DI DUGA KARENA PERKELAHIAN BOCAH BERAKIBAT ULTIMAATUM KETUA ADAT SETEMPAT KEPADA PPUI TENGGARONG

Pengurus PPUI (Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyyah) Tenggarong, Kalimantan Timur mendapat undangan dari kepala adat Dayak dan Lurah setempat pada 5 Dzulhijjah 1440 H (06/08/19), sehingga Ustadz Amiruddin selaku yang mewakili memenuhi undangan tersebut.

Acara di aula itu di hadiri oleh aparat setempat, hadir pula dari pihak kepolisian dan juga dari TNI dan beberapa pengurus adat setempat. Hadir juga dari pengurus PPUI Tenggarong dan beberapa Petugas Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) bersama Ust. Amiruddin.

Memang PPUI ini sudah tersebar di seluruh Nusantara, mulai dari Aceh, Bengkulu, Lampung, Bekasi, Jawa Timur, Taliwang, Bima, Dompu dan PPUI cabang Tenggarong yang beralamatkan di Jl. Silas Bell Rt.12 KM 7 Jahab, Kutai Karta Negara, Kalimantan Timur ini adalah salah satu cabang yang baru di bangun di tanah Borneo. PPUI ini adalah sistem pendidikan berbasis Khilafah di bawah Khilafatul Muslimin yang berpusat di Bandar Lampung.

Acara pagi itu pada pukul 09.00 – 12.15, tanpa di sangka maksud dan tujuan nya dari undangan ini pihak PPUI mendapat tuduhan bahwa salah satu anak asuh di pondok PPUI sekaligus anak angkat salah satu pengurus pondok (Kusnadi) yang berumur 4 tahun 3 bln, di laporkan telah memukul salah satu anak warga sekitar yang berumur kurang lebih 7 tahun. Kejadian ini sudah berlalu sekitar 2 bulan yang lalu, menurut kepala adat setempat. Agak sulit untuk mengusut kasus anak ini dan sudah berlalu dua bulan, apalagi kedua orang tua si anak sudah terlihat akrab saling tegur sapa dan tidak ada masalah, kata pengurus PPUI Tenggarong kepada redaksi.

Maka, atas dasar tuduhan ini pihak kepala adat memberikan 2dua ultimatum kepada pihak PPUI :

  1. Pihak Pondok Pesantren diminta membayar denda sesuai dengan hukum adat yang ditetapkan, baik itu kejadian pemukulannya benar ataupun hanya fitnah (tidak benar).
  2. Kalau tidak sepakat membayar denda maka pihak kepala adat akan menindak tegas kepada pihak Pondok Pesantren.

Dalam hal ini Ust. Amiruddin selaku penanggung jawab Pondok dengan mengedepankan akhlakul karimah, dengan santun menyampaikan kepada kepala adat dan para hadirin di ruangan itu bahwa :

  1. Kejadian tuduhanya sudah dua bulan berlalu dan yang tertuduh adalah anak usia 4,3 tahun, kenapa bau di angkat kasusnya sekarang.
  2. Dalam tuduhan ini belum ada bukti (Visum) dan saksi dari kedua belah pihak.
  3. Hubungan baik antara orang tua angkat yang tertuduh dan bapak kandung korban baik-baik saja dari sejak tanggal yang dituduhkan sampai satu hari sebelum pertemuan ini dilaksanakan.

Karna Azan Dzuhur sudah berkumandang sehingga Ustadz Amiruddin intrupsi kepada lurah setempat untuk keluar menunaikan Sholat Dzuhur, sehingga mediasi diakhiri oleh pak lurah dan akan dilanjutkan 19 Dzulhijjah 1440 H bertepatan tanggal 20 Agustus 2019.

Sebagaimana misi dari Kekhalifahan kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) yang rahmatan lil ‘alamin, semoga ada solusi yang terbaik dengan jalan damai dan bisa saling mengerti. Aamiin, harapan kita semua. (red, PPUI Borneo).

 

 

Tags:

Related Posts