BERSATU ITU JIKA SATU KEPEMIMPINAN

TARBIYAH 0

Ramadhani Nasution

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Dienullah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan ketika itu kamu berada ditepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana, demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran : 103).

Bersatu adalah suatu perkara yang telah diperintahkan oleh Allah kepada seluruh manusia yang telah mengaku dirinya orang beriman, oleh sebab itu adalah satu dosa besar apabila seseorang yang mengaku dirinya telah beriman tetapi melanggar apa yang telah diperintahkan oleh Sang Penciptanya itu sendiri.

            Ummat Islam pada hari ini telah kehilangan jati dirinya, bagaikan ayam kehilangan induk, berada dalam perpecahan yang luar biasa, merasa dalam persatuan tetapi pada kenyataannya bergolong-golongan dan setiap golongan tersebut memiliki pemimpinnya masing-masing, sungguh ini bukanlah suatu bentuk persatuan ummat Islam. Allah I berfirman, “Mereka tidak akan memerangi kamu secara bersama-sama, kecuali di negri-negri yang berbenteng atau dibalik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah-belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr : 14 ).

            Bersatu itu seyogyanya adalah bersama-sama dalam satu wadah /jama’ah yang telah dicontohkan dibawah satu kepemimpinan. Bukan berkumpul dalam wadah atau jama’ah yang berbeda-beda dan dengan masing-masing pemimpinnya. Sesungguhnya wadah bersatu itu sudah pernah dipraktekkan oleh Rasulullah dan telah diikuti dengan baik oleh para sahabat. Oleh karena itu selaku ummat yang mengaku menjalankan sunnah tentunya ia akan menempuh jalan tersebut, sebagai bukti keta’atannya kepada Allah, dan Rasul-Nya. Sebaliknya apabila ia tidak menjalankan hal yang demikian maka sesungguhnya ia telah berdusta dengan mengatas namakan sunnah.

            Disebabkan bersatu itu adalah perintah dari Allah dan wajib hukumnya, maka memperjuangkannya adalah sebuah ibadah yang  tentunya bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan benar dan sesuai contoh (sunnah) serta dibarengi dengan niat yang ikhlas, pastilah akan mendapatkan pahala serta keridhaan di sisi-Nya. Sebaliknya, apabila seseorang itu mengabaikannya dengan menunjukkan sikap tidak mau diseru untuk bersatu dan ia lebih senang berada didalam perpecahan, bergolong-golongan dan berfirqoh-firqoh, maka orang tersebut telah berdosa dihadapan Allah bahkan sampai dihukumi dengan dosa “Syirik”, sebagaimana Allah I berfirman,

“… Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan  Allah, yaitu orang yang memecah belah Dien (agama) mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

(QS. Ar Ruum (30) : 31-32).

            Tidak hanya itu, selain dosa syirik yang Allah timpakan kepada orang-orang yang tidak mau bersatu, Allah menegaskan juga bahwa orang tersebut sebagai orang yang sesat dan tentunya pasti ia tidak akan selamat dari azab Allah I di akhirat kelak. Allah I berfirman,

“Dan sungguh ummat ini adalah ummat yang satu dan Aku adalah Robbmu, maka bertakwalah kepadaku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan Dien (agama) mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka masing-masing. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya, sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al Mukminun : 52 – 54).

            Bersatu atau berjama’ah itu adalah ibadah, maka untuk melaksanakannya tentulah harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, sebab apabila menjalankannya tidak sesuai contoh (tidak ittiba’) tetapi dengan cara pemikiran dan hawa nafsunya masing-masing, maka sudah tentu akan tertolak dan tidak bernilai ibadah disisi Allah I. Allah tegaskan dalam Qur’an, “…Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) …”.

(QS. Ali Imran (30) : 31).

Rasulullah r bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnya dariku (Muhammad), maka ia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim). Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi syarat bahwa ummat Islam itu dikatakan bersatu.

BERSATUNYA DALAM JAMA’AH YANG DICONTOHKAN

            Bersatunya didalam satu wadah dan sistem yang telah dipraktekkan oleh Rasululullah dan para sahabat. Yaitu An Nubuwwah (kenabian) dan Al-Khilafah. Karena hanya dengan ittiba’ (mengikuti) dan memperaktekkan apa yang telah mereka kerjakan itu sajalah Islam ini baru akan berjaya dan yang paling penting dan utama adalah Allah ridha. Allah I berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS.At Taubah (9) :100).

Ali bin Abi Thalib t mengatakan, “Demi Allah, Sunnah itu adalah sunnah Muhammad, dan bid’ah itu adalah apa-apa yang menyelisihinya, dan demi Allah, Al jama’ah itu adalah berkumpulnya ahlul haq sekalipun mereka sedikit, dan Firqoh itu adalah berkumpulnya Ahlul bathil sekalipun mereka banyak”. (Hamisy Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal :1/109).

            Adapun bersatunya ummat ini didalam wadah dan sistem selain yang diperaktekkan oleh Rasul dan para sahabat, yaitu selain sistem “Khilafah”, berarti mereka bersatu dengan sistem tidak menurut sunnah, justru hal ini yang menyebabkan ummat ini semakin terpecah-belah. Sudah pasti hal ini tidak akan mendapatkan rahmat dan keridhoan Nya melainkan akan mendapatkan kemurkaan dan azab Nya.

            Sebagaimana yang terjadi pada saat ini, musibah dimana-mana, ummat Islam dihina, diusir bahkan dibantai secara massal, inilah akibat dari perpecahan ummat ini yang enggan untuk diseru kepada satu persatuan yang mendatangkan rahmat yaitu bersatunya didalam  wadah dan sistem “Khilafah”. Allah  berfirman , “Katakanlah (Muhammad), Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu, dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kamu kembali menyekutukannya (berbuat kesyrikan). Katakan (Muhammad) dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain, perhatikanlah bagaimana kami menjelaskan berilang-ulang tanda-tanda kekuasaan kami agar mereka memahaminya.” (Qs.Al An’aam :64-65). Begitu dahsyatnya kemurkaan Allah I disebabkan dosa perpecahan dan bergolong-golongan(kesyirikan).

(Qs.Ar ruum :31-32).

MEMILIKI SATU PEMIMPIN ISLAM YANG DISEBUT KHALIFAH

            Dikatakan bersatu jika sistem dan kepemimpinanya sesuai dengan sunnah, yaitu memiliki seorang pemimpin atau imam yang disebut sebagai Khalifah /Amirul Mukminin. Allah I berfirman,

“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi,  mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?, Rabb berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

(QS. Al Baqarah (2) : 30).

            Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya berkaitan dengan ayat diatas adalah bahwa yang dimaksud seorang Khalifah disini adalah bukan hanya Nabi Adam u saja, karena pengertian lahiriah Nabi Adam u saat itu masih belum kelihatan di alam wujud, “Mengapa engkau hendak menjadikan (Khalifah)”. Dan Ibnu Jarir menjelaskan mengenai tafsir ayat tersebut adalah, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang Khalifah dari Ku yang berkedudukan mewakili diri Ku dalam memutuskan hukum secara adil dikalangan makhluk-ku”.

            Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu Khalifah di muka bumi, maka berikanlah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS Shaad : 26).

            Sesungguhnya Khalifah itu adalah nabi Adam u dan orang-orang yang menempati kedudukannya dalam ketaatan kepada Allah dan memutuskan hukum dengan adil dikalangan makhluknya. Dapat di fahami bahwa Khalifah itu adalah seseorang yang mewakili kedudukan Allah dan memimpin ummat dalam melak sanakan ketaatan, menjalankan seluruh perintah-perintah Nya di muka bumi ini.          Oleh karena itu apabila bersatunya ummat dalam jumlah yang sangat banyak sekalipun tetapi yang memimpin kelompok atau jama’ah tersebut bukanlah seorang Khalifah, maka kelompok atau jama’ah tersebut bukanlah jama’ah yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul Nya, sebab yang menjadi syarat bersatunya ummat dalam jama’ah bukanlah dari banyak dan sedikit pengikutnya, namun benarnya manhaj yang ditempuh apakah sesuai dengan yang telah di peraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabat atau tidak.

Sudah menjadi sunatullah bahwa suatu ajaran itu yang di bangkitkan terlebih dahulu adalah pemimpinnya (Nabi atau Khalifah), setelahnya baru ummatnya yang mengikuti. Bukan sebaliknya, ummatnya yang terlebih dahulu berkumpul baru setelahnya mengangkat seorang pemimpin, justru hal ini mirip dengan metode Bani Israil, dimana mereka ummat tersebut menunggu-nunggu datangnya seorang pemimpin ajarannya, namun setelah muncul pemimpin ajaran tersebut justru mereka tolak dan mengingkarinya, bahkan ada yang mereka bunuh.

BERJAMA’AH HARUS BERSIFAT UNIVERSAL

            Universal, artinya persatuan ummat yang dibangun itu bersifat menyeluruh, untuk seluruh alam tanpa batas teritorial tertentu yang memba-tasinya, oleh karena itu bila ada satu kelompok persatuan ummat atau jama’ah yang mengklaim jama’ah di suatu negri tertentu saja, maka tidak sesuai dengan sunnah, sebab Islam itu adalah rahmatan lil ‘alamin. Allah I berfirman, “Dan tiadalah kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiyaa’ :107).

BERJAMA’AH HARUS INGKAR KEPADA THAGUT

Non kooperatif, tidak ada kompromi dan harus ingkar terhadap thaghut. Inilah yang menjadi ciri yang mendasar persatuan ummat Islam yang Allah ridhai. Yaitu tidak tunduk patuh terhadap sistem thaghut dan wajib mengingkarinya, sebab ia adalah sistem yang bukan berasal dari Sang Pemilik alam semesta ini, melainkan sistem buatan manusia yang penuh dengan kelemahan dan kebodohan yang menyebabkan kekacauan di muka bumi ini. Allah I berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” …”

(QS. An Nahl (16) : 36).

Dan yang paling mendasar dan sangat fundamental sekali adalah melaksanakan ibadah dalam memperjuangkan ummat Islam ini bersatu dan berjama’ah didalam sistem Khilafah ini, tidak memerlukan persetujuan dari sistem thagut yang ada di dunia ini. Karena yang kita laksanakan adalah perintah Allah. Inilah Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin) yang bersih dari noda syirik yang sedang kami perjuangkan. Semoga ummat Islam menyadari dan segera mengambil sikap untuk merapatkan diri dalam shaf Kekhaifahan ini, Aamiin.

Wallahu’alam bishawwab.

Tags:
Rate this article!

Related Posts