidak bersatu, padahal Allah sudah perintahkan untuk bersatu, demikian dan seterusnya.

Terakhir Ustadz, ummat Islam di Indonesia adalah mayoritas meskipun masih dalam bentuk jumlah atau kuantitas. Dan sedang di pecah belah dengan berbagai cara oleh pihak-pihak yang membenci Islam. Kita tidak mungkin menafikan hal ini. Bagaimana ikhtiar kita bahwa mayoritas dalam kuantitas itu bisa menjadi mayoritas dalam bentuk kualitas sehingga prediksi kemenangan khilafah secara universal ini segera terwujud ustadz ?

Di dalam QS. Al Imran ayat 160, Allah beerfirman, “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu, karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Maka pada dasarnya bukan menang atau kalah yang kita risaukan, bukan tegak atau tidaknya khilafah yang menjadi masalah, akan tetapi masalahnya apakah kita ini sudah layak untuk ditolong Allah. Mari kita laksanakan perintah Allah untuk bersatu. Kita buktikan bahwa kita sudah menta’ati perintah dengan sungguh-sungguh, mari rapatkan shaf dan luruskan barisan,  maka pertolongan Allah akan semakin dekat. Semoga kepantasan itu bisa kita raih bersama.Kepantasan untuk menjadi mulia dengan mati syahid atau kepantasan untuk meraih kemenangan yang dekat. Aamin. Wallahu a’lam.

Tags:

Related Posts