BERBAHAGIALAH WAHAI ISTERI MUJAHID

TARBIYAH 0

Ummu ‘Abdullah

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)

Mujahid adalah orang-orang yang melakukan jihad di jalan Allah SWT Dimana mereka berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencurahkan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, baik perkataan maupun perbuatan, agar syari’at Allah dapat ditinggikan di dunia ini. Tujuan dari jihad fii sabilillah itulah yang menjadikan amalan jihad merupakan amalan yang paling utama, dan telah jelas ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk berjihad. Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad. (HR. Tirmidzi).

Banyak keutamaan yang diberikan oleh Allah  kepada mereka yang melaksanakan jihad dengan sebenar-benarnya. Keutamaan yang mampu membuat orang-orang yang beriman cemburu. Dimana Allah SWT menjadikan para mujahid sebagai sebaik-baik manusia yang dicintai-Nya. Para mujahid pun berada dalam jaminan Allah sehingga wajarlah jika doanya pasti dikabulkan. Bahkan kemuliaan  yang diberikan kepada para mujahid berupa dibukakannya pintu-pintu langit, diampunkan segala dosanya, dan surga berada di bawah naungan pedangnya. Masyaa Allah.

Seiring keutamaan yang terdapat dalam amalan jihad, menuntut pula pengorbanan yang sungguh-sunggh dari para mujahid. Baik harga, tenaga, dan waktu, bahkan pada puncaknya adalah pengorbanan jiwa. Dimana para mujahid tidaklah mencintai dirinya melebihi kecintaannya untuk syahid dalam pertempuran membela syari’at Allah. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111).

Pengorbanan yang sungguh-sungguh dari harta dan jiwanya menjadikan jihad fii sabilillah sebagai ujian yang teramat berat bagi seorang muslim. Maka Allah SWT menjanjikan surga sebagai balasan bagi orang-orang yang melaksanakannya. Bahkan mampu memberikan syafa’at bagi 70 ahli keluarganya yang terdekat (Sahih Sunan At-Tirmidzi, No: 1663), termasuk salah seorangnya adalah isterinya yang shalihah.

Sungguh, suksesnya jiwa-jiwa tangguh yang siap berkorban untuk iqamatuddin ini tidaklah terlepas dari peran isteri-isteri yang shalihah. Wanita-wanita yang merasa cukup dengan karunia Allah SWT karena bersuamikan seorang mujahid. Tidaklah ia menuntut, selain apa-apa yang menjadi haknya agar dapat menjalankan kewajiban seorang isteri. Karena ia tahu bahwa melalui jiwa-jiwa pejuang itulah dirinya tidak dibiarkan terjerumus dalam kekufuran. Harga dirinya sebagai seorang wanita dan isteri terjaga dan termuliakan karena keimanan sang suami. Suaminya yang telah berpayah dalam menegakkan dien ini tidak akan rela melihat isterinya tenggelam dalam tabaruj lalu menyerupai wanita-wanita kafir. Padanya pula ia akan berusaha memberikan rizki yang halal lagi baik bagi keluarganya.

Maka berbahagialah duhai para isteri mujahid karena engkau diizinkan untuk menjadi bagian dalam perjuangan memuliakan agama Allah. Melalui tangan cekatanmu para mujahid dapat bersiap berangkat ke medan jihad. Dari pengabdianmu terhadap suami, mereka mampu berjuang dengan tenang tanpa merisaukan keadaanmu yang ikhlas melepas kepergiannya. Maka padamu diberikan syafa’at dari seorang mujahid yang syahid di jalan yang Allah SWT ridhoi. Dan bagimulah pahala yang mengalir dari kesabaranmu mengantar kepergiannya untuk berjuang dalam iqamatuddin.

Janganlah kita seperti isteri Nabi Luth ‘alayhisallam, dimana Allah SWT membiarkan dirinya dalam kekafiran. Sang isteri yang menyusahkan Nabi Luth as dengan membocorkan kedatangan para tamu suaminya itu dibiarkan terjebak dalam reruntuhan yang membinasakan lagi menghinakan. Dan juga tidaklah sedikit kaum lelaki yang tergelincir dari medan jihadnya dikarenakan ketidaksabaran seorang isteri yang ia cintai. Tidak! Bukan disebabkan oleh ketidaksabaran para mujahid untuk berjuang, tetapi seringkali isteri tercintalah yang menjadi penghalang baginya dalam mengemban tugas suci, jihad. “Wahai orang-orang beriman sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka),sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 14-15).

Maka merasa beruntunglah wahai ummahat shalihah, karena bersama denganmu jiwa-jiwa militan para pejuang tumbuh lalu berkembang. Melalui kebersamaan yang singkat dengan suami yang dicintai, diri ini mampu belajar untuk kuat lagi mandiri dalam menghadapi ujian sehari-hari. Bayangan-bayangan tentang peluru yang menghampiri para suami di medan pertempuran mampu menjadikan pribadi ini berserah diri dalam munajat doa kepada Allah SWT

Lalu bersabarlah ya ukhti shalilah, tatkala orang-orang kafir itu menzhalimi suamimu hingga mendatangkan kesedihan dalam hati ini. Ingatlah bahwa Allah  senantiasa bersama orang-orang yang bersabar dan membalas kesabaran itu dengan ganjaran yang pantas. Yakinlah bahwa makar yang ditetapkan oleh musuh-musuh Allah SWT kepada para mujahid tidaklah kekal hingga tak patut mengguncangkan keimanan ini. “Ingatlah ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad saw) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya mereka. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS.An Anfal:30).

Marilah kita belajar dari kemuliaan salah seorang isteri Rasulullah SAW, yakni Khadijah binti Khuwailid radiyallahu’anhu. Tidaklah beliau mendustakan risalah yang suaminya emban, melainkan menjadi peneguh Nabi Muhammad tatkala orang-orang mencela dan mendustakan. Ia mampu menghibur kegalauan suaminya ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya. Bahkan ia ikhlas berkorban harta dan jiwanya untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah yang haq ini.

Duhai para isteri mujahid… Berbahagialah lalu bersabarlah menemani perjuangan suami dalam upaya menegakkan dien ini. Bisa jadi diri ini akan merasakan kesempitan, kelelahan, dan kerinduan yang teramat besar, tetapi yakinlah bahwa jual beli dengan Allah SWT tidak akan mungkin merugi. Tunjukkanlah kepada Sang Pencipta bahwa diri ini merupakan bagian yang teramat penting dalam upaya memuliakan syari’at Allah di muka bumi. Wallahu’alam bish shawwab.

Facebook Comments
Tags:
Rate this article!

Related Posts