BERSATU SEBAGAI IBADAH HARUS BERANI MEMPERJUANGKANNYA

“…Tegakkanlah Ad Dien [agama] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”, (QS. Asy Syura (42) : 13). “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai …”, (QS. Ali Imran (3) : 103). “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas …”, (QS. Ali Imran (3) : 105). “…Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah Dien [agama] mereka dan mereka menjadi beberapa golongan …”, (QS. Ar Rum (30) : 31-32).

Dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam (Iqomatuddien), bersatu adalah prinsip mutlak yang harus ada dan harus dilakukan. Adalah hal mustahil jika menghendaki kemenangan dengan proses yang salah, makanya Rasulullah mengatakan bahwa, “Al jama’atu rahmat, wa firqotu azab, artinya, “Bersatu itu mendatangkan rahmat dan berpecah belah mendatangkan azab”,  (HR. Ahmad, 4 : 278).

            Ini adalah prinsip yang tak bisa dirubah dengan analisa dan kajian apapun, karena ini prinsip pokok. Tidak mungkin hal yang mendatangkan azab justru menghasil-kan kemenangan. Oleh karena itu kita punya kewajiban mempersatukan ummat sebagai perjuangan dan sebagai ibadah, berharap rahmat Allah Subahanahu wata’ala semata. Dan bersatunya ummat Islam itu tidak ada yang lain selain dalam Khilafah.

            Dalam hal ini kita harus sungguh-sungguh dalam memperjuangkannya, mumpung umur masih ada, kita manfaatkan untuk berjuang memper-satukan ummat.  Ajal tidak ada yang tahu,  kalau sudah tiba tidak bisa dimajukan atau dimundurkan sedikitpun. Sebagaimana Allah tegaskan, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf (7) : 34).

            Sudah banyak bukti bagaimana ajal itu tidak bisa dimajukan meskipun sebab logis untuk mati itu ada. Seperti halnya orang yang dikeroyok orang bersenjata, bahkan orang satu kampung sepakat untuk membunuh seseorang, namun bila belum ajal maka tidak akan terjadi kematian. Demikian juga sebaliknya, meskipun faktor-faktor kesehatan masih menunjang umur, tetap saja tidak bisa menunda ajal.

            Perjuangan di jalan Allah dijanjikan kemenangan dimasa hidup dan dijanjikan Surga setelah mati,  maka disebut mati syahid yang berhadiah Surga dengan bidadari bidadarinya yang cantik. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah Subahanahu wata’alatu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran 169-171).

            Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Seorang yang mati syahid akan mendapatkan tujuh perkara dari Allah, pertama, dosanya diampuni pada tetesan pertama dari darahnya. Kedua tempat untuknya diperlihatkan dalam surga. ketiga dia dihiasai dengan perhiasan iman. Keempat, diselamatkan dari azab kubur. Kelima, diselamatkan dari bencana dahsyat. Keenam, mahkota keagungan dipakaikan di kepadanya. Mahkota itu terbuat dari yaqut yang lebih baik daripada dunia beserta segala isinya. Dia juga dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari Surga. Ketujuh, dia juga bia memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang dari kerabat-kerabatnya”. (HR. Ahmad & Thbarani).

            Dikisahkan ada seorang sahabat yang masih muda bermimpi bertemu wanita cantik yang belum pernah terlihat di dunia. Bidadari yang bernama Ainul Mardhiyah, dalam pertemuan Ainul Mardhiyah berjanji siap bertemu dengan sang pemuda kalau dia mati syahid dan ia akan berbuka puasa dengannya di Surga. Maka pemuda itu pun tak ingin ditunda dia berperang keesokan harinya tanpa gentar sedikitpun hingga sore harinya panah menembus lehernya.

            Karena besarnya resiko perjuangan dari berbagai hal seperti permusuhan dari musuh-musuh Allah, maka tidak boleh ada rasa takut berlebihan,  meskipun takut itu manusiawi, tapi tetap harus dilawan untuk meraih ridha Allah dan Surga-Nya.

            Secara mendasar keberanian ada dengan keyakinan akan keutamaan jihad dan mati syahid, simplenya kalau ada kesempatan masuk surga hari ini jangan tunda-tunda lagi, sebab kesempatan tidak datang berkali-kali.  Selain itu keberanian datang dengan adanya keterampilan sebagai bekal yang tak kalah penting.

            Sebagai tadzkirah, simak ayat Allah berikut ini, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka, mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah (9) ; 111).  (AMS – Intisari Tausiyah Khalifah – Safari Dakwah NTB).

Tags:

Related Posts